Saatnya Jeli Menangkap Peluang Yang Tepat

Memacu Daya Saing Bisnis Logistik

Jumat, 12/12/2014

NERACA

Jakarta – Tingginya tingkat konsumsi masyarakat di Indonesia yang mendorong pertumbuhan ekonomi dalam negeri, menjadi gambaran jelas betapa menjanjikannya pasar di Indonesia yang memiliki populasi terbesar keempat di dunia setelah Cina, Amerika Serita dan India. Oleh karena itu, pemerintah sangat memperhatikan betul setiap kebijakan yang mempengaruhi daya beli masyarakat dan termasuk kebijakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

Namun yang pasti, dibalik populasi masyarakat yang besar dan pertumbuhan ekonomi yang besar dengan didukung sebagai negara kepulauan, memberikan angin segar bagi pelaku bisnis industri jasa pengiriman dan logistik. Hal inipun diakui Johari Zein, Managing Director PT JNE sebagai leader market di Indonesia yang mengatakan, industri pengiriman ekspres dan logistik di Indonesia memiliki kesempatan besar untuk berkembang. Tak hanya perusahaan besar yang bisa berkembang, pemain kecil pun memiliki kesempatan yang sama untuk maju,”Selama ini pengiriman barang dari luar negeri hanya sampai pelabuhan, siapa yang mau angkat sampai ke tujuan? Itu yang belum terpikirkan, semua bisa mendapatkan kesempatan, tinggal siapa yang bisa menangkapnya,”ujarnya.

Menurutnya, banyaknya barang yang ada di pusat di perdagangan, kata Johari, digunakan juga di kabupaten. Oleh karenanya, konektivitas antara satu kabupaten dengan kabupaten lainnya menjadi sebuah potensi. Namun, banyak pihak yang tidak melihat sebagai potensi justru malah menimbulkan cost yang tinggi.

Di Indonesia sendiri, terdapat potensi-potensi bagi perusahaan logistik untuk terus berkembang. Johari menyebutkan, beberapa potensi tersebut di antaranya adalah kekuatan atau daya beli kelas menengah yang semakin besar,”Tumbuhnya investasi juga membuat industri di bidang logistik berpotensi untuk maju ke depannya," tambah Johari.

Selanjutnya, pertumbuhan ekonomi domestik pun tidak kalah penting menjadi sebuah potensi. Dengan ekonomi yang tumbuh, maka masyarakat bisa melakukan pembelian terhadap consumer goods dan barang lainnya.Pasar di Indonesia, kata Johari, akan banyak mengalir ketika mulai banyak barang yang diperdagangkan, dan itu menjadi potensi untuk di-delivery,”ungkapnya.

Johari menambahkan, investasi asing di bidang logistik yang dikendalikan oleh pemerintah juga merupakan salah satu potensi. Kendatipun demikian, lanjutnya, persoalan buruknya infrastruktur dan pembangunan infrastruktur yang tidak merata menjadi hambatan distribusi barang,”Ketersediaan infrastruktur yang bottle neck di Indonesia misalnya antara antara Jawa dengan Sumatera,”tuturnya.

Selain itu, regulasi juga menjadi hambatan karena industri logistik yang luas segmennya itu perlu pemahaman bagi regulator bahwa untuk melayani logistik jenis produk tertentu butuh knowlegde yang tepat,”Kalau regulator tidak tepat teknologi, berapa banyak kita kerugian kita kalau nggak bisa mengelola," kata Johari.

Masih Lambat

Kata Gopal R., Vice-President Transportation & Logistics Practices Frost & Sullivan, perbaikan infrastruktur transportasi di Indonesia terbilang lambat. Kondisi ini membuat pengiriman barang lebih lama, sehingga biaya yang dikeluarkan perusahaan membengkak. Masalah konektivitas domestik juga menjadi menghambat perkembangan bisnis ini. Contoh, minimnya sarana transportasi yang bisa menghubungkan berbagai daerah dengan bandara internasional. Pemerintah sebaiknya memperbaiki konektivitas ini sehingga setiap daerah lebih terintegrasi satu sama lain," tandas Gopal.

Ya bicara persoalan infrastruktur, memang tidak ada habisnya. Kementerian Perindustrian mengungkapkan, masalah klasik infrastruktur sebagai lemahnya daya saing industri logistik dalam negeri. Meskipun Indonesia hanya unggul terhadap Kamboja, Laos dan Myanmar di Asia Tenggara, hal ini bukan menjadi prestasi yang menggembirakan,”Daya saing sektor logistik Indonesia hanya lebih baik bila dibandingkan Kamboja, Laos dan Myanmar. Di level ASEAN, kita di urutan lima atau enam dari 10 negara, jadi bukan posisi yang menggembirakan,”kata mantan Menteri Perindustrian (Menperin), MS Hidayat.

Dia mengatakan rendahnya daya saing logistik di Indonesia disebabkan efisiensi pasar dan infrastruktur Indonesia yang tidak mengalami peningkatan berarti, bahkan cenderung stagnan. Konisi ini berakibat terhadap kinerja perdagangan produk industri Indonesia ke ASEAN dan dunia. Apalagi menghadapi persaingan pasar bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015, industri logistik dalam negeri dituntut untuk bersaing, siap atau tidak siapnya.

Maka sudah saatnya, persoalan infrastruktur dan regulasi bisa ditemukan jalan keluarnya guna memacu daya saing industri logistik dalam negeri bersaing dengan negara tetangga. Pasalnya, bila tidak dilakukan dengan ketidakefisienan hanya akan menjadikan Indonesia pasar bagi negara ASEAN. Direktur Utama PT Pos Logistik Indonesia, Febriyanto mengatakan, perusahaan logistik tidak akan bisa bertahan dalam persaingan global jika tidak berkolaborasi satu sama lain. Dia juga mengungkapkan, paling tidak ada dua hal yang harus ditingkatkan para pelaku usaha domestik sektor logistik di Indonesia menghadapi pasar bebas MEA 2015. Pertama, perbaikan sistem usaha yang dilakukan.

Dia menceritakan, perusahaan asing mayoritas telah memiliki sistem teknologi informasi yang jauh lebih canggih ketimbang perusahaan domestik,”Mereka perusahaan asing mungkin tidak punya banyak aset, tetapi punya sistem IT yang mampu mengintegerasikan kegiatan logistik dengan baik. Misalnya supplay chain, itu ke depan harus diperbaiki,”tuturnya.

Kedua, menurutnya, yaitu peningkatan daya saing sumber daya manusia (SDM) dalam negeri. Membangun kompetensi di semua jenis profesi penunjang sektor logistik menjadi suatu hal yang penting dilakukan."Itu yang akan menjadi kunci persaingan, jadi kita sudah harus mempersiapkan SDM kita," ujarnya.

Mengenai peningkatan SDM, lanjut Febri, para pelaku usaha logistik di Indonesia telah menyatakan komitmennya. Hal tersebut, diwujudkan dengan mulai diterapkannya standarisasi SDM yang direkomendasikan untuk sektor tersebut. Beberapa asosiasi jasa logistik juga berencana melakukan sertifikasi kepada para pekerja di sektor itu, sehingga ke depannya SDM logistik Indonesia dapat bermain di kancah persaingan internasional. (bani)