Red Planet Siapkan Free Float Saham 49%

Tingkatkan Likuiditas

Rabu, 17/12/2014

NERACA

Jakarta – Perusahaan operator hotel yang dikendalikan oleh pemilik Air Asia Tony Fernandes, PT Red Planet Indonesia Tbk (PSKT) yang juga unit usaha Tune Group bakal melepas saham ke publik hingga sebesar 45,2%. Dengan demikian, jumlah saham yang beredar (free float) bisa mencapai 49% dari saat ini 3,8%.

Kata Direktur Utama Red Planet Indonesia, Suwito, peningkatan free float tersebut akan dilakukan dalam waktu dua sampai tiga tahun ke depan,“Kami akan menambah free float sampai 49%. Aksi ini tentu dilakukan bertahap, bisa dengan rights issue atau transaksi di antara para pemegang saham,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Tercatat per November 2014, Red Planet Holding Indonesia menguasai 65,67% saham Red Planet, PT CRIO Indonesia mengantongi 27,04%, publik 3,8%, dan sisanya dipegang oleh para direktur dan komisaris perseroan. Adapun jumlah pemegang saham perseroan sebanyak 336 pihak.

Suwito menjelaskan, pada kuartal I-2015, perseroan akan melangsungkan penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (non-HMETD) yang telah disetujui pemegang saham pada Agustus lalu. Perseroan berencana menerbitkan sebanyak-banyaknya 135,3 juta saham baru (10%) dari modal disetor.

Jika mengacu pada harga rata-rata penutupan saham Red Planet selama 25 hari bursa sebelum pengumuman rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) perseroan 25 Juli lalu, harga pelaksanaan minimal sebesar Rp 574 per saham. Dengam demikian Red Planet berpeluang mengantongi dana sebesar Rp 77,67 miliar.

Suwito menuturkan, sebagian dananya akan di gunakan untuk pembangunan tiga hotel di Jakarta tahun depan. Dimana investasi satu hotel berkisar antara Rp 70 miliar hingga Rp 100 miliar dan rencananya satu hotel rata-rata 120 kamar.

Dirinya mengharapkan, aksi penambahan saham publik akan memberikan keuntungan kepada perseroan. Aksi tersebut akan membuat saham perseroan menjadi likuid sekaligus memenuhi aturan free float Bursa Efek Indonesia. Selain itu, perseroan juga membutuhkan pendanaan untuk ekspansi di masa mendatang.

Salah satu sumber pendanaan yang akan dijajaki perseroan adalah penerbitan obligasi berdenominasi rupiah. Suwito menerangkan, perseroan berniat menerbitkan obligasi berkelanjutan sekitar Rp 300-500 miliar pada akhir 2015,”Kami akan melihat kondisi pasar. Kami harap nantinya dapat bunga obligasi yang lebih rendah ketimbang pinjaman bank,” ujar dia.

Tahun depan, Red Planet membidik membidik pendapatan sekitar Rp 80 miliar. Proyeksi itu mencerminkan kenaikan pendapatan sebesar 100% dibandingkan target tahun ini yang sebesar Rp 40 miliar.

Suwito menjelaskan, guna mengejar target, perseroan akan agresif mempromosikan nama Red Planet sebagai hotel bujet berkualitas. Saat ini, rata-rata okupansi hotel Red Planet sudah mencapai 80%,”Sebagai hotel bujet, kami punya aset sendiri. Red Planet bertindak sebagai pengembang, pemilik, dan pengelola seluruh hotel sendiri. Ini membuat pendapatan kami tidak berkurang, lantaran tidak harus membayar sewa kepada pihak ketiga,” jelas dia.

Dengan memiliki aset sendiri, lanjut dia, biaya operasional bisa terjaga. Saat ini, fixed cost perseroan hanya 26% dari total biaya operasi, sementara variable cost sekitar 74% dari total biaya operasi. Sepanjang kuartal III-2014, perseroan membukukan pendapatan Rp 28,42 miliar, naik 176% dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 10,31 miliar. Sedangkan EBITDA melesat 123% menjadi Rp 8,59 miliar dari Rp 3,85 miliar. Pertumbuhan ini dipicu oleh dibukanya tiga hotel di lokasi berbeda, yakni Palembang, Makassar, dan Surabaya. (bani)