Telkomsel Operasikan 5 BTS di Perbatasan

Kamis, 18/12/2014

NERACA

Jakarta - Telkomsel meresmikan beroperasinya lima BTS (Base Transceiver Station) di wilayah perbatasan Indonesia – Malaysia. Peresmian dilakukan di Desa Tiong Ohang, Kecamatan Long Apari Kabupaten Mahakam Ulu, Provinsi Kalimantan Timur oleh Direktur Utama Telkomsel, Alex J. Sinaga dan Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, Rudiantara.

Dengan bertambahnya lima BTS perbatasan yang sudah on-air di daerah Tiong Ohang, Long Layu, Agung Baru, Long Apari dan Long Lunuk, maka jumlah BTS Telkomsel di wilayah perbatasan Indonesia – Malaysia di pulau Kalimantan berjumlah 41 BTS, yang tersebar mulai dari Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.

Direktur Utama Telkomsel, Alex J Sinaga mengatakan Telkomsel sebagai operator selular terbesar di tanah air berkomitmen untuk terus menghadirkan layanan komunikasi kepada masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke hingga titik-titik terluar dan daerah perbatasan. “Dalam membangun BTS, Telkomsel tidak hanya melihat aspek bisnis dan ekonomi, namun juga dalam upaya menjaga kesatuan NKRI, khususnya di daerah perbatasan,” ungkap Alex seperti dalam keterangan yang diterima, Rabu (17/12).

Lebih lanjut lagi, Alex menjelaskan sekalipun penyediaan jaringan telekomunikasi di daerah perbatasan memiliki tantangan yang sangat luar biasa mengingat beratnya medan yang harus ditempuh menggunakan kombinasi transportasi darat, sungai dan udara, namun hal amat penting agar akses telekomunikasi dapat dirasakan secara merata oleh seluruh rakyat Indonesia, sehingga akan membuka berbagai peluang dan kesempatan masyarakat untuk berkembang melalui perputaran informasi.

Hingga saat ini, lebih dari 83,000 BTS Telkomsel tersebar di berbagai wilayah Republik Indonesia, dan mampu menjangkau hingga 97% populasi Indonesia. Guna penggelaran jaringan yang merata hingga ke pelosok, Telkomsel telah melakukan beberapa upaya seperti menyediakan 687 COMBAT (Mobile BTS) yang mampu masuk ke lokasi-lokasi yang membutuhkan percepatan penggelaran jaringan namun kurang mendukung dari sisi ketersediaan lahan, serta ketersediaan BTS di 16 Kapal PELNI, sehingga penumpang tetap dapat berkomunikasi sekalipun sedang berada dalam perjalanan di kapal laut.

Sebelumnya, Manager Umum ICT Telkomsel Kalimantan, Ardhiono Trilaksono mengatakan bahwa pembangunan lima BTS Telkomsel ini guna melengkapi 6 unit BTS perbatasan lainnya yang sudah terbangun dan berlokasi di Long Ampung, Berang, Long Manyu, Long Pujungan, Data Dian, dan Long Nawang. Total keseluruhannya, Telkomsel nantinya akan memiliki 11 unit BTS yang membuka isolasi jaringan komunikasi warga perbatasan dengan dunia luar. “Akhir 2014 nanti kami harapkan seluruh BTS sudah bisa beroperasi,” paparnya.

Pembangunan BTS ini, kata Ardhiono, merupakan hasil kerja sama antara Telkomsel dan pemerintah daerah setempat. Telkomsel dalam hal ini hanya menyiapkan teknologi maupun sewa jasa jaringan satelit saja. “Kami bekerja sama dengan Kabupaten Mahakam Ulu, Malinau, dan Nunukan,” ujarnya. Masing-masing daerah menyiapkan fisik pembangunan BTS, tower beserta pasokan kelangsungan solar untuk gensetnya mencapai 200 liter per bulan untuk masing-masing BTS. Keberadaan BTS ini nantinya mampu menjamin jaringan telepon Telkomsel di area perbatasan Kalimantan Timur dengan Malaysia.

“Sebelumnya warga harus kreatif sendiri membuat penguatan sinyal dengan kabel yang dipasang di atas puncak pohon yang tinggi. Sekarang dengan BTS ini jaringan Telkomsel akan lebih kuat,” tuturnya.

Meskipun mendapatkan sokongan dari pemda setempat, Ardhiono menyatakan Telkomsel tetap merugi dari investasi ini. Dia memperkirakan nilai kerugian mencapai Rp 50 juta per BTS akibat rendahnya nilai pemasukan dibandingkan biaya operasional per bulannya. “Pemasukan di perbatasan hanya Rp 50 juta sedangkan untuk sewa jaringan satelit saja mencapai Rp 100 juta per bulan,” ungkapnya. Meski begitu, dia menegaskan Telkomsel berkewajiban memberikan layanan telekomunikasi pada seluruh warga masyarakat termasuk di wilayah pelosok perbatasan. Telkomsel merupakan anak usaha PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk, perusahaan operator pelat merah.

BTS LTE 4G

Disisi lain, Telkomsel juga akan menambah 100 BTS LTE 4G. Penambahan ini dilakukan untuk menambah kapasitas layanan 4G di Jakarta dan Bali. Senior Vice President LTE Project, Hendri Mulya Syam dalam keterangan persnya mengatakan, penambahan BTS LTE-4G untuk menambah kapasitas jaringan, guna meningkatkan pelayanan kepada pelanggan. "Dengan rencana penambahan 100 BTS itu, maka Telkomsel akan mengoperasikan sebanyak 300 LTE-BTS," kata Hendri.

Selain itu, jelasnya, operator terbesar di Indonesia tersebut juga mengincar sejumlah kota-kota selain Jakarta dan Denpasar untuk penetrasi teknologi telekomunikasi terbaru tersebut. “Tahun depan jelas akan masuk ke kota-kota lain. Itu bagian dari rencana layanan LTE-4G Telkomsel,” ujar Hendri yang masih enggan merinci nama kota-kota tersebut.

Ia menjelaskan, respon masyarakat terhadap layanan 4G sangat positif. Hal ini diperkirakan karena di Indonesia sendiri ada sekitar 3-4 juta orang yang telah menggunakan smartphone 4G. “Pada 4G ini rata-rata digunakan untuk musik, game dan video. Trennya cukup baik, ada pelanggan yang biasanya mengunduh musik di Youtube sebanyak 1-2 kali, setelah ada 4 G jadi naik sebanyak 8 kali,” ujarnya.

Pada 2015 mendatang, jelas Hendri, pihaknya menargetkan bisa merangkul sebanyak 3 juta pelanggan untuk mengoperasikan layanan LTE-4G. “Diperkirakan pada semester kedua 2015 nanti akan banyak produsen smartphone lokal, harganya pasti jauh lebih murah. Di sini kami memperkirakan pertumbuhan LTE-4G akan jauh lebih besar,” ujarnya.