Pemerintah Diminta Wujudkan Konsolidasi Bank BUMN

Jumat, 12/12/2014

NERACA

Jakarta - Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Telisa Aulia Falianty, meminta Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Sofyan Djalil, untuk menginisiasi proses konsolidasi bank-bank BUMN, baik melalui merger / akuisisi maupun membentuk perusahaan induk (holding).

"Kita berharap era pemimpin baru ini bisa mewujudkan konsolidasi bank BUMN. Tidak hanya Kementerian Perekonomian, tapi juga Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, serta Kementerian BUMN juga perlu membantu mewujudkan ini," ujar Telisa di Jakarta, Kamis (11/12).

Ketua Program Studi Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik FE-UI menuturkan konsolidasi perlu dilakukan agar ekspansi BUMN secara keseluruhan, termasuk bank-bank BUMN, bisa lebih cepat dan memperluas penetrasi pasar dalam negeri dalam menghadapi liberalisasi perbankan ASEAN 2020.

Saat ini pangsa pasar bank-bank BUMN semakin tergerus, meski era persaingan bebas dengan bank-bank asing besar dari negara-negara ASEAN baru berlaku lima tahun lagi.

Berdasarkan Data Statistik Perbankan Indonesia, selama periode Desember 2010 hingga September 2014, penguasaan pangsa pasar aset bank-bank asing dan campuran terhadap total aset perbankan nasional semakin membesar, yakni dari 12,37% menjadi 12,88%.

Sedangkan pada saat yang sama, penguasaan pangsa pasar aset bank-bank BUMN semakin tergerus, yakni dari 37,07% menjadi tinggal 34,29% terhadap total aset industri perbankan.

Chief Research and Strategy Network of Market Investor, Reagy Sukmana menambahkan, sudah saatnya pemerintah melakukan aksi nyata dan tidak sekadar bermain wacana lagi mengingat persaingan liberalisasi perbankan 2020 sudah di depan mata.

"Di tengah tantangan ke depan akan banyaknya gempuran dari bank-bank asing saat liberalisasi perbankan tahun 2020 berlaku, opsi konsolidasi sangat diperlukan. Pemerintah sekarang diharapkan melakukan terobosan untuk hal ini bukan hanya lagi sekadar wacana lagi, tapi aksi," ujar Reagy.

Menurut dia, rasio permodalan bank-bank BUMN saat ini masih tinggi. Namun, seiring dengan tingginya ekspansi kredit, bank-bank BUMN diprakirakan membutuhkan tambahan modal yang besar pada 2017.

Perkuat modal

Peneliti Institute for Development Economy and Finance, Berly Martawardaya, menilai bank-bank BUMN harus memperkuat struktur permodalannya agar dapat menghadapi persaingan dengan bank-bank asing pada Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) lima tahun ke depan.

"Bank-bank di Indonesia harus konsolidasi, termasuk bank-bank BUMN, harus merger. Saat ini aset bank terbesar Indonesia masih kalah jauh dibandingkan Bank DBS Singapura, apalagi dari sisi permodalannya," ujar Berly.

Menurut dia, guna menghadapi persaingan dengan bank-bank asing, industri perbankan nasional, termasuk bank-bank BUMN, harus melakukan efisiensi (cutting cost). Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk meningkatkan efisiensi adalah melakukan merger.

"Direksi bisa menjadi lebih kecil. Bayangkan satu orang direksi saja dibayar Rp1 miliar-Rp2 miliar setahun. Belum penghematan dari sisi operasional cabangnya," kata Berly. Dia juga menambahkan, konsolidasi bank diperlukan untuk meningkatkan modal perbankan yang lebih besar sehingga siap memasuki era liberalisasi perbankan ASEAN.

Sejumlah negara-negara ASEAN saat ini, seperti Malaysia dan Singapura, sudah memiliki pasar perbankan yang efisien dan mengikat (captive), sehingga marjinnya menjadi lebih kecil. Selain itu, bank-bank asing juga cepat mengembangkan produk-produk perbankan yang beragam dibandingkan bank-bank BUMN.

Ke depan, Indonesia harus bisa memiliki bank berskala global dengan melakukan ekspansi ke negara-negara Malaysia, Singapura, ataupun negara-negara ASEAN lainnya yang dinilai memiliki prospek bisnis yang baik. Melalui konsolidasi, Berly yakin bank-bank BUMN dapat menjadi pemain besar yang diperhitungkan di kawasan ASEAN dan mampu berekspansi ke negara-negara ASEAN.

Mendukung

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Sofyan Djalil, mengakui konsolidasi perusahaan BUMN merupakan hal yang bagus untuk mengembangkan perusahaan tersebut. Salah satu contohnya adalah konsolidasi perusahaan perkebunan.

"Kalau tidak pernah dikonsolidasi, kebanyakan mereka itu hanya jago kandang, karena tidak memiliki aset yang besar," kata Sofyan. Dia juga menilai, konsolidasi perusahaan BUMN yang bisa segera dilakukan adalah PT Pelindo (Persero) dengan holding PT Angkasa Pura (Persero).

Lebih lanjut, Sofyan mengatakan pemerintah saat ini sedang melakukan kajian tentang pembuatan bank besar di Indonesia. Hal ini merupakan wacana Presiden Joko Widodo bahwa Indonesia membutuhkan bank besar agar bisa berkompetisi dengan yang ada di kawasan.

"Perbankan sendiri butuh bank besar supaya bank ini bisa menjadi equivalent dengan rival yang ada di kawasan. Komitmen Presiden, Wapres, dan semua menteri kabinet kerja sangat kuat tentang hal ini," tandasnya. [ardi]