Minyak Dunia dan Yield Obligasi

Selasa, 16/12/2014

Oleh : Tumpal Sihombing

CEO – Bond Research Institute

Harga minyak dunia sedang turun. Harga minyak dunia turun 20% lebih sejak OPEC memutuskan untuk mempertahankan target produksinya di pertemuan bulan lalu. Indikator Bloomberg Dollar Spot Index berada pada figur penutupan tertinggi sejak 2009. Apa yang akan terjadi dengan imbal hasil (yield) surat berharga? Ragam arian indikator dari komoditi harga minyak (Brent Crude, Nymex, Heating Oil) mengalami penurunan yang nyaris konsisten sejak Agustus 2014.

Secara umum jika harga BBM naik, laju inflasi juga naik. Jika laju inflasi naik, pemilik dana/investor pasti menuntut imbal hasil obligasi yang lebih tinggi untuk mengimbangi gerusan laju inflasi terhadap portofolio investasi mereka. Bottom line, harga minyak dunia turun sementara Pemerintah RI menaikkan harga BBM. Ini sikon kontradiktif. Lalu Apa dampak kontradiksi ini terhadap kondisi pasar obligasi domestik?

Baik pihak swasta maupun Pemerintah harus ekstra hati-hati dengan perimbangan porsi kepemilikan Rupiah vs Valas dalam portofolio dana kelolaan. Jika kontradiksi ini berlanjut, ketidakpastian pasti meningkat. Jika uncertainty meningkat, demikian juga risiko sistematik pasar obligasi global. Obligasi domestik (Rp + valas) banyak dimiliki investor asing, bahkan lebih dominan daripada investor domestik. Jika investor global menghadapi ketidakpastian jenis ini dalam skala global, mereka akan menghadapi 4(empat) skenario berikut, (1) menuntut yield portofolio yang lebih tinggi (2) merevisi komposisi portofolio kepemilikan obligasi berdasarkan tenor dan risikonya (3) konversi kepemilikan aset berisiko tinggi menjadi aset yang berisiko relatif lebih rendah (4) menarik dana kepemilikan mereka dari investasi di negara berkembang (developing countries) kembali ke negara asal (developed countries).

Dari keempat skenario ini, Pemerintah merasa paling gamang dengan nomor 4, skenario yang paling dihindari, suatu capital flight masif. Skenario 4 adalah momok yang sulit dikendalikan risikonya oleh pihak otoritas, membutuhkan waktu lama dan upaya berat untuk memulihkan perekonomian jika itu terjadi. Untuk skenario 1,2,3, Pemerintah saat ini masih mampu mengelola risikonya secara domestik melalui pengendalian ranah makro (moneter dan fiskal) serta dukungan penuh mikroekonomi domestik.

Imbal hasil obligasi domestik Pemerintah saat ini tak bergerak lincah, masih di kisaran 8% +/-0,25% untuk tenor 10 tahun denominasi Rp. Jika laju inflasi naik konsisten dalam jangka menengah, akan menyebabkan selisih gross antara yield dengan laju inflasi makin tipis. Kini laju inflasi telah menyentuh figur 6,23% yoy. Selain risiko ini, investor surat berharga juga harus berhadapan dengan risiko kurs akibat pelemahan Rupiah yang konsisten sejak beberapa tahun terakhir. Ingat, portofolio valas walau tak sebanyak rupiah, namun menjadi relevan karena banyak holder obligasi domestik adalah investor asing. Mereka adalah kategori investor yang mudah swing menjadi price-sensitive terhadap fluktuasi harga obligasi jika ada elemen risiko kurs di dalamnya.

Fokus Pemerintah kini yang berupaya menggenjot ekspor dan mengembangakan sektor riil adalah hal yang wajib dan urjen untuk keperluan pembangunan ekonomi jangka menengah-panjang. Namun selain itu, masih ada risiko tinggi capital flight dari industri jasa keuangan/pasar modal. Pemerintah harus lebih bijak dan berhati-hati dalam menghitung perimbangan serta eksekusi kebijakan portofolio efek surat berharga.