Dompet Dhuafa-ACT Peduli Korban Longsor Banjarnegara

Sabtu, 20/12/2014

Kondisi tanah yang masih labil membuat evakuasi tersendat, lantaran harus mewaspadai terjadinya longsor susulan.Selain itu, akibat amblesnya jalan di sejumlah titik di lokasi kejadian dan hanya dapat dilalui kendaraan roda dua juga menjadi salah satu penghambat pengiriman alat berat ke lokasi longsor

NERACA

Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi bencana yang sangat tinggi. Dalam kurun waktu satu bulan awal tahun 2013 lalu, bencana alam yang terjadi di Indonesia terbilang cukup banyak, seperti tanah longsor, banjir, banjir bandang, kebakaran, gempa bumi, kecelakaan transportasi, gelombang pasang dan puting beliung. Berdasarkan data dari BNPB, tren bencana di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun.

Salah satu bencana alam yang baru saja terjadi adalah bencana longsor di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara Jawa Tengah. Dampak yang ditimbulkan tidak hanya merusak pada bidang ekonomi dan lingkungan saja, namun juga berdampak dibidang sosial. Dampak dalam bidang sosial mencakup kematian, luka-luka, sakit, hilangnya tempat tinggal dan kekacauan komunitas.

Berdasarkan pantauan Neraca, hingga hari ke-4 pasca terjadinya longsor, sedikitnya korban jiwa yang tewas mencapai 64 orang dan diperkirakan akan terus bertambah. Sekitar 1.700 lebih jiwa korban longsor saat ini tengah mengungsi, tersebar di 48 titik pengungsian di Kabupaten Banjarnegara.

Sejak peristiwa bencana terjadi, berbagai elemen pemerintah atau lembaga swadaya masyarakat pun berbondong-bondong turut andil dalam upaya evakuasi korban tertimbun longsor.Beberapa diantaranya dari Lembaga kemanusiaan yang jugaLembaga Amil Zakat (LAZ)Dompet Dhuafa dan Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang segera bertindak ke lapangan sejak 12 dan 13 Desember 2014.

Dompet Dhuafa mengirimkan tim Disaster Management Center (DMC) untuk melakukan evakuasi korban tertimbun longsor, menurunkan tim medis dari Lembaga Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Purwokerto untuk mengobati korban luka yang selamat. Selain itu, Dompet Dhuafa juga menerjunkan tim Barzah untuk membantu keluarga korban meninggal dalam peulsaran dan pemakaman jenazah.

Manager Respon DMC Dompet Dhufa, Asep Beny menuturkan, proses evakuasi dan pencarian korban yang masih tertimbun material longsor cukup sulit karena terkendala medan yang berat serta faktor cuaca yang sering tidak mendukung.

“Sulitnya medan dan kondisi tanah yang masih labil membuat evakuasi tersendat, lantaran harus mewaspadai terjadinya longsor susulan.Akses menuju lokasi juga masih terkendala, akibat amblesnya jalan di sejulah titik di lokasi kejadian dan hanya dapat dilalui kendaraan roda dua. Hal tersebut menjadi salah satu penghambat pengiriman alat berat ke lokasi longsor,” terang Manager Respon DMC Dompet Dhufa, Asep Beny

Hal yang sama juga dilakukan oleh ACT. Tim Rescue Disaster Emergency and Relief Management (DERM) diterjunkan untuk melakukan evakuasi beberapa jenazah korban longsor yang tertimbun, mendistribusikan bantuan logistik yaitu: makanan siap saji, susu, sembako, pakaian layak pakai (PLP), selimut, air mineral, popok bayi dan pembalut wanita.

Untuk memudahkan melayani para korban, Tim DERM telah mendirikan 2 posko di dekat pengungsian. Posko pertamadi RT05/RW05, Desa Laksana, Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara, di samping Kantor Kecamatan Karangkobar. Sedangkan Posko kedua di Dusun Gayam, RT 03/RW06 No.14, Desa Karangkobar, Kecamatan, Kabupaten Banjarnegara.

“Kondisi para pengungsi cukup memprihatinkan, mereka sangat membutuhkan bantuan. Saat ini tim sedang mendirikan Dapur Sosial (Dapur Umum) untuk mensuplai kebutuhan pangan para pengungsi, selain itu tim Rescue juga berencana mendirikan shelter untuk pengungsi,” ujar Menurut Koordinator Rescue, Diding Fachrudin

Ulah Manusia

Bencana ini menarik perhatian banyak pengguna Twitter, tak kurang 86 ribu kicauan keprihatinan terpantau sejak kabar bencana menyeruak pada Jumat malam 12 Desember lalu. Beberapa tokoh nasional juga berkicau mengajak kepedulian masyarakat, di antaranya Hidayat Nur Wahid, Fahira Idris, dan Fajroel Rachman.

Menurut penyelidikan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), longsor adalah salah satu bencana hidrometeorologi. Faktor dominan penyebabnya adalah antropogenik atau ulah manusia. Di kawasan Dusun Jemblung, Desa Sampang, banyak anaman di atas bukit adalah tanaman semusim (palawija) dan tahunan yang tidak rapat.

“Budidaya pertanian dengan tidak mengindahkan konservasi tanah dan air, di mana tidak ada terasering pada lereng tersebut,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Hubungan Masyarakat BNPB, Sutopo Purwo Nugroho

Menurut Sutopo, materi penyusun bukit Telaga Lele, di Dusun Jemblung, merupakan endapan vulkanik tua sehingga solum atau lapisan tanah cukup tebal dan terjadi pelapukan. Selain itu, kemiringan lereng di bukit tersebut kurang dari 60%. Saat kejadian, mahkota longsor berada pada kemiringan lereng 60%-80%