Pemerintah Yakin Ekonomi Tak Terimbas

Rupiah Makin Melemah

Kamis, 18/12/2014

NERACA

Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla menegaskan bahwa ekonomi Indonesia tidak berkaitan dengan melemahnya nilai tukar rupiah yang melemah tajam terhadap dolar Amerika Serikat. "Kita optimis ekonomi kita lebih kuat dari sebelumnya," katanya di Jakarta, Rabu (17/12).

Menurut dia, pelemahan rupiah terjadi bukan karena keadaan ekonomi Indonesia yang memburuk. “Saya dan Presiden Joko Widodo memimpin rapat ekonomi terbatas yang membahas bahwa isu ekonomi yang paling pokok adalah penilaian kita. Evaluasi kurs rupiah, APBN dan rapat dengan pendapat," tukasnya.

Jusuf Kalla menjelaskan, pelemahan ini dikarenakan positifnya perekonomian AS yang membuat mata uangnya pun menguat, sehingga dampak pelemahannya terjadi kepada semua mata uang di negara mana pun.

"Tidak ada hubungan (pelemahan ini) dengan ekonomi Indonesia. Berita baiknya adalah rupiah melemah dibandingkan ringgit Malaysia, yen Jepang, rubel Rusia dan dolar Australia. Tapi dengan won Korea kita lebih baik,” klaim Jusuf Kalla.

Nilai tukar rupiah dalam beberapa hari terakhir mengalami pergolakan hebat hingga ke Rp12.900 per dolar AS. Level yang belum pernah terlihat sejak krisis 1997-1998 silam. Meski demikian, gejolak rupiah ini hanya temporari dan diperkirakan pulih pada 2015 mendatang.

Pada kesempatan berbeda, Ekonom Standard Chatered Bank, Eric Alexander Sugandhi menilai, kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang sempat hampir menyentuh di level Rp13.000 per dolar AS dianggap sudah tidak sesuai dengan fundamentalnya.

Menurut dia, kondisi nilai tukar rupiah berdasarkan fundamentalnya berada di level Rp12.200 per dolar AS. “Jadi, untuk rupiah saya melihat saat ini tidak sesuai dengan fundamentalnya. Seharusnya rupiah tidak selemah seperti sekarang. Fundamental rupiah itu di kisaran Rp12.000-Rp12.200 per dolar AS,” tambah Eric.

Namun, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar masih sejalan dengan depresiasi mata uang negara lain. Selain itu, pelemahan kurs dinilai masih bersifat situasional. “Kita sebenarnya masih lebih baik dari negara lain. Jadi saya tidak sependapat jika rupiah disamakan dengan pelemahan mata uang yang lain,” tukasnya.

Lebih lanjut dia menambahkan, hingga akhir tahun ini rupiah diperkirakan berada pada level Rp13.000 per dolar AS. Akan tetapi Eric optimis, dengan segala kebijakan otoritas moneter bersama pemerintah diharapkan mampu membuat nilai tukar rupiah kembali menguat di tahun depan.

“Penguatan rupiah akan terjadi secara bertahap. Kuartal I-2015 diperkirakan akan berada di Rp12.300 per dolar AS. Kemudian kembali melemah di kuartal II dan kuartal III 2015 menjadi Rp12.500 dan Rp12.200 per dolar AS. Namun membaik menjadi Rp11.900 per dolar AS pada kuartal IV 2015,” tegas Eric.

Menurut Deputi Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, pertumbuhan bisa mencapai 5,8% tergantung tiga hal. Masalah global, infrastruktur dan anggaran. Pertama, seberapa jauh pemulihan ekonomi global, khususnya AS. "Itu yang akan membawa ekspor kita membaik," katanya.

Kedua, adalah bagaimana pemerintahan baru dapat membangun percepatan infrastruktur. Sebab, hal itu akan menciptakan investasi. Ketiga, terkait dengan anggaran. “Mampukah pemerintahan baru menyiapkan anggaran sesuai harapan menjangkau pertumbuhan tersebut? Masih diliputi ketidakpastian," ungkap Perry, mempertanyakan. [agus]