Ekspor Batubara Ditargetkan 350 Juta Ton

Rabu, 17/12/2014

NERACA

Jakarta - Pemerintah menargetkan ekspor batubara minimal 350 juta ton pada tahun 2015 atau meningkat dibandingkan dengan prognosa 2014 sekitar 320 juta ton. Dirjen Mineral dan Batubara Kementerian ESDM R Sukhyar mengatakan, pihaknya menargetkan produksi batubara mencapai 460 juta ton pada 2015. “Dari produksi itu, sebanyak 110 juta ton untuk memenuhi kebutuhan konsumen di dalam negeri,” katanya di Jakarta, Selasa (16/12).

Dengan demikian, lanjutnya, sebanyak 350 juta ton lainnya merupakan konsumsi ekspor. Angka ekspor tersebut dengan catatan konsumen dalam negeri menyerap batubara sebanyak 110 juta ton. Berdasarkan data tahun-tahun sebelumnya, kuota kewajiban pasok ke dalam negeri (domestic market obligation/DMO) tersebut tidak terserap seluruhnya. Pada 2014, dari target DMO batubara 95 juta ton, kemungkinan hanya terserap sekitar 70 juta ton.

Menurut Sukhyar, produksi batubara 460 juta ton pada 2015 itu meningkat 35 juta ton dibandingkan rencana awal 425 juta ton. “Kenaikan produksi batubara ini untuk memenuhi peningkatan penerimaan negara,” katanya. Sukhyar mengatakan, pada APBN Perubahan 2015, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) untuk mineral dan batubara ditargetkan bertambah Rp10 triliun.

Pada APBN 2015, PNBP minerba direncanakan Rp40,6 triliun, namun direvisi menjadi Rp50,6 triliun dalam APBN Perubahan 2015. “Kenaikan PNBP Rp10 triliun itu diperkirakan 90 persennya berasal dari batubara,” katanya. Oleh karena itu, lanjutnya, pemerintah menaikkan target produksi menjadi 460 juta ton. Menurut dia, pemerintah tidak bisa berharap peningkatan PNBP dari harga batubara menyusul penurunan harga sekarang ini.

Data Ditjen Minerba Kementerian ESDM, harga batubara acuan (HBA) pada Desember 2014 sekitar 64 dolar AS per ton. HBA tersebut terus mengalami tekanan dibandingkan Januari 2014 yang masih 80 dolar per ton. Namun demikian, Sukhyar memastikan kenaikan produksi batubara tersebut sudah disesuaikan dengan daya dukung lingkungan. “Kami tidak main-main dengan lingkungan. Kenaikan ini sudah kami perhitungkan daya dukung lingkungan,” ujarnya.

Sumber Energi

Sementara itu, Ketua Working Grup Kebijakan Pertambangan Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi), Budi Santoso meminta agar batubara seharusnya dijadikan sebagai sumber energi. “Batubara bisa dijadikan sumber energi. Selama ini pemerintah dapat royalti dari batu bara hanya Rp8 triliun. Sedangkan untuk subsidi listrik yang sebagian besar berbahan batubara, pemerintah mengeluarkan kocek Rp20 triliun. Cara berpikir ini yang harus diubah,” tegasnya.

Ia meminta agar pemenrintah jangan hanya menjadikan batu bara sebagai bahan bakar PLTU saja. Tapi harus memperhatikan kebutuhan domestik rumah tangga. "Kita punya sembilan miliar ton batu bara. Itu cukup untuk memenuhi kebutuhan untuk 20 tahun lagi," kritiknya.

Selama ini, lanjut dia, rakyat butuh sumber energi yang terjangkau, murah dan bisa digarap dengan cepat. "Sistem logistik batu bara lebih murah dibanding sistem logistik sumber energi lain," papar Budi. Ia mencontohkan, pengangkutan batu bara dari Kalimantan ke Jawa bisa dibawa dengan truk bisa dan tidak membutuhkan truk khusus seperti minyak dan gas.

“Bawa batu bara dari Kalimantan ke Jawa hanya butuh pelabuhan. Dari pelabuhan akan disinergikan dengan truk biasa atau kereta ke masyarakat. Enggak perlu truk khusus,” bebernya. Oleh karena itu, mindset pemerintah yang menjadikan batu bara hanya sebagai sumber devisa negara, harus diubah.

Disisi lain, Ketua Umum Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI), Bob Kamandanu, memprediksi, harga batu bara tahun depan akan mencapai USD67 hingga USD70 per ton. “Sekarang ini diharga USD63 pengusaha sudah berdarah-darah. Kalau semua orang dorong pengurangan volume produksi, harga akan membaik lagi," ujarnya.

Bob menambahkan, produksi batu bara nasional tahun ini diperkirakan tak mencapai target. "Produksi tahun ini masih di atas 400 juta ton tapi tetap di bawah target pemerintah, 420 juta ton. Ini karena rendahnya harga batu bara," terang dia. Selain harga rendah, larangan ekspor batu bara turut membuat target produksi tak tercapai. "Target produksi tak tercapai juga karena ada regulasi larangan ekspor batu bara. Jadi kita enggak bisa ekspor. Tapi saya setuju kalau volume penjualan ke luar negeri di-cut karena bisa meningkatkan harga batu bara," ujarnya.

Sementara itu, untuk tahun depan, dirinya berharap agar target produksi bisa dikurangi demi mendongkrak harga. "Supaya harga batu bara kembali naik, produksi tahun depan di targetkan di bawah 400 juta ton. Kalau bisa dipangkas 100 juta ton," tutupnya.