Surga dari Negeri Mutiara Hitam - Festival Budaya Bahari Papua Supiori

Pulau Biak di Laut Pasifik memang telah jauh dikenal sebagai surga bawah air bagi para pecinta diving dari berbagai Negara. Meski begitu, tidak banyak masyarakat Indonesia yang mengetahui keindahannya, pulau biak masih menjadi surga yang tersembunyi. Di sana bertebaran taman bawah laut yang memukau ditemani kapal-kapal perang yang tenggelam sisa sejarah Perang Dunia II. Keramahan warga lokalnya yang bersahaja pun akan sanggup menggenapkan kesan dan ingatan kerinduan kita untuk kembali lagi.

Festival Budaya dan Bahari Supiori digelar selama dua hari pada 11-12 Desember 2014 di Korido, Kabupaten Supiori. Kegiatan di salah satu pulau terluar Indonesia di Laut Pasifik itu menghadirkan pameran karya kreatif warga dan potensi kelautan daerah di Supiori, Pulau Biak, Provinsi Papua. Acara festival dibuka oleh Drs. Roni Mamoribu (asisten dua Sekertariat Daerah Kabupaten Supiori) dan Maria Mayabubun (Kasubdit Promosi Tujuan Wisata V Wilayah Papua, Papua Barat, Maluku, dan Maluku Utara, Ditjen PPDN, Kementerian Pariwisata). Secara simbolis pemukulan tifa menjadi gong pembukaan acara diikuti penampilan tarian woor massal dan ritual adatbapenbeyerendengan menginjak batu karang panas yang dibakar.

Maria Mayabubun dalam sambutannya mengutarakan bahwa dengan kayanya potensi bahari, budaya, dan sejarah yang dimiliki Kabupaten Supiori maka tentunya perlu dijaga, dilestarikan, dikemas dan dimanfaatkan menjadi daya tarik wisata sehingga bisa menjadi pendapatan bagi masyarakat dan daerah. Berbagai potensi yang dimiliki Kabupaten Supiori belumbanyakdiketahui sehingga perlu diekspose agar mulai dikenal masyarakat luas, baik wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara.Selain promosi produk pariwisata perlu pula penataan obyek dan daya tarik wisata oleh Pemerintah Daerah, termasuk pelestarian alam dan lingkungan agar tetap dijaga.

Turut memeriahkan Festival Budaya dan Bahari Supiori dihadirkan perahu tradisional warga Biak yang dahulunya biasa digunakan selain untuk menangkap ikan juga sebagai perahu perang. Perahu tersebut diangkat bersama-sama oleh warga dari lokasi pembukaan acara ke Pantai Kolaka sebuah ritual adat di laut. Komunitas Diving Biak juga turut serta dalam acara festival ini. Mereka melakukan pengibaran bendera Merah Putih di bawah laut dan penanaman terumbu karang.

Selain itu, dalam festival dua hari tersebut turut serta pula 12 stand warga. Uniknya hampir semua peserta pameran menyusun rumah tradisional sebagai booth pameran. Hampir 90% bahan pembuat booth adalah bahan alam dan begitu pula tentunya segala karya kreatif warga berupa kerajinan yang bernuansa bahari.

Acara yang digelar di pinggir Pantai Kolaka tersebut juga ditampilkan menara kayu tempat menggantungkan buah pinang. Pinang sedianya dijadikan alat transaksi dalam sebuah acara bertajuk "Lelang Pinang". Supiori sendiri merupakan sebuah kabupaten termuda dan terkecil di negeri ini yang berada di Pulau Biak yang langsung menghadap laut lepas Samudera Pasifik.

Potensi wisata Supiori kaya dengan taman bawah laut yang tidak kalah dengan Raja Ampat dan Teluk Cendrawasih. Beberapa gugusan pulau di sekitar Supiori memiliki keanekaragaman biota laut menakjubkan seperti di antaranya Pulau Insungbabi, Pulau Rani, dan Pulau Munsaki. Kegiatan menyelam di Supiori terbilang istimewa karena arus di bawahnya tenang dibandingkan di Raja Ampat maupun Teluk Cendrawasih. Di Supiori ada pula sebuah teluk dangkal (Odori) yang dirimbuni hutan manggrove dengan beragam species burung dan tanaman anggrek langka yang belum teridentifikasi jenisnya.

Untuk menuju Supiori, kita yang datang dari bagian barat Indonesia dapat memanfaatkan penerbangan ke Pulau Biak. Berikutnya dari Kota Biak lanjutkan lewat darat dengan menyewa kendaraan atau angkutan (bus) selama 2 jam perjalanan. Alternatif lain, kita bisa memanfaatkan jalur laut selama 45 menit perjalanan dari Biak ke Supiori. Untuk akomodasi, selain di Biak, kita dapat bermalam di penginapan penduduk (homestay). Pastinya juga di Supiori yang kaya ikan siap memanjakan lidah dengan aneka hidangan olahan laut yang segar dan lezat.

BERITA TERKAIT

Stop Retorika HAM, Saatnya Fokus Pembangunan Papua

  Oleh: M. Aji Pangestu, Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta Menjelang peringatan Hari Kebesaran Kelompok Organisasi Papua Merdeka…

Genjot Belanja APBN Alkes Dalam Negeri - Tekan Kebutuhan Impor Alkes

NERACA Jakarta - Ketergantungan Indonesia pada alat kesehatan (alkes) impor masih relatif tinggi. Berdasarkan data izin edar yang diterbitkan oleh…

Generali Meriahkan Insurance Festival 2017

Sebagai wujud dukungan terhadap program pemerintah dalam meningkatkan literasi dan inkluasi keuangan, Generali Indonesia turut meramaikan Insurance Festival 2017 yang…

BERITA LAINNYA DI WISATA INDONESIA

Bangunan Peninggalan Belanda Jadi Alternatif Wisata Bromo

Bangunan tua peninggalan masa kolonial Belanda yang berada di lereng Gunung Bromo, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur bisa menjadi alternatif wisata…

Ini yang Perlu Anda tahu Sebelum Beli Tiket Murah

Berburu tiket murah sebelum bepergian memang menarik demi menghemat biaya perjalanan, tapi bagaimana agar semua bejalan lancar dan menyenangkan. Perusahaan…

Wisata Padang Ternak di NTT

Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur sedang menyiapkan sejumlah lokasi peternakan di daerah itu untuk dikembangkan menjadi kawasan wisata ternak."NTT miliki…