Rupiah Terkendali, IHSG Bakal Menguat

Rabu, 17/12/2014

NERACA

Jakarta – Kepanikan pelaku pasar terus terkoreksinya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS memicu aksi jual di pasar modal, walaupun nilai tukar rupiah berhasil ditutup menguat. Namun derasnya aksi jual, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) Selasa kembali tertekan sejak awal perdagangan hingga penutupan pasar. IHSG Selasa ditutup amblas 82,404 poin (1,61%) ke level 5.026,028. Sementara Indeks LQ45 jatuh 17,049 poin (1,94%) ke level 862,083.

Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat di posisi Rp 12.645 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan kemarin di Rp 12.705 per dolar AS,”Trigger utama pelemahan indeks BEI dari eksternal, di antaranya ekpspektasi kenaikan suku bunga AS dan menurunnya harga minyak dunia,”kata Director of Investment of PT Valbury Asia Asset Management, Andreas Yasakasih di Jakarta, Selasa (16/12).

Menurut dia, ekpsektasi kenaikan suku bunga AS yang lebih cepat dari perkiraan membuat investor terutama asing mengamankan aset-asetnya di pasar negara-negara berkembang,”Kenaikan Fed rate membuat imbal hasil di AS lebih menarik," katanya.

Di sisi lain, lanjut dia, melemahnya mata uang rupiah terhadap dolar AS menambah sentimen negatif bagi pasar saham di dalam negeri. Penguatan dolar AS itu karena permintaan valas di dalam negeri cukup tinggi untuk pembayaran bunga utang menjelang akhir tahun. Kendati demikian, menurut Andreas Yasakasih, melemahnya IHSG BEI masih dinilai normal karena pemicunya bukan dari dalam negeri. Sehingga potensi untuk berbalik arah atau menguat cukup terbuka.

IHSG pada perdagangan Rabu diperkirakan akan berpeluang menguat, seiring dengan mulai di intervensinya rupiah oleh Bank Indonesia (BI). Posisi terendah IHSG pada perdagangan Selasa (16/12) sempat disinggahi di level 5.005. Dana asing pun mengalir keluar dari lantai bursa. Transaksi investor asing hingga sore tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 1,245 triliun di seluruh pasar.

Perdagangan berjalan ramai dengan frekuensi transaksi sebanyak 347.762 kali dengan volume 8,345 miliar lembar saham senilai Rp 7,502 triliun. Sebanyak 67 saham naik, 262 turun, dan 56 saham stagnan. Bursa-bursa di Asia berjatuhan gara-gara sentimen penguatan dolar AS, rata-rata pelemahannya cukup dalam hingga lebih dari dua persen. Bursa saham Tiongkok satu-satunya yang menguat berkat rencana pemberian stimulus oleh pemerintah setempat.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Elang Mahkota (EMTK) naik Rp 1.200 ke Rp 7.200, SMART (SMAR) naik Rp 1.075 ke Rp 7.575, Lionmesh (LMSH) naik Rp 700 ke Rp 6.450, dan Blue Bird (BIRD) naik Rp 150 ke Rp 3.005. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Lion Metal (LION) turun Rp 2.000 ke Rp 8.100, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 1.225 ke Rp 58.500, Indocement (INTP) turun Rp 1.125 ke Rp 23.275, dan Maskapai Reasuransi (MREI) turun Rp 950 ke Rp 4.100.

Perdagangan sesi pertama, IHSG ditutup melemah 94 poin (1,85%) ke level 5.013,934. Sementara Indeks LQ45 amblas 16,041 poin (1,82%) ke level 863,091. Aksi beli masih terjadi di saham-saham perkebunan dan aneka industri, tapi tak mampu bawa IHSG positif. Indeks sama sekali tidak menyentuh zona hijau hingga siang.

Perdagangan berjalan ramai dengan frekuensi transaksi sebanyak 194.214 kali dengan volume 5,014 miliar lembar saham senilai Rp 4,025 triliun. Sebanyak 35 saham naik, 268 turun, dan 51 saham stagnan. Bursa-bursa regional rata-rata masih melemah hingga siang hari. Hanya bursa saham Tiongkok yang bisa positif berkat rencana pemberian stimulus oleh pemerintah setempat.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah SMART (SMAR) naik Rp 1.100 ke Rp 7.600, Bali Towerindo (BALI) naik Rp 100 ke Rp 2.150, Astra Internasional (ASII) naik Rp 50 ke Rp 7.075, dan Wicaksana (WICO) naik Rp 33 ke Rp 133. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Gudang Garam (GGRM) turun Rp 2.200 ke Rp 57.525, Indocement (INTP) turun Rp 1.175 ke Rp 23.225, Maskapai Reasuransi (MREI) turun Rp 1.010, dan Mayora (MYOR) turun Rp 825 ke Rp 21.925.

Diawal perdagangan, IHSG dibuka melanjutkan pelemahan sebesar 40,48 poin dipicu depresiasi pada mata uang rupiah terhadap dolar AS. IHSG BEI dibuka turun 40,48 poin atau 0,79% menjadi 5.067,95, dan indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 12,11 poin (1,38%) ke level 867,01,”Depresiasi kurs rupiah terhadap dolar AS masih akan membayangi pergerakan IHSG ditambah dengan aksi jual investor asing," kata Head of Research Valbury Asia, Alfiansyah.

Saat ini, lanjut dia, pelaku pasar menantikan respon pemangku kebijakan untuk bertindak guna meredam fluktuasi nilai tukar rupiah agar kembali berada dalam situasi yang stabil. Di sisi lain, lanjut dia, indeks bursa saham global yang kembali tertekan menambah sentimen negatif bagi bursa saham di dalam negeri,”Sentimen negatif bursa saham global serta pelemahan atas rupiah membuka peluang bagi IHSG untuk kembali ke area negatif pada perdagangan saham Selasa," katanya.

Dia menjelaskan, risiko eksternal lainnya terkait masalah kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS (Federal Reserve), situasi itu dapat mempengaruhi ekonomi di negara-negara berkembang salah satunya Indonesia. Associate Derector Head of Research and Institutional Business PT Trimegah Securities Tbk, Sebastian Tobing menambahkan bahwa pelemahan mata uang rupiah terhadap dolar AS menciptakan arus modal keluar,”Depresiasi rupiah yang sudah cukup dalam dapat menjadi kekhawatiran bagi investor,”paparnya.

Tercatat bursa regional, di antaranya indeks Bursa Hang Seng dibuka melemah 239,65 poin (1,04%) ke 22.788,20, indeks Nikkei turun 345,95 poin (2,02%) ke 16.747,63, dan Straits Times melemah 35,18 poin (1,07%) ke posisi 3.259,70. (bani)