2015, Pertumbuhan Ekonomi 5,1 Persen - Proyeksi IMF

NERACA

Jakarta - Kondisi perekonomian global saat ini di mana harga minyak dunia terus anjlok dan kemungkinan peningkatan suku bunga AS tampak kurang mendukung pertumbuhan ekonomi di Tanah Air. Karenanya, Senior Advisor for Asia and Pacific Department dariIMFDavid Cowen memprediksi perekonomian Indonesia akan tumbuh dengan laju yang sama di tahun depan.

"Berbicara mengenai proyeksi pertumbuhan domestik bruto (PDB), saya rasa kita harus lihat dari perspektif yang lebih luas secara global. Dengan kondisi global yang kurang suportif, proyeksi kami, PDB Indonesia tahun depan masih bertahan di level 5,1 persen," kata Cowen di Jakarta, Selasa (16/12).

Cowen menjelaskan, itu merupakan kabar baik mengingat saat ini perekonomian Indonesia berada di tengah tekanan global dan peningkatan risiko seperti perlambatan ekonomi China dan pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat. Dia juga menyarankan Indonesia agar tidak hanya fokus mengejar target pertumbuhan dalam waktu singkat. "Biarpun ekonomi Indonesia diprediksi tumbuh dengan laju yang sama tahun depan, tapi itu sudah prestasi besar," tambahnya.

Namun Cowen menjelaskan, pemangkasan subsidi yang dilakukan pemerintah pada November 2014 akan memberikan ruang fiskal yang lebih luas tahun depan. Jika pengalihan subsidi BBM benar-benar dialihkan untuk pembangunan infrastruktur maka hal tersebut dapat membantu mendorong pertumbuhan PDB domestik. Diakui Cowen, masih butuh waktu cukup lama untuk Indonesia mempercepat laju pertumbuhannya ke level di atas 6 persen.

Proyeksi yang sama juga pernah dilontarkan oleh pengamat ekonomi Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan Standard Chartered Bank memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2014 secarafull yearberada pada kisaran 5,1 persen, atau lebih rendah dari target pemerintah sebelumnya di level 5,2 persen. Menurutnya, Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) serta kenaikan BI rate menjadi faktor utama menjadi pemicu tertekanya pertumbuhan tersebut.

Menurut Fauzi, kenaikan harga BBM yang dilakukan pemerintah pada tanggal 18 November 2014 merupakan kebijakan yang tepat untuk menyehatkan anggaran. "Dengan kenaikan premium dan solar masing masing Rp 2.000/liter bisa menghemat anggaran negara sebesar Rp 100 triliun" katanya.

Menurut dia, dana penghematan dari kenaikan harga BBM tersebut bisa digunakan untuk membangun proyek proyek infrastruktur. "Kenaikan harga BBM merupakan kebijakan yang sudah lama ditunggu pasar," kata dia.

Dia mengatakan, pada waktu masa kampanye, Presiden Joko Widodo berjanji akan mengalihkan subsidi BBM ke sektor yang lebih produktif. Janji tersebut akhirnya direalisasikan pada 18 November 2014 dimana pemerintah menaikan harga BBM, premium naik dari Rp 6.500 per liter menjadi Rp 8.500 per liter dan solar dari Rp 5.500 per liter menjadi Rp 7.500 per liter. "Kenaikan harga BBM tersebut membuat rupiah menguat, artinya pasar menyambut positif kebijakan pemerintah," kata dia.

Fauzi mengatakan, kenaikan BBM juga berdampak positif terhadap penurunan defisit transaksi berjalan yang selama ini menjadi permasalahan. Ia memperkirakan defisit transaksi berjalan pada tahun ini jauh lebih baik daripada tahun lalu dan diproyeksikan di bawah 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Di sisi lain, menurut Fauzi, kebijakan BI dalam menaikkan BI rate cukup baik untuk menjangkar laju inflasi agar tidak terlalu tinggi pascakenaikan harga BBM. Diketahui, setelah pemerintah menaikkan harga BBM, Bank Indonesia (BI) juga langsung merespons dengan menaikkan BI rate sebesar 0,25 basis poin dari 7,5 persen menjadi 7,75 persen. "Tujuan BI menaikkan BI rate memang untuk menjaga inflasi," ujar dia..

Fauzi memperkirakan pada semester pertama tahun 2015 pertumbuhan ekonomi masih tetap sama dengan tahun 2014 dan berada pada kisaran 5,0 persen, kemungkinan besar pertumbuhan ekonomi akan kembali meningkat pada semester dua tahun 2015 karena proyek proyek infrastruktur yang dilakukan pemerintah sudah mulai terasa.

Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada semester dua tahun 2015 berada pada kisaran 5,2 persen.

Menanggapi proyeksi itu, Ketua Tim Ahli Wapres Sofyan Wanandi mengatakan, pemerintah sejauh ini masih berharap PDB Indonesia berada di kisaran 5,5 persen hingga 5,8 persen. "Tahun ini dan 2015 memang sulit buat Indonesia, tapi pemerintah sudah melakukan berbagai upaya dan perbaikan yang diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi ke depan," katanya. [agus]

BERITA TERKAIT

Dana Desa Disebut Mampu Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi

  NERACA   Jakarta - Ekonom Ilya Avianti mengatakan bila pengelolaan dana desa mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga pertanggungjawaban…

Reformasi Struktural Ekonomi, Mulai dari Mana?

Oleh: Pril Huseno Mencermati pelemahan rupiah yang (kembali) terjadi dan semakin melebarnya current account deficit (CAD) Indonesia, suara-suara agar Indonesia…

Kepemilikan Asing Boleh 100% di 54 Sektor Usaha - PAKET KEBIJAKAN EKONOMI (PKE) KE-16

Jakarta-Pemerintah kini terbuka mengizinkan pihak asing untuk memiliki 100% saham di 54 sektor usaha setelah dikeluarkan dari Daftar Negatif Investasi…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Pentingnya Informasi Geospasial untuk Perencanaan Pembangunan

    NERACA   Jakarta - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro menekankan pentingnya informasi geospasial bagi perencanaan pembangunan…

ADB Setujui Pinjaman US$500 juta untuk Pemulihan Bencana

      NERACA   Jakarta - Bank Pembangunan Asia (ADB) menyetujui pinjaman bantuan darurat senilai 500 juta dolar AS…

Kawal Pengembangan Inovasi Obat dan Makanan Indonesia - Kolaborasi BPOM-RI &Kemenristek Dikti

    NERACA   Jakarta – Menurut Industry Facts and Figures 2017 yang dipublikasikan Kementerian Perindustrian, pada tahun 2016 industri…