Pengaruh Makna Kualitas dan Kuantitas

Oleh: Aries Musnandar, Dosen PTN

Kamis, 18/12/2014

Kualitas dan kuantitas adalah dua hal yang berbeda secara diametral. Jika kuantitas terkait dengan jumlah, angka atau kerapnya suatu fenomena itu muncul maka kualitas lebih berbicara pada persoalan substansial, mutu dan atau esensi dari suatu fenomena yang muncul. Dalam dunia penelitian akademik dikenal dua istilah tersebut kuantitatif dan kualitatif. Pada penelitian kuantitatif biasanya terkait dengan keluasan dan signifikansi hasil statistik dari obyek yang diamati atau maksud dan tujuan dalam penelitian. Sementara itu pada penelitian kualitatif disasar pada kedalaman dan "kekhususan" obyek yang diamati dalam penelitian tersebut.

Pendekatan kuantitif yang acapkali tampak dalam keseharian cara pandang masyarakat tak bisa dipisahkan dari andil keberhasilan ilmu-ilmu pasti alam yang berhasil menumbuh-kembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) bagi manfaat umat manusia hingga kini. Keandalan pendekatan kuantitatif yang dalam sejarah keilmuwan sudah terbukti hasilnya langsung atau tidak langsung turut mempengaruhi cara berpikir ilmuwan sosial dalam menumbuh-kembangkan ilmu-ilmu sosial, seni dan kebahasaan. Tata cara kuantitatif yang biasa dan kaprah dilakukan oleh ilmuwan pasti alam (eksakta) juga digunakan oleh banyak ilmuwan sosial.

Mengguritanya pengaruh paradigma kuantitif pada akhirnya membawa cara pandang tertentu bagi masyarakat luas dalam melihat beragam persoalan. Masyarakat akan melihat hanya "tepi" saja dari fenomena sosial yang muncul. Misal, terjadi polemik tentang kebrutalan pelajar di ruang-ruang publik yang ditanggapi oleh penguasa kebijakan pendidikan sebagai bagian kecil saja dari keseluruhan pelajar yang ada di Indonesia ini. Menurut para pejabat pendidikan pelajar nakal dan kriminal jumlahnya tidak cukup signifikan untuk menyimpulkan bahwa pendidikan telah gagal membentuk karakter beradab pelajar karena jumlah pelajar yang tawuran atau melakukan berbagai aksi kekerasan lainnya sangat sedikit dibandingkan jutaan pelajar lain yang tidak berbuat hal serupa. Pendapat seperti ini menurut hemat saya merupakan hasil dari pengaruh cara pandang kuantitatif yang melekat pada diri para elite kita sejak mereka mendapat pembelajaran di sekolah/universitas yang senantiasa mengagung-agungkan pendekatan kuantitatif.

Padahal berdasar pendekatan kualitatif kenakalan remaja dan pelajar yang marak disejumlah daerah di Indonesia mesti dicermati sebagai sesuatu yang luar biasa dan bisa jadi menunjukkan kegagalan dunia pendidikan kita dalam membentuk akhlak dan budi pekerti agung yang seharusnya melekat erat dalam diri pelajar. Penyimpangan yang terjadi dalam kehidupan pelajar di ruang publik berapapun tingkat frekuensi kejadiannya patut dicermati dan dipelajari dengan baik karena merupakan peringatan bagi pengambil kebijakan pendidikan. Dalam pendekatan kualtitaif kejadian yang muncul harus segera diwaspadai apalagi kualitas perbuatan yang dilakukan semakin hari semakin "canggih", sehingga yang mesti diantisipasi dan menjadi pelajaran adalah kualitas perbuatan buruknya itu ketimbang jumlah kuantitatif dari perbuatan yang dilakukan pelajar.

Salah kaprah dalam melihat fenomena yang dihasilkan dari pengaruh kuantitatif ini juga dapat terlihat dari cara masyarakat menilai kualitas suatu sekolah. Banyak awam menganggap sekolah favorit itu adalah sekolah yang memiliki banyak fasilitas, megah bangunannya, beroerintasi pada inteletualitas belaka. Oleh karenanya pelajar teladan selalu dlihat dari keunggulan nilai-nilai di sekolah. Cara melihat seperti ini sedikit banyaknya dipengaruhi oleh cara pandang kuantitatif. Dari sudut pandang ini maka pelajar dianggap sebatas sebagai obyek yang mesti menguasai ilmu tetapi tidak menganggap hasil karakter pelajar sebagai suatu hal penting dari penguasaan ilmu. Kerap kita saksikan di masyarakat masyarakat yang dianggap pintar dan berpendidikan namun ternyata kerap bermasalah di ruang-ruang publik. Hal ini menurut hemat saya oleh karena salah kaprah dalam memahami makna pendidikan secara benar dan telah dirasuki oleh stigma keunggulan kuantitatif itu. (uin-malang.ac.id)