Gerakan Ekonomi Pesantren

Oleh: Prof Dr H Imam Suprayogo, Dosen UIN Malang

Selasa, 16/12/2014
Sejak beberapa bulan terakhir ini, muncul fenomena menarik, yaitu ada kesadaran baru tentang perlunya pesantren mengembangkan ekonomi bersama. Beberapa kyai yang peduli pada hal tersebut mengadakan pertemuan di beberapa tempat untuk membicarakan tentang betapa pentingnya pesantren membekali para santrinya dengan ketrampilan untuk mengembangkan ekonomi.

Gerakan tersebut memang baru pada taraf permulaan, sehingga tidak seberapa besar gaungnya. Namun demikian, manakala hal itu berhasil dikembangkan lebih lanjut, maka tidak menutup kemungkinan pesantren akan menjadi pusat pengembangan ekonomi umat. Rupanya gerakan yang masih bersifat pemula itu memperoleh respon positif dari berbagai pesantren. Berbagai kegiatan, berupa pengembangan wawasan, penyadaran, dan bahkan kegiatan berbagai pelatihan telah diselenggarakan dan diikuti oleh para santri dari berbagai pesantren.

Dalam kegiatan pengembangan ekonomi itu, beberapa pesantren bertindak sebagai penggerak, misalnya pesantren Riyadhul Jannah, Pacet Mojokerto, Pondok pesantren Sidogiri Pasuruan, dan lain-lain. Pesantren Riyadul Jannah Pacet, Mojokerto dengan keberhasilannya mengembangkan usaha ekonomi, ditularkan kepada pesantren lainnya. Usaha yang berhasil dikembangkan oleh pesantren tersebut misalnya di bidang pertanian, peternakan, restoran, dan lain-lain.

Pesantren Sidogiri telah berhasil mengembangkan kooperasi dan BMT. Menurut penjelasan pihak pimpinan pengelola usaha di pesantren itu, hingga terakhir ini telah memiliki aset tidak kurang dari 12 triliyun rupiah. Demikian pula, usaha di pesantren Riyadul Jannah, Pacet, Mojokerto, pembayaran pajak dari berbagai usahanya itu pada setiap tahun tidak kurang dari Rp. 4 milyard rupihah. Maka artinya, usaha itu sudah cukup besar.

Melalui berbagai usaha tersebut, pesantren diharapkan berhasil membekali para santrinya, bukan saja dalam hal membaca kitab kuning, tetapi juga kemampuan atau ketrampilan di dalam mengembangkan ekonomi. Lewat cara itu, para santri setelah selesai belajar di pesantren dan kembali ke tempat asalnya, diharapkan benar-benar mampu mandiri dan secara ekonomi tidak menggantungkan diri pada pihak lain. Alumni pesantren diharapkan benar-benar tidak akan merepotkan orang lain oleh karena telah memperoleh bekal yang cukup.

Apa yang dilakukan oleh pesantren dimaksud sebenarnya bukan hal baru. Para kyai sejak zaman dahulu, selain memiliki kelebihan pengetahuan agama dan kemudian mendirikan pesantren, juga dikenal sebagai orang kaya. Para kyai pada umumnya adalah pemilik sumber-sumber ekonomi. Hanya saja pada waktu itu, sumber ekonomi yang dimaksud sebatas usaha di bidang pertanian, peternakan atau perikanan. Para kyai memiliki sawah, kebun, ternak, tambak, empang, dan lain-lain. Dari usahanya itu, para kyai mampu membiayai lembaga pendidikannya. Bahkan, dianggap lazim, seorang santri belajar di pesantren, tidak saja gratis, tetapi juga kehidupan sehari-hari ikut keluarga kyainya.

Akan tetapi pada akhirnya, sehubungan dengan kemajuan ilmu dan teknologi, masyarakat juga berubah, tidak terkecuali dalam ekonominya. Pertanian berubah menjadi industri, pabrik, perdagangan, import eksport dan lain-lain. Rupanya, adaptasi para kyai di bidang usaha ekonomi ini tidak terlalu berhasil. Ekonomi pesantren tidak bisa mengikuti perkembangan ekonomi modern. Akibatnya, usaha ekonomi para kyai tertinggal dibanding dengan kelompok lainnya.

Oleh karena itu, manakala pada akhir-akhir ini, para kyai berpikir kembali tentang upaya pengembangan eknomi, maka sebenarnya hal itu bukan menjadi sesuatu yang baru. Para kyai telah memiliki sejarah sukses dalam pengembangan ekonomi. Dan, jika gerakan yang mulai tumbuh pada akhir-akhir ini berkelanjutan, maka seperti yang disebutkan di awal tulisan ini, maka pesantren akan menjadi salah satu kekuatan di dalam pengembangan ekonomi umat. Dan, sebenarnya gambaran seperti itulah yang akhir-akhir ini ditunggu-tunggu oleh kalangan umat. Wallahu a'lam. (uin-malang.ac.id)