2015, Investasi Didorong Jadi Motor Pertumbuhan

Bukittinggi, Sumatera Barat

Senin, 15/12/2014

NERACA

Bukittinggi - Mandiri Institute memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2015 akan mencapai sebesar 5,3% dengan pendorong utama sektor investasi.

"Ke depan, investasi diharapkan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi," kata Kepala Mandiri Institute, Moekti P Soejachmoem di Bukittinggi, Sumatera Barat, Jumat (12/12), pekan lalu.

Menurut dia, berdasarkan simulasi yang dilakukan, peningkatan investasi pengaruhnya lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi jika dibanding dengan peningkatan belanja pemerintah.

Moekti juga menyebutkan, sejumlah tantangan baik global maupun domestik akan muncul pada 2015. Dari sisi global, walau ekonomi AS mulai menggeliat, namun ekonomi China dan Jepang diperkirakan masih lesu.

"Kondisi lesu ini tentu berpengaruh dan kurang menguntungkan bagi Indonesia karena harga komoditas yang rendah. Padahal sekitar 60% ekspor Indonesia berupa komoditas," ungkap dia.

Faktor dalam negeri

Sementara tantangan dari dalam negeri antara lain masih adanya dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), kurs rupiah yang melemah dan kondisi politik, terutama di DPR yang masih terbelah.

"Pemerintah perlu kerja sama dengan DPR dalam pembahasan RAPBN Perubahan 2015, akan sulit jika DPR masih terbelah, namun kami optimistis DPR tidak akan menjegalnya karena perubahan APBN terutama pengurangan subsidi sebesar 50% untuk pembangunan infrastruktur dan setengah lainnya untuk program kesejahteraan rakyat," jelas Moekti.

Sementara untuk inflasi 2015, Moekti pun memperkirakan akan mencapai 5,1%. Dampak kenaikan harga BBM pada November 2014 hanya akan terasa tiga bulan pertama, setelah itu akan normal kembali.

Untuk kurs rupiah dan BI Rate, Moekti memperkirakan masing-masing rata-rata Rp11.950 per dolar AS dan 7,8%.

Sedangkan untuk pertumbuhan ekonomi 2014, dia pun memprediksi bakal mencapai 5,1%. Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi pada triwulan I mencapai 5,21%, triwulan II 5,12% dan triwulan III 2014 sebesar 5,01%.

Mengenai dampak kebijakan penghentian stimulus AS yang ditandai dengan kenaikan suku bunga The Fed, Moekti mengatakan tidak perlu dikhawatirkan.

"Selisih suku bunga kita dengan bunga AS masih besar mencapai sekitar 6,36 basis poin (bps) sehingga masih menarik bagi investor asing," katanya.

Tantangan perbankan

Sementara itu Direktur Keuangan dan Strategi PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Pahala Nugraha Mansury menambahkan, perbankan menghadapi sejumlah tantangan dalam beberapa tahun ke depan antara lain implementasi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 dan ASEAN Financial Integration 2020.

Selain itu tantangan berupa adanya kebutuhan pendanaan untuk ekspansi bisnis, penguatan permodalan dalam rangka implementasi Basel III, pengembangan digital banking dan konsolidasi perbankan.

Pahala menyebut adanya sejumlah peluang seperti adanya pertumbuhan kelas menengah, adanya peluang bisnis lintas negara dan pertumbuhan bisnis ritel hingga 2020.

Mengenai pertumbuhan kredit, dirinya menjelaskan bahwa pertumbuhan kredit sekitar 16%-18% selama 2015 sementara pertumbuhan dana pihak ketiga mencapai 13%-14% dibanding 2014. [rin]