Rupiah Anjlok Ancam Kebangkrutan BUMN

Selasa, 16/12/2014

NERACA

Jakarta – Sikap tenang Bank Indonesia (BI) menyikapi terdepresiasinya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada awal pekan ini membuat rupiah makin tidak berdaya dan akhirnya ditutup di level Rp 12.705. Jebloknya nilai tukar rupiah membuat indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) juga ikut anjlok di level 5.108,432.

Menurut Kepala Riset Woori Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada mengatakan, belum adanya sentimen positif terhadap laju rupiah dan sikap tenang yang ditunjukkan oleh BI menimbulkan persepsi di kalangan pelaku pasar. BI seolah-olah menyetujui pelemahan tersebut, karena dianggap sudah sesuai dengan fundamental ekonomi Indonesia,”Dengan pernyataan tersebut, tentu pelaku pasar juga berpandangan bahwa fundamental ekonomi Indonesia sedang kurang baik sehingga rupiah melemah,” ujarnya di Jakarta, Senin (15/12).

Menurut Reza, laju rupiah pun sesuai dengan target yang pernah diprediksi sebesar Rp12.400 per dollar AS untuk 2014. Sedangkan prediksi outlook di 2015, jika rupiah dibiarkan melemah maka akan mendekati level Rp12.600 per dollar AS. Bagi pelaku usaha, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS menjadi momok yang menakutkan karena akan mempengaruhi kinerja keuangan.

Menurut ekonom dari Indonesia for Global Justice (IGJ), Salamudin Daeng, imbas anjloknya nilai tukar rupiah bakal menghambat performance kinerja keuangan beberapa perusahaan dan termasuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang memiliki utang luar negeri, “Berdasarkan hasil assessment, setidaknya ada 2.164 perusahaan swasta yang memiliki utang luar negeri. Kondisi ini akan mendorong masyarakat Indonesia mengamankan asetnya sesegera mungkin dalam bentuk US$,” ujarnya.

Berdasarkan observasi yang dilakukan BI, hasil stress test ketahanan korporasi terhadap pelemahan nilai tukar menunjukkan 6 dari 53 korporasi publik yang memiliki utang luar negeri (ULN) berpotensi insolvent apabila nilai tukar rupiah melemah dengan kurs Rp16.000 per dollar AS. Maka dengan demikian, jika 6 dari 53 perusahaan terkena dampak mematikan dari pelemahan nilai tukar rupiah, maka sekitar 260 perusahaan yang diuji BI disimpulkan terkena dampak.

Menurut Salamudin, siapa perusahaan perusahaan tersebut, menurutnya bisa jadi ini sebagian besarnya adalah BUMN yang selama ini memikul utang luar negeri yang besar. Namun terlepas dari berapa perusahaan yang akan bangkrut, yang menyeramkan adalah bahwa BI ternyata telah memiliki kesimpulan bahwa nilai tukar akan mencapai angka Rp. 16.000 dollar AS, “Asumsi BI ini sangat berdasar mengingat krisis di Indonesia semakin kompleks dan memiliki impliksi ekonomi yang luas,”tandasnya.

Dia menjelaskan, penyebab krisis itu adalah, pemerintahan Jokowi dan kabinetnya yang doyan "menabrak" konstitusi dan regulasi untuk mengejar popularitas, terutama membentur DPR secara tidak konstitusional. Sementara modal asing tahu bahwa dalam sistem ekonomi Indonesia sekarang sebagian besar kebijakan dapat diambil pemerintah harus persetujuan DPR, “Sebab lain yang fundamental adalah defisit perdagangan, defisit transaksi berjalan yang semakin membesar, yang tidak dapat diatasi kecuali dengan mobilisasi utang luar negeri besar besaran,”paparnya.

Kekhawatiran anjloknya rupiah yang belum di intervensi BI, juga disampaikan Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Widjaja Kamdani. Menurut dia, dunia usaha khawatir pelemahan rupiah bisa mencapai level Rp14 ribu per US$. Pasalnya, pada perdagangan sore hari di pasar spot kurs rupiah tembus Rp12.714 per dollar AS,”Itu bisa sampai Rp13 ribu hingga Rp 14 ribu. Ini sudah di maksimum level, sudah mesti di stop,” ujarnya.

Menurut dia, pelaku usaha menginginkan agar rupiah kembali ke fundamentanya yakni berada pada level maksimum Rp11 ribu per dollar AS. Namun saat ini sudah terpaut jauh. Dirinya berharap agar pemerintah segera melakukan tindakan agar rupiah tidak jatuh lebih dalam,”Yang jelas, yang kami khawatirkan bisa sampai level terburuk. Ini kan kita lihat enggak berhenti di Rp12.400 per dolar AS. Kita kan harus antisipasi, yang kami harapkan pemerintah intervensi sampai dimana, karena takutnya rupiah jebol terus," tuturnya.

Lebih lanjut, jika tidak segera ditangani akan mempersulit para pengusaha melakukan perencanaan. Terlebih lagi, bakal membuat eksportir beralih untuk parkir devisa di Singapura,”Segi produksi mempengaruhi cost-nya susah jadinya. Kalau kita bekerja enggak ada konsistensinya kan susah. Itu makanya, itu enggak benar merugikan buat kita. Mesti diperhatiin, enggak bisa naik turun, mesti stabil yang paling penting,”ujarnya. bani