Rupiah Jeblok Bikin IHSG Ikut Anjlok

Selasa, 16/12/2014

NERACA

Jakarta – Mengakhiri perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) Senin awal pekan, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup anjlok 52,001 poin (1,01%) ke level 5.108,432. Sementara Indeks LQ45 ditutup jatuh 8,888 poin (1%) ke level 879,132. Jebloknya nilia tukar rupiah terhadap dollar AS menjadi sentiment negatif terhadap IHSG dan memicu aksi jual investor asing. Dana asing mengalir ke luar lantai bursa senilai Rp 771 miliar.

Analis Asjaya Indosurya Securities, William Suryawijaya mengatakan, tergerusnya bursa saham global dan terkoreksinya mata uang rupiah terhadap dolar AS mendorong indeks BEI tertekan cukup dalam,”Kombinasi sentimen dari dalam negeri dan eksternal mendorong pelaku pasar mengambil posisi lepas saham sehingga IHSG BEI tertekan," katanya di Jakarta, Senin (15/12).

Kendati demikian, menurut dia, terkoreksinya indeks BEI itu dapat dimanfaatkan investor untuk kembali mengakumulasi saham-saham yang telah turun harganya. Secara teknikal, indeks BEI masih akan bergerak menguat dalam jangka pendek ini.

Dia menambahkan bahwa Associate Derector Head of Research and Institutional Business PT Trimegah Securities Tbk, Sebastian Tobing menambahkan bahwa pelemahan mata uang rupiah terhadap dolar AS menjadi salah satu pengaruh bagi indeks BEI,”Depresiasi mata uang rupiah selama ini masih masih dipandang bukan masalah bagi investor asing. Namun, jika depresiasi rupiah sudah cukup dalam akan menjadi kekhawatiran," katanya.

Berikutnya, IHSG belum keluar dari tekanan seiring berlanjutnya depresiasi nilai tukar rupiah. Transaksi investor asing hingga sore tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 771,946 miliar di seluruh pasar. Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 266.811 kali dengan volume 9,398 miliar lembar saham senilai Rp 5,082 triliun. Sebanyak 92 saham naik, 229 turun, dan 58 saham stagnan.

Investor global dan regional menunggu pertemuan bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserves pekan ini. Aksi jual membuat bursa-bursa di Asia rata-rata melemah. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Merck (MERK) naik Rp 12.000 ke Rp 169.000, Unilever (UNVR) naik Rp 250 ke Rp 31.225, Tower Bersama (TBIG) naik Rp 250 ke Rp 9.800, dan MNC Sky (MSKY) naik Rp 230 ke Rp 1.675.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain SMART (SMAR) turun Rp 1.450 ke Rp 6.500, Indo Kordsa (BRAM) turun Rp 1.100 ke Rp 5.600, Indocement (INTP) turun Rp 675 ke Rp 24.400, dan Astra Agro (AALI) turun Rp 550 ke Rp 24.400.

Perdagangan sesi pertama, IHSG jatuh 45,593 poin (0,88%) ke level 5.114,840. Sementara Indeks LQ45 anjlok ke level 7,713 poin (0,87%) ke level 880,307. Posisi terendah IHSG ada di level 5.110. Investor asing terus mengurangi kepemilikan sahamnya dengan aksi jual. Transaksi asing tercatat jual bersih alias foreign net sell.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 181.612 kali dengan volume 6,211 miliar lembar saham senilai Rp 5,209 triliun. Sebanyak 60 saham naik, 259 turun, dan 68 saham stagnan. Investor global dan regional harap-harap cemas menunggu pertemuan bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserves pada Selasa dan Rabu pekan ini. Sehingga tekanan jual terus terjadi.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Gudang Garam (GGMR) naik Rp 500 ke Rp 60.200, MNC Sky (MSKY) naik Rp 165 ke Rp 1.610, Gajah Tunggal (GJTL) naik Rp 95 ke Rp 1.430, dan Global Mediacom (BMTR) naik Rp 80 ke Rp 1.495. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Astra Agro (AALI) turun Rp 525 ke Rp 23.150, Siloam (SILO) turun Rp 500 ke Rp 14.100, Mayora (MYOR) turun Rp 375 ke Rp 22.750, dan Unilever (UNVR) turun Rp 375 ke Rp 30.600.

Diawal perdagangan, IHSG dibuka melemah sebesar 36,17 poin atau 0,70% menjadi 5.124,26 dipicu oleh tertekannya mata uang rupiah terhadap dolar AS, sementara indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 8,94 poin (1,01%) ke level 879,07,”Pergerakan bursa saham di BEI terkendala oleh depresiasi nilai tukar rupiah. Tekanan mata uang itu terjadi menyusul indikasi membaiknya ekonomi Amerika Serikat yang ditunjukkan dari kenaikan indikator penjualan ritel AS," kata Head of Research Valbury Asia Securities Alfiansyah.

Dia menambahkan bahwa harga minyak mentah yang diprediksi masih akan bertahan di level rendah pasca Arab Saudi tidak bersedia memangkas output produksinya juga menjadi salah satu kekhawatiran pelaku pasar. Menurunnya harga minyak dunia itu akan memicu aksi jual yang kuat pada saham-saham energi dan beberapa tambang lainnya "Tren penurunan harga minyak dan depresiasi mata uang terhadap dolar AS masih akan membebani bursa saham domestik pada pekan ini," katanya.

Sementara analis PT Quant Kapital Investama, Kiswoyo Adi Joe menambahkan bahwa membaiknya ekonomi Amerika Serikat yang salah satunya ditunjukkan dari kenaikan jumlah pekerja dan indikator penjualan ritel AS dapat memicu terjadinya pelarian modal (capital outflow) dari Indonesia.

Kendati demikian, dia memprediksi bahwa pergerakan indeks BEI akan bergerak di kisaran terbatas di level 5.100-5.200 poin jingga akhir tahun ini. Hal itu dikarenakan sebagian pelaku pasar saham sudah mulai menahan transaksinya menjelang libur panjang akhir tahun. Bursa regional, di antaranya indeks Bursa Hang Seng dibuka melemah 352, poin (1,51%) ke 22.897,67, indeks Nikkei turun 146,49 poin (0,84%) ke 17.225,09, dan Straits Times melemah 26,24 poin (0,79%) ke posisi 3.297,89. (bani)