Tiga Jurus Garuda Untuk “Tinggal Landas” - Tantangan Bagi Dirut Baru

NERACA

Jakarta – Perombakan jajaran direksi di PT Garuda Indonesia Tbk, mulai dari direktur utama hingga komisaris banyak menuai harapan dari pelaku ekonomi, khususnya investor saham agar saham maskapai penerbangan milik pemerintah ini bisa melesat jatam.

Ketua Tim Ahli Wakil Presiden Jusuf Kalla yang juga ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Sofjan Wanandi menyambut positif pengunduran diri Emirsyah Satar dari bangku kepemiminannya sebagai Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA),”Pengunduran diri mesti dilakukan, karena perseroan butuh penyegaran organisasi. Peremajaan juga perlu," kata Sofjan.

Menurut Sofjan, pengganti sosok Emirsyah harus dari kalangan internal Garuda Indonesia. Sehingga lebih mudah membawa Garuda Indonesia kedepannya. Berdasarkan rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) akhir pekan kemarin, memutuskan Arif Wibowo CEO Citilink menjadi Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk yang baru.

Kata Arif, jabatan baru sebagai Direktur Utama Garuda Indonesia menjadi amanah dan tantangan bagi perseroan untuk keluar dari kerugian. Oleh karena itu, dirinya akan memfokuskan tiga strategi priotitas untuk kembali membangkitkan perusahaan. Disebutkan, tiga strategi tersebut, yakni menggenjot keuntungan (revenue generator), mengendalikan biaya (cost driver) dan memastikan keuangan aman (refinancing),”'Revenue generator' menjadi penting karena kita harus menghasilkan uang semaksimal mungkin,”ujarnya.

Dia mengatakan upaya untuk menggenjot keuntungan tersebut bisa didapat dari berbagai cara, di antaranya mulai dari sumber daya manusia (SDM), alat-alat kelengkapan perusahaan dan sebagainya. Kedua, 'cost driver' perlu di restrukturisasi karena Garuda harus kompetitif tahun depan menghadapi stagnansi ekonomi yang berpengaruh kepada angkutan udara, sehingga harus yakin 'cost' perseroan benar-benar kompetitif.

Ketiga, lanjut dia, memastikan keuangan aman sampai satu tahun ke depan dengan cara memotong biaya-biaya yang tidak bernilai tambah atau non-value added,”Tiga yang paling penting kita pastikan secara finansial itu kita aman sampai satu tahun ke depan, prioritas saya dalam waktu dekat ini, metode banyak tapi salah satunya 'refinancing'," paparnya.

Arif meminta waktu sekitar satu minggu untuk merinci strategi-strategi tersebut, serta menjabarkan besaran target yang akan dicapai. Dia menilai tahun ini turbulensi ekonomi cukup besar yang dipicu oleh pertumbuhan ekonomi yang masih bertahan di 5,2% yang berdampak pada pertumbuhan penerbangan sekitar sembilan hingga 10%.

Selain itu, lanjut dia, depresiasi rupiah masih menjadi tantangan meskipun harga minyak dunia mengalami penurunan sebagai dampak positif,”Kita lihat tahun ini turbulensinya 'head-win' (guncangan) cukup besar, ini yang saya bilang kita harus perhatikan yang paling penting, dua tahun ke depan program Garuda harus benar-benar kuat," katanya.

Mantan Dirut Garuda Emirsyah Satar dalam kesempatan yang sama berharap di bawah kepemimpinan Arif, maskapai yang telah mengoperasikan 160 armada itu bisa kembali "terbang lebih tinggi"."Dengan dipimpin oleh Pak Arif, yang merupakan Ketua Inaca juga diharapkan Garuda bisa 'rebound' atau untung kembali di tahun depan,”jelasnya.

Arif Wibowo menggantikan Emirsyah Satar yang sebelumnya telah mengundurkan diri per Kamis 11 Desember 2014 lebih cepat dari masa habis jabatannya pada Maret 2015. Melalui surat yang ditujukan kepada Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini Soemarno, Emir, begitu dia akrab disapa resmi lepas dari maskapai pelat merah itu yang ia pimpin selama hampir dua periode. (bani)

BERITA TERKAIT

Kemudahan Perpajakan bagi Pelaku Usaha e-Commerce

  Oleh: Rifky Bagas Nugrahanto, AR KPP Pratama Sorong *) Terlihat peluang sejumlah perusahaan rintisan ini cerdik mengambil kesempatan atas…

Empat Langkah Strategis untuk Industri Keramik Nasional

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus memacu daya saing industri keramik nasional. Sebab, merupakan salah satu sektor yang diprioritaskan pengembangannya…

Kebijakan Publik - Perlu Perbaikan Data Pangan untuk Kurangi Kesemrawutan Impor

NERACA Jakarta – Pemerintah perlu melakukan perbaikan data pangan untuk mengurangi kesemrawutan impor. Perbaikan data pangan juga perlu dilakukan sebagai…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Jasa Marga Bukukan Utung Rp 2,2 Triliun

Sepanjang tahun 2018, PT Jasa Marga Tbk (JSMR) mencatatkan laba bersih sebesar Rp2,2 triliun atau sama dengan periode yang sama tahun…

Produksi Minyak Sawit ANJT Tumbuh 6,6%

Hingga Februari 2019, PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT) memproduksi minyak sawit mentah sebanyak 34.750 ton atau naik 6,6% dari…

Pefindo Beri Rating AAA Obligasi Indosat

PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menegaskan peringkat idAAA terhadap Obligasi Berkelanjutan II Tahap III/2019 seri A PT Indosat Tbk (ISAT)…