Politik Itu Dinamis

Ahmad Hafisz Thohir, Politisi PAN

Sabtu, 20/12/2014

NERACA

Ahmad Hafisz Thohir memang belum setenar sang Kakak, Hatta Radjasa. Politisi PAN ini sebelumnya banyak berpolitik di tingkat lokal propinsi.Dengan kegigihan dalam berpolitik kiprahnya terus melonjak.

Hafisz pernah menjadi Calon Wakil Gubernur Sumatera Selatan berpasangan dengan Mantan Kapolda Sumatera Selatan Irjen Pol Iskandar Hasan. Sayang nasib belum berpihak.

Karena sudah terlanjur basah terjun ke politik, akhir Hafisz memberanikan diri menjadi caleg PAN dari Daerah Pemilihan Sumatera Selatan I, yang meliputi Riau, Sambas dan Palembang. "Sebenarnya saya berpolitik di PAN, sejak 2001 lalu, jadi bukan dalam waktu instans," kata Hafisz Thohir yang saat ini mengaku ditugaskan Fraksi untuk duduk di Komisi VI DPR.

Menurut Hafisz, Komisi VI DPR ini sangat cocok dengan dirinya yang berlatar belakang pengusaha. "Concern saya di industri kecil, misalnya pengusaha rotan. Industri kecil harus didukung dengan pemberian fasilitas dari pemerintah agar dapat bersaing dengan negara luar," terang lelaki kelahiran Palembang 10 Juni 1966.

Salah satu contoh kekalahan industri kecil nasional, lanjut Hafisz lagi, soal kemasan produk yang seharusnya ditata semenarik mungkin agar dapat bersaing dengan produk luar. Karena produk luar negeri sangat memperhatikan kemasan.

"Dari penampilan produk saja kurang bagus, lalu bagaimana orang mau membeli. Beda dengan produk luar negeri, soal kemasan menjadi yang utama," papar wong kito.

Diakui Hafisz, dirinya telah menyiapkan sejumlah langkah-langkah konkret guna mendorong kemajuan industri kecil agar produknya bisa bersaing. "Terlebih lagi, dulu saat membangun usaha banyak mengalami berbagai ketidakadilan dari sebuah kebijakan. Itulah yang membuat saya tertarik membantu UKM," pungkasnya.

Peran OrangTua

Sebenarnya orang tua, menginginkan dirinya masuk ke Universitas ITB, karena orang tua terinpirasi dengan Ir. Soekarno yang dulunya lulusan ITB juga maka itu orang tuanya mengginkan dia masuk ke sana, namun keingginan itu tidak tercapai karena tidak lolos masuk ITB.

Karena tidak bisa masuk ITB dia masuk ke universitas Parahiyangan namun sama judulnya arsitek juga, namun dengan masuknya di Universitas Parahiyangan orang tuanya tidak kecewa, malah dia terus mendukung karier Hafizs.

Setelah melengang di DPR priode 2014-2019 Hafizs mengaku mulai meningalkan dunia bisnis dan mulai fokus menjadi anggota DPR.

Dengan dipercayai menjadi ketua komisi VI, Hafizs mengaku mempuyai tanggung jawab yang besar pada rakyat terutama yang mencakup BUMN dan Perdagangan, Ekonomi, dan Industri.

Ia ingin industri kita dapat bersaing dengan negara luar, kita bisa mengangkat daya saing industri kita pada pasar global. Maka itu kami di komisi VI akan melakukanpercepatan UU di bidang industri dengan ekonomi kerakyatan, ini yang akan berhubungan langsung dengan terbukanya keran pada pasar bebas pada tahun 2015.

Saya di komisi VI akan memperjuangan aset negara ini, agar bisa kita manfaatkan dengan sebesar-besarnya untuk rakyat, yang saya lihat adalah aset negara ini hanya dinikmati segelintir kepentingan untuk segelintir orang-orang tertentu, bahkan kita sudah melihat ada aset negara yang sudah di privatetisasi entah melaui IPO yang pembelinya orang-orang itu juga bukan rakyat Indonesia yang menikmati.

Hafizs mengaku banyak belajar dalam dunia politik yang tidak harus mementingan urusan pribadi maupun urusan organisas, itu harus ada kaitannya dengan kepentingan bangsa.