OJK Targetkan Kinerja IHSG Tumbuh 20%

Selasa, 16/12/2014

NERACA

Jakarta – Meskipun tahun depan terjadi perlambatan ekonomi dan rencana kebijakan The Fed menaikkan suku bunga, diyakini tidak akan mempengaruhi pertumbuhan kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Bahkan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Muliaman Hadad menargetkan, kinerja IHSG di 2015 naik capai 20%. Angka ini tidak jauh berbeda jika dibandingkan dengan tahun ini,”Kita targetkan seperti tahun ini sampai 20%, IHSG naik kurang lebih sekitar itu. Saya optimistis akan menguat, tentu saja selalu ada yang perlu diperhatikan,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Secara keseluruhan, tambah dia, pertumbuhan ekonomi akan menguat 5,5 sampai 5,8% seperti yang ditargetkan Bank Indonesia (BI). Sehingga masih ada ruang untuk tumbuh dan berkembang,”Relokasi subsidi punya multiflyer effect, mesin terus berjalan! Disburstment berjalan, likuiditas rendah karena tekanan, bank pun menurunkan tingkat suku bank," tutur dia.

Di sisi lain, pelemahan rupiah yang mencapai Rp12.600 per dollar AS telah diantisipasi oleh OJK. Di mana bukan hanya OJK saja, namun juga diantisipasi pelaku industri,”Berapa dampaknya terhadap kemampuan industri keuangan, sudah saling komunikasi. PDB year to date tumbuh 13%, kredit investasi dan modal kerja 16%, di atas rata-rata nasional. Year on year kredit konsumsi 10% kita dorong, dari bank masih membukukan kredit sekitar 16%. Posisi Oktober," pungkas dia.

Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI), Haryajid Ramelan mengatakan, pergerakan positif seluruh indikator makro ekonomi di 2015 diperkirakan akan mendongkrak IHSG untuk menembus level 6300 di pengujung tahun depan,”Pasca dikeluarkannya kebijakan fiskal maupun moneter yang dikeluarkan pemerintah dan Bank Indonesia, diyakini akan memperbaiki fundamental ekonomi yang lebih menyeluruh,”ujarnya.

Dia mengatakan, perbaikan di hampir seluruh indikator makroekonomi domestik diperkirakan akan melambungkan laju IHSG di 2015 hingga menembus level 6.300. "Kalau sampai akhir 2014 ini, IHSG akan berada di 5.100. Sehingga, di sisa tahun ini indeks akan berfluktuasi pada range 5.050-5.100," jelasnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, sejauh ini pasar sudah mengapresiasi positif kebijakan fiskal berupa kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi maupun kebijakan BI yang menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) ke level 7,75%. "Memang di akhir tahun ini inflasinya akan meninggi, pasca kenaikan BBM," imbuhnya.

Menurut Haryajid, respons BI dalam menanggapi potensi kenaikan inflasi akibat kebijakan BBM bersubsidi, justru mendapat apresiasi pasar meski kebijakan moneter ini berpotensi melemahkan laju pertumbuhan ekonomi. "Rupiah pun mengapresiasi positif dengan kebijakan fiskal moneter itu," tegas Haryajid.

Dia menjelaskan, meski secara umum dua kebijakan ini direspons positif, namun kondisi ini justru sedikit mengganggu kinerja sektor properti dalam timeframe jangka pendek. "Sektor properti yang akan melemah, tetapi pelemahannya paling lama sekitar 3-4 bulan saja," ucapnya. (bani)