Rokan Dukung Optimalisasi Potensi Kelautan

Rabu, 17/12/2014

NERACA

Jakarta – Program pemerintah di bawah Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk mengoptimalkan berbagai sumber daya kelautan perlu direspons positif masyarakat. Dukungan ini disampaikan Presiden Direktur Rokan Grup Rustian, saat ditemuai di Jakarta, Selasa (16/12).

“Sekarang ini momentum bangsa Indonesia untuk memberdayakan segala potensi kemaritiman yang telah lama dibiarkan tidur. Betul sekali langkah pemerintah Presiden Joko Widodo yang fokus ke laut,” kata Rustian. Potensi kelautan sudah lama didiamkan karena bangsa Indonesia terlena dengan kelimpahan minyak. Bangsa ini baru terkaget-kaget ketika minyak sudah nyaris habis. “Barulah kita ingat bahwa rakyat Nusantara ini memiliki kekayaan tak terkira di dalam laut. Selama kini kita membiarkan hal itu dikeruk maling-maling dari mancanegara,” tutur warga asli Bagan Siapi-api itu

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti sendiri memperkirakan, pencurian ikan mencapai 300 triliun pertahun. Jadi 10 tahun terakhir tidak kurang dari 3.000 triliun rupiah ikan Indonesia menjadi bancakan maling-maling dari luar negeri. Menurut Susi, jumlah tersebut jauh lebih dari cukup untuk melunasi utang negara yang ‘hanya’ sebesar 2.600 triliun rupiah.

Rustian semula bersama keluarga membangun industri perikanan di Bagan Siapi-api. Namun belakangan dia terjun ke bisnis sawit di bawah bendera Rokan Grup di Kalbar, Bengkulu, dan Riau. Sewaktu masih mengembangkan industri perikanan, pada era Orde Baru, dia sudah mengingatkan agar pemerintah membangun intermaritim. Hal itu dulu pernah disampaikan kepada Kepala Staf Angkatan Laut R Kasenda dan Ketua Badan Intelijen Strategis Benny Murdani, namun ditolak.

“Intermaritim adalah bentuk komunikasi. Praksisnya, kapal-kapal nelayan nasional diberi peralatan canggih, sehingga begitu melihat ada kapal asing bisa langsung dilaporkan ke pusat pengendali,” ujar Rustian. Sebagai warga Bagan Siapi-api, Rustian paham benar masalah industri perikanan sebab keluarga besarnya banyak berbisnis ikan laut. Namun dalam perkembangan dia terjun ke bisnis sawit.

Sebagaimana banyak diekspos, Bagansiapi-api pernah menjadi pelabuhan perikanan terbesar dunia dan nomor dua penghasil ikan dunia setelah Bergen, Norwegia. Menurut catatan, dalam setahun, ikan hasil tangkapan dari Bagansiapiapi mencapai sekitar 300.000 ton per tahun. “Meski sekarang maritim tengah naik daun, saya tetap akan menekuni bisnis sawit. Biar keluarga yang menjalankan bisnis perikanan,” katanya.

Kini menjadi era baru industri maritim. Pemerintah harus didukung sepenuhnya agar potensi laut dimanfaatkan seluruh rakyat, bukan maling-maling atau segelintir orang Indonesia yang mendukung pencurian ikan. “Kalau selama 10 tahun saja 3.000 triliun, berapa jumlah ikan yang dicuri sejak Orde Baru? Nilainya tak terkira,” tambah pengusaha yang dulu membantu pengungsi Vietnam di Pulau Galang ini. Rustian banyak membantu PBB menangani pengungsi tersebut.

Ditambahkan, sebagai negara bahari, kita itu lucu karena lama membelakangi laut. Nenek moyang yang telah banyak merintis hidup di laut mengalami ‘keterputusan’ karena bangsa ini terlena minyak. Kini saatnya menyambung kembali keterputusan itu dengan kembali ke laut agar kita Jalesveva Jayamahe, benar-benar jaya di laut.