Pemerintah Akui Indonesia Alami Mini Krisis

NERACA

Jakarta - Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonegoro mengatakan posisi Indonesia saat ini tengah mengalami krisis kecil seperti pada pertengahan 2013 yaitu saat Amerika Serikat melakukan penarikan stimulus fiskal atau tappering off. Selain itu, negara emerging market seperti Rusia mengarah ke kolaps, sehingga menaikkan suku bunga hampir mencapai 17 persen.

"Ini terjadi akibat global memang. Ini yang akan kita susun langkahnya. Jadi akan ada antisipasi dari moneter," katanya di Jakarta, Selasa (16/12).

Saat ini, menurutnya pemerintah masih melihat pergerakan Rupiah terlebih dahulu. Selain itu, Kemenkeu bakal melakukan rapat koordinasi dengan Bank Indonesia dan OJK. "Intervensi kan hanya bisa di BI. BI melihat bagaimana ke depan," ujarnya.

Seperi diketahui, Nilai tukar Rupiah kembali melemah terhadap Dolar Amerika Serikat pada perdagangan hari ini. Rupiah melemah hingga mencapai Rp 12.900 dari penutupan perdagangan sebelumnya Rp 12.714 per USD. Pelemahan tersebut dinilai paling rendah sejak 1998 lalu. Pelemahan tersebut lantaran adanya perbaikan perekonomian AS dan kenaikan suku bunga The Fed.

Sementara itu, pada kesempatan berbeda, Kepala Ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti. Menurut dia, nilai tukar rupiah terhadap US$ tengah mengalami tekanan. Defisit transaksi berjalan (curent account) yang masih terus menggerogoti Indonesia menjadi masalah struktural. Perlu ada penyelesaian yang tidak hanya berasal dari kebijakan moneter semata. “Untuk itu, perlu adanya kebijakan yang komperehensif dalam rangka menekan curent account deficit dan mengembalikan rupiah pada level yang aman agar mampu mendorong pertumbuhan perekonomian Indonesia,” ujarnya.

Bila pada 2005 dan 2006 Indonesia mengalami defisit transaksi erjalan, lanjut Destry, dan dampaknya pada tekanan rupiah, tapi dalam waktu sebentar rupiah kembali normal. Begitu juga pada 2008-2009. Defisit yang terjadi bersifat sementara. Sedangkan defisit yang terjadi sekarang relatif berjangka waktu lama. “Kebijakan moneter saja tidak cukup. Kalau dulu ada defisit, BI Rate naik, lalu cepat normal. Kalau sekarang tidak, karena persoalannya struktural. Karenanya, tidak hanya kebijakan moneter, tapi juga harus ada kebijakan sektor riil”, katanya.

Sementara itu, ekonom Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Eko Listyanto menilai, jika nilai tukar rupiah terhadap US$ mencapai lebih dari Rp12.500, maka itu sudah masuk dalam kategori lampu kuning. “Jika dibilang lampu kuning, ya memang harus masuk dalam tahap kehati-hatian. Karena nilai tukar rupiah sangat terdepresiasi,” ujarnya.

Yang lebih memprihatinkan, kata dia, hingga saat ini pemerintah belum melakukan ancang-ancang terhadap pelemahan rupiah. “Pemerintah belum terlihat antisipasinya. Jika sudah punya rencana, seharusnya segera dipublikasikan agar pasar tidak melakukan aksi spekulatif yang justru bisa mengancam stabilitas nilai tukar rupiah, yang akibatnya depresiasi lebih tajam,” kata Eko.

Menurut dia, yang perlu dilakukan pemerintah adalah dengan memperkuat fundamental ekonomi. Pasalnya, fundamental ekonomi Indonesia terlalu lemah lantaran banyaknya produk impor di pasar Indonesia. “Sudah umum diketahui bahwa secara fundamental salah satu penyebab utama pelemahan rupiah adalah menurunnya neraca perdagangan, seiring dengan itu nilai tukar rupiah juga terdepresiasi,” jelas Eko. [agus]

BERITA TERKAIT

KABUPATEN SUKABUMI - Harga Kebutuhan Pokok Terus Alami Kenaikan

KABUPATEN SUKABUMI Harga Kebutuhan Pokok Terus Alami Kenaikan NERACA  Sukabumi – Harga kebutuhan pokok masyarakat di wilayah Kabupaten Sukabumi, Jawa…

Pemerintah Serap Rp20 Triliun dari Lelang SUN

      NERACA   Jakarta - Pemerintah menyerap dana Rp20 triliun dari lelang lima seri Surat Utang Negara (SUN)…

Kapolri - Indonesia Kembali pada Demokrasi Pancasila

Jenderal Pol Tito Karnavian Kapolri Indonesia Kembali pada Demokrasi Pancasila  Jakarta - Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian mengatakan Indonesia harus…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Gelombang Penolakan Akuisisi Pertagas oleh PGN

      NERACA   Jakarta - Gelombang penolakan terhadap keputusan pemerintah untuk mengakuisisi PT Pertamina Gas (Pertagas) oleh PT…

Teknologi Samsung untuk Penggemar Olahraga

  NERACA Jakarta – Masyarakat mulai mengganderungi olahraga. Berbagai macam jenis olahraga pun dilakoni asalkan mengeluarkan keringat. Hadirnya teknologi turut…

Aver Tawarkan Kemudahan Kolaborasi Di Era Digital

      NERACA   Jakarta - Pertumbuhan pesat dari industri digital di Indonesia telah mendorong munculnya tren Virtual Office,…