Menuju Destinasi Kuliner Terfavorit Dunia

Industri Wisata

Senin, 15/12/2014

NERACA

Jakarta – Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan Indonesia sedang menuju destinasi wisata kuliner terfavorit di dunia yang berdaya saing melalui upaya-upaya yang terus dilakukan. Upaya menu itu, termasuk promosi ke luar negeri dan di dalam negeri serta meningkatkan rasa cinta dan minat masyarakat terhadap kuliner tradisional Nusantara.

"Untuk menuju ke target itu, kami menyelenggarakan Pekan Wisata Kuliner Tradisional Nusantara (PWKTN) yang dilaksanakan dalam rangka Program 100 Hari (Quick Wins) Kabinet Kerja 2014-2019, pada 12 sampai 14 Desember 2014 di Plasa Barat Monumen Nasional (MONAS)," kata Menpar Arief Yahya saat membuka Pekan Wisata Kuliner Tradisional Nusantara 2014 di Jakarta, dikutip dari Antara, Jumat pekan lalu.

Ia mengatakan acara ini bertujuan mendorong Pemerintah Daerah bersama dengan pemangku kepentingan terkait untuk membangun Destinasi Wisata Kuliner Indonesia yang berdaya saing. Selain itu, juga menjadi upaya untuk meningkatkan rasa cinta dan minat masyarakat terhadap kuliner tradisional Nusantara.

"Kegiatan ini merupakan salah satu upaya untuk memperkenalkan makanan tradisional Nusantara kepada masyarakat luas serta memperkenalkan potensi kekayaan kuliner provinsi di Indonesia," tuturnya.

Menurut dia, kuliner Indonesia terbukti memiliki daya tarik yang besar, apalagi dengan dinobatkannya rendang sebagai salah satu makanan terlezat di dunia. Hal ini membuktikan bahwa kuliner Indonesia disukai serta siap menjadi salah satu faktor penggerak ekonomi masyarakat, khususnya dalam hal bisnis skala kecil.

Pihaknya mencatat pada 2013 sektor kuliner memberikan kontribusi nilai tambah bruto sebesar Rp208,6 triliun dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 4,5 persen dari tahun 2012-2013. Sektor kuliner juga menyerap tenaga kerja sebesar 3,7 juta orang dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 0,26 persen. Unit usaha yang tercipta dari sektor kuliner tercatat sebesar 3,0 juta dengan rata-rata pertumbuhan 0,9 persen. "Saat ini wisata kuliner bukan fenomena sesaat, namun telah menjadi daya tarik dan tujuan utama berwisata ke suatu destinasi," ujarnya.

Oleh karena itu wisata kuliner diyakini mampu menjadi unsur utama yang berfungsi sebagai perekat terhadap rangkaian berwisata, mengingat kepariwisataan merupakan sektor yang multi-atribut dan prospektif sebagai pintu gerbang sekaligus citra pariwisata Indonesia, tambah Arief Yahya.

Sebagai ajang promosi kuliner nusantara, acara PWKTN terdiri atas beberapa kegiatan, yakni Festival kuliner nusantara yang menampilkan makanan khas dari 34 provinsi di Indonesia dan Lomba Masak makanan tradisional Indonesia (bekerja sama dengan Djarum Foundation).

Selain itu ada "Talkshow" bertemakan pengembangan kuliner tradisional Indonesia yang diinisiasi oleh asosiasi dan komunitas kuliner seperti Asosiasi Kuliner Indonesia, Akademi Gastronomi Indonesia, Aku Cinta Masakan Indonesia, Omar Niode Foundation, dan Young Chef Club Indonesia.

Acara juga dirangkai dengan Demo Masak yang menampilkan Masterchef Junior Indonesia yang memasak makanan tradisional Indonesia. "Diharapkan, acara ini dapat memberikan semangat masyarakat untuk semakin mencintai budaya Indonesia melalui makanan serta mampu mendorong pemerintah daerah untuk ikut aktif dalam mengembangkan potensi wisata kuliner daerahnya masing-masing," katanya.

Ia juga berharap kegiatan itu mampu memperkenalkan potensi dan kekayaan kuliner nusantara kepada masyarakat luas dan membangkitkan gairah industri kuliner di Indonesia.

Pada kesempatan sebelumnya, masih dikutip dari laman kantor berita tersebut, Arief Yahya berjanji akan mempermudah perizinan untuk menarik para investor menanamkan modalnya di sektor pariwisata. "Semua yang sulit-sulit termasuk perizinan yang sulit ditiadakan," ujar Arief di Jakarta, Kamis.

Sehari sebelumnya, Rabu, dalam acara Indonesia Tourism Investment Day (ITID) yang dihadiri para investor dan pemangku kepentingan, Arief menjelaskan potensi pariwisata di Tanah Air sangat bagus, dan hal itu menjadi satu kesempatan berinvestasi bagi para investor. "Potensi pariwisata Indonesia tidak diragukan lagi, mulai dari gunung hingga bawah laut yang ada di Indonesia," katanya.

Perkembangan investasi pariwisata di Tanah Air dapat dikatakan cukup baik. Hal ini dapat dilihat dari data realisasi investasi sektor pariwisatan pada 2014 hingga kuartal tiga mencapai 466,9 juta dolar AS dengan penanaman modal asing sebesar 421,4 juta dolar AS. Sedangkan penanaman modal dalam negeri mencapai 45,5 juta dolar AS. Nilai realisasi investasi tersebut mencapai 77,45 persen pada 2013. "Diharapkan akan meningkat pada akhir 2014," jelasnya.

Pencapaian realisasi investasi sektor pariwisata akan meningkatkan minat investor menanamkan modalnya. Kegiatan ITID dihadiri para pemilik perusahaan, direktur, pemerintah daerah, pengusaha hotel, hingga pengembang marina. "Kegiatan ini untuk mempertemukan calon investor dan pemerintah daerah. Pemerintah daerah bisa memperkenalkan potensi wisata di daerahnya," paparnya.