Perubahan Budaya pada Masyarakat Islam Tradisional di Pedesaan

Oleh: Aries Musnandar, Dosen PTN

Selasa, 16/12/2014

Peran dan Peranan Pendidikan Perubahan budaya pada masyarakat Islam tradisional di pedesaan senyatanya dapat dipengaruhi oleh peran dan peranan dunia pendidikan. Penyelenggaraan pendidikan di desa-desa baik formal maupun non formal sedikit banyak mempengaruhi budaya masyarakat desa. Dalam konteks ini maka kebijakan pemerintah yang melibatkan lembaga pendidikan keagamaan yang terdapat di desa-desa dalam menuntaskan wajib belajar jenjang pendidikan dasar patut diapresiasi. Anak-anak desa yang memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan tinggi di kota-kota besar bahkan luar negeri tatkala kembali ke kampung halamannya juga memberikan sumbangan cukup signifikan terhadap perubahan budaya setempat.

Sepanjang perubahan budaya masyarakat Islam tradisional di pedesaan lebih dipengaruhi oleh pendidikan, perubahan budaya yang terjadi akan memiliki unsur kekuatan akal budi yang merupakan faktor penting dari perubahan budaya dan kebudayaan. Hal ini disebabkan sistem pendidikan memiliki tujuan yang jelas dan terukur dalam “memberdayakan” peserta didik. Secara sociocultural pendidikan di pedesaan telah lama berlangsung semenjak masuknya Islam di persada Nusantara ini, walau masih sebatas “mengaji” memahami ajaran Islam. Sudah sejak lama masyarakat pedesaan menumbuh-kembangkan pendidikan baik di mesjid . surau maupun pesantren dengan cara bergotong royong. Kemudian muncul madrasah yang juga mengajarkan ilmu-ilmu dasar dan umum.

Kemandirian adalah ciri utama pemdidikan di pedesaan. Hanya saja stigma pendidikan (Islam) di pedesaan kala itu terlanjur mendapat stigma urusan akherat yang begitu mengental hingga mempengaruhi tumbuh kembang disiplin ilmu umum di lembaga pendidikan di pedesaan. Padahal, dunia Barat maju seperti sekarang ini jika kita mengacu referensi asal usul sumber ilmu tidak terlepas dari sumbangan pemikiran dari hasil kajian cendekiawan Muslim terdahulu, sebut saja seperti Ibu Sina yang di Barat dikenal sebagai Avicenna, sebagai peletak ilmu kedokteran modern. Di Indonesia, secara sociocultural politics, skenario penjajah yang berciri “devide et impera” sukses memisahkan urusan dunia dan ukhrowi. Ini terjadi pada lembaga-lembaga pendidikan yang tumbuh di pelosok daerah. Kebijakan memecah belah ala penjajah ini efeknya terasa hingga sekarang. Ilmu agama terpisah dari ilmu alam dan ilmu umum lainnya.

Seolah matematika, fisika, sosiologi, geografi dan lainnya bukanlah berasal dari sang Maha Pencipta. Pengaruh Teknologi Informasi dan Komunikasi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang diproduksi pihak industri tidak dipungkiri lebih mengutamakan unsur bisnis atau profit belaka ketimbang membawa misi pencerahan pendidikan. Tidak heran jika produsen TIK gencar dan getol memasarkan prduksinya sesuai dengan hasrat mereka mengejar keuntungan semata-mata. TIK yang telah merambah ke pelosok desa turut andil terjadinya perubahan budaya. Sesuatu yang patut dicermati oleh pemangku kebijakan kesejahteraan rakyat dalam menekan ekses negatif dari beredarnya alat-alat canggih.

Keberadaan internet, televisi, ponsel, dan media elektronik lainnya yang dapat mengakses dan membawa beragam informasi membuat khasanah budaya masyarakat pedesaan makin dinamis. Proses perubahan sosial dan perubahan budaya dapat terjadi secara bersamaan. Perubahan sosial diartikan sebagai sebuah transformasi budaya dan institusi sosial yang merupakan hasil dari proses perubahan budaya terus menerus dan dapat memberikan kesan positif atau negatif. Sehingga perubahan sosial diartikan sebagai perubahan fungsi kebudayaan dan perilaku manusia dalam masyarakat dari keadaan tertentu ke keadaan lainnya.

Perubahan budaya juga dapat timbul akibat munculnya perubahan lingkungan masyarakat, penemuan baru dan kontak dengan kebudayaan lain. Sebagai contoh berakhirnya kebiasaan surat menyurat berujung pada ditemukannya perangkat lunak TIK yakni imel melalui internet dan sms (pesan singkat) melalui ponsel dan kemudian memancing inovasi-inovasi baru lain dalam kebudayaan. Penemuan ini membuat budaya lama tergerus diganti dengan budaya baru pada lingkungan masyarakat pedesaan. Fenomena perubahan ini disebut sebagai penetrasi kebudayaan yakni masuknya pengaruh suatu kebudayaan terhadap kebudayaan lainnya. Penutup Sharplin dalam Sonhaji (2003) mengungkapkan bahwa tingkat homogenitas masyarakat amat kuat mempengaruhi perubahan budaya.

Pertama, jika suatu komunitas masyarakat besar dan kompleks, perubahan budaya dalam komunitas itu semakin sulit dibandingkan komunitas kecil dan sederhana. Kedua, perubahan budaya cenderung semakin sulit dalam masyarakat dengan homogenitas budaya yang tinggi dibandingkan dengan masyarakat yang heterogen. Dalam tataran ini dapat diambil makna bahwa semakin banyak orang desa yang terdidik dan mengalami secara positif akulturasi budaya dari luar dan menjadikan komunitas masyarakat tertentu lebih heterogen. Jika tingkat heterogenitas budaya tinggi maka perubahan budaya justeru akan terwujud dengan mudah. Sudah barang tentu perubahan budaya yang kita inginkan dalam masyarakat Islam tradisional di pedesaan adalah perubahan kearah yang lebih baik dalam memperkuat jati diri dan karakter bangsa. Harapan ini akan bisa terejawantahkan jikalau peran dan peranan pendidikan lebih disebar-ratakan pada masyarakat Islam tradisional di pedesaan.(umm.ac.id)