Rupiah Limbung, Saham Garuda Telan "Pil Pahit"

Rabu, 17/12/2014

NERACA

Jakarta – Meski mengakhiri perdagangan Selasa kemarin, nilai tukar rupiah berhasil ditutup menguat Rp 12.645 per US$ akibat intervensi Bank Indonesia dibandingkan posisi transaksi Senin (15/12) Rp 2.705 per US$, kepanikan pelaku pasar di pasar modal belum bisa dikendalikan dan sebaliknya mereka mengambil aksi ambil untung (profit taking) sehingga memaksa indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali ditutup anjlok 82,404 poin (1,61%) ke level 5.026,028.

Tercatat seluruh sektor saham terkena tekanan jual. Tak satu pun sektor yang berhasil menguat. Aksi jual didominasi investor asing yang khawatir terhadap pelemahan kurs rupiah berlanjut. Menurut Director of Investment of PT Valbury Asia Asset Management, Andreas Yasakasih, pemicu utama pelemahan indeks BEI dari eksternal, di antaranya ekpspektasi kenaikan suku bunga AS dan menurunnya harga minyak dunia,”Ekspektasi kenaikan suku bunga AS yang lebih cepat dari perkiraan membuat investor terutama asing mengamankan aset-asetnya di pasar negara-negara berkembang. Hal ini dikarenakan rencana kenaikan Fed Rate membuat imbal hasil di AS lebih menarik," katanya di Jakarta, Selasa (16/12).

Di sisi lain, menurut dia, melemahnya mata uang rupiah terhadap dolar AS menambah sentimen negatif bagi pasar saham di dalam negeri. Penguatan dolar AS itu karena permintaan valas di dalam negeri cukup tinggi untuk pembayaran bunga utang menjelang akhir tahun. Kendati demikian, menurut Andreas, melemahnya IHSG BEI masih dinilai normal karena pemicunya bukan dari dalam negeri. Sehingga potensi untuk berbalik arah atau menguat cukup terbuka.

Memburuknya nilai tukar rupiah, rupanya menjadi pukulan telak juga buat kinerja keuangan PT Garuda Indonesia Tbk, dan tantangan tahun depan untuk keluar dari kerugian. Pasalnya, selama ini perusahaan maskapai penerbangan plat merah ini banyak melakukan transaksi dalam bentuk dolar AS.

Menurut analis PT Woori Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada, pelemahan rupiah dalam jangka panjang bisa berdampak negatif terutama biaya operasional emiten terutama menggunakan dolar. Selain itu, emiten memiliki utang berdenominasi dolar AS yang besar juga terbebani karena nilai tukar rupiah yang melemah terhadap US$, ”Sektor transportasi seperti Garuda Indonesia Tbk kena dampaknya. Ada juga Samudera Indonesia,” ujarnya

Reza menambahkan, saat ini sektor tambang dan perkebunan juga kena imbas karena rupiah melemah. Padahal menurut Reza, bila rupiah melemah akan untungkan sektor saham tambang dan perkebunan. Namun lonjakan dolar Amerika Serikat, hal itu berpengaruh ke pasar komoditas karena pelaku pasar cenderung memilih mata uang. "Pasar komoditas juga ikut pelemahan," kata Reza.

Hal senada dikatakan Kepala Riset PT Universal Broker Securites, Satrio Utomo. Menurut dia, pelemahan rupiah akan menambah beban utang emiten yang banyak berdenominasi dolar. VP Corporate Communication PT Garuda Indonesia Tbk. Pudjobroto menuturkan, biaya operasional di industri penerbangan sekitar 70% dalam US$. Dengan nilai tukar rupiah merosot terhadap dolar AS maka menjadi tantangan bagi perseroan,”Setiap pelemahan Rp 100 maka biaya operasional bisa naik sekitar US$12,8 juta," ujarnya.

Menurut Pudjobroto, saat ini perseroan telah melakukan hedging (lindung nilai) tetapi masih terbatas. Oleh karena itu, pihaknya mengharapkan gerak rupiah lebih stabil. "Kami harap rupiah stabil jangan fluktuaktif. Rupiah stabil maka kami dapat melakukan perencanaan," ujarnya.

Pada perdagangan kemarin, berjalan ramai dengan frekuensi transaksi sebanyak 347.762 kali dengan volume 8,345 miliar lembar saham senilai Rp 7,502 triliun. Sebanyak 67 saham naik, 262 turun, dan 56 saham stagnan. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Elang Mahkota (EMTK) naik Rp 1.200 ke Rp 7.200, SMART (SMAR) naik Rp 1.075 ke Rp 7.575, Lionmesh (LMSH) naik Rp 700 ke Rp 6.450, dan Blue Bird (BIRD) naik Rp 150 ke Rp 3.005. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Lion Metal (LION) turun Rp 2.000 ke Rp 8.100, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 1.225 ke Rp 58.500, Indocement (INTP) turun Rp 1.125 ke Rp 23.275, dan Maskapai Reasuransi (MREI) turun Rp 950 ke Rp 4.100 per lembar. bani