Tahun Depan Pasar Obligasi Stagnan

Krisis Keuangan Berlanjut

Kamis, 18/12/2014

NERACA

Jakarta – Begitu optimisnya bila nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada tahun depan akan kembali menguat dan kembali menembus Rp 12.000 per dollar AS, namun berbeda sebaliknya dengan nilai penerbitan surat utang (obligasi) korporasi akan berjalan datar (flat) di 2015, sama dengan penerbitan obligasi di 2014.

Direktur PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI), Wahyu Trenggono mengatakan, berdatarnya nilai obligasi tahun depan dikarenakan krisis keuangan masih mengganggu pertumbuhan ekonomi yang menjadi melambat,”Pertumbuhan ekonomi di APBN 2015 masih sangat tinggi di level 5,8%, pemerintah terlalu optimistis, padahal pertumbuhan ekonomi sedang mengalami perlambatan,”ujarnya di Jakarta, Rabu (17/12).

Dia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi di Indonesia masih sangat dibantu oleh ekonomi Tiongkok dan India, karena kedua negara tersebut menjadi tujuan utama ekspor Indonesia. Padahal kedua negara itu sedang melambat. Faktor kedua, ekspor Indonesia masih didominasi oleh komoditi. Sementara sektor komoditi belum membaik,”Kita bergantung pada batu bara, sedangkan minyak mentah turun. Jika minyak mentah turun, batu bara yang lagi turun, jadi pada beralih ke minyak mentah," ungkapnya.

Menurut Wahyu, dengan adanya dua faktor tersebut, maka berimbas kepada penerbitan obligasi di tahun depan. Hal itu juga ditandai dengan rupiah yang melemah terhadap dollar AS sampai tahun depan dan akan terjadi krisis keuangan,”Pada tahun depan ada Rp33,74 triliun yang jatuh tempo. Penerbitan obligasinya hanya 1,5 kali,”ungkapnya.

Dia juga mengungkapkan, nilai kapitalisasi di pasar domestik masih sangat sedikit, jika dibanding dengan negara kawasan yang ada di Asia Tenggara,”Duit masih sedikit di pasar, secara umum pasar kita masih dangkal. Karena kapitalisasi masih kecil, baik kapitalisasi saham-saham asing dan domestik,”tuturnya.

Kemudian dengan hadirnya Indonesia Bond Indexes (INDOBex), lanjutnya, diharapkan pelaku pasar atau investor bisa lebih tertarik untuk masuk ke pasar obligasi. Hal itu dikarenakan acuan INDOBex sangat jelas yang telah bekerjasama dengan Otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI).

Sebelum ada INDOBex, Wahyu menegaskan, investor mengacu pada tiga indikator index bond, seperti HSBC dan lainnya. Ketika INDOBex ada, investor bisa lebih mempercayai semua data yang ada. Asal tahu saja, saat ini nilai kapitalisasi pasar modal Indonesia masih sebesar Rp47 triliun secara year to date (ytd). Angka tersebut terbilang masih sangat kecil, jika dibandingkan dengan negara-negara yang ada di kawasan Asia Tenggara, seperti Malaysia dan lainnya.

Sepanjang tahun ini, PT Bursa Efek Indonesia mencatat total emisi obligasi maupun sukuk mencapai Rp45,29 triliun, yang disumbang dari 46 emisi dari 34 emiten. Disebutkan, total nilai penerbitan obligasi tersebut bertambah dengan dicatatkannya Obligasi Berkelanjutan I SAN Finance Tahap II Tahun 2014, yang diterbitkan PT Surya Artha Nusantara Finance. (bani)