Belanja Industri E-Commerce bisa Capai Rp300 Triliun

NERACA

Jakarta – Industri e-commerce di Indonesia diperkirakan akan tetap mengalami pertumbuhan seiring dengan semakin banyaknya masyarakat Indonesia yang mulai menguasai internet. Bahkan, pertumbuhan belanja diperkirakan akan mencapai US$25 miliar atau mencapai Rp300 triliun dengan mengacu pada nilai tukar Rp12.000 per dolar.

Senior VP Marketing Lazada Indonesia, Andry Huzain mengatakan hasil riset menunjukkan bahwa satu dari dua konsumen di Indonesia, sudah terekspos dengan informasi melalui internet akan memiliki kecenderungan untuk mencoba berbelanja online. “Berdasarkan TNS Online Shopper Study Indonesia, Februari 2013,” ungkap dia dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Kamis (11/12).

Menurut Andry, ini akan menjadi kesempatan besar bagi para pelaku e-commerce di Indonesia untuk mendewasakan ekosistem e-commerce dengan menghadirkan pengalaman terbaik dalam berbelanja online. Tingkat kepercayaan, keamanan pembayaran, proses pengiriman dan kualitas barang yang diterima merupakan empat faktor utama bagi para pelaku e-commerce di Indonesia untuk memastikan pengalaman berbelanja online yang menyenangkan. Hal itu, kata dia, dapat meningkatkan penjualan dan tentunya menjadi salah satu faktor pendorong pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Sementara itu, Direktur Veritrans, Budi Gandasoebrata menyatakan bahwa Indonesia masih belum mampu memberikan pengalaman berbelanja offline yang baik. Hal ini dikarenakan akses menuju tempat berbelanja masih sulit dijangkau. Selain itu persediaan barang yang ada di store terdekat belum dipastikan ada. “Offline shopping experience Indonesia masih cukup buruk. Bisa kena macet pas mau ke store dan barang belum tentu ada,” ungkapnya.

Menurut Budi, dengan pengalaman tersebut seseorang akan cenderung beralih untuk berbelanja online. Sebab, konsumen bisa mendapat produk yang diinginkan dengan cepat. Bisnis online dipercaya bisa mendukung pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Diharapkan e-commerce Indonesia juga bisa sebagai konsumen untuk warga negara asing. “Kalau di Eropa tentu berbeda. Akses ke departemen store nya bisa jalan kaki 15 menit sampai. Di Indonesia harus kena macet dulu,” kata Budi.

Memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada 2015, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) menilai bahwa penerapan MEA akan meningkatkan minat usaha perdagangan lewat elektronik atau e-commerce. “Usaha E-commerce akan semakin banyak dgunakan para pengusaha untuk menyiasati jarak pada MEA mendatang,” ucap Ketua Parekraf BPP Hipmi Erik Hidayat.

Ia mengatakan bahwa masalah jarak akan muncul ketika MEA diberlakukan karena perdagangan akan dilaksanakan antarnegara, dimana jangkauan pemasaran antara penjual dan pembeli menjadi lebih sulit dibandingkan di dalam negeri. Penjual yang ingin menawarkan barang ke luar negeri kerap tak didukung dengan modal yang banyak, sehingga e-commerce menjadi alternatif untuk memasarkan produk tersebut.

Perdagangan elektronik, menurut Erik, juga kemudian dapat dimanfaatkan para pengusaha Indonesia untuk mengembangkan pasar usahanya ke luar negeri. “Untuk mendukung perluasan pasar produk dalam negeri melalui e-commerce, tentu saja harus didukung dengan akses Internet yang bagus, sehingga pemerintah sebaiknya mulai mendorong perluasan jaringan ini,” kata dia.

Kasubdit Masyarakat Ekonomi ASEAN, Kementerian Perdagangan RI Ali Akhbar Hehaitu menyatakan, saat ini pemerintah sedang berusaha membuat Peraturan Pemerintah (PP) terkait dengan regulasi e-commerce.

Saat ini, e-commerce masih berada pada payung Undang-Undang (UU) No 7 tahun 2014, ayat 65. Pasal ini menegaskan pelaku usaha yang berkecimpung melalui sistem elektronik wajib menyiapkan data atau informasi secara lengkap dan benar. Setiap pelaku dilarang menggunakan barang dan jasa yang tidak sesuai dengan peraturan yang ada. Data ini maksudnya merupakan identitas pelaku usaha maupun distributornya.

BERITA TERKAIT

Bisa Ganggu Produksi Udang Nasional, KKP Tangkal Virus AHPND

NERACA Jakarta –  Virus acute hepatopancreatic necrosis disease (AHPND) sudah menyerang produksi udang di beberapa negara tetangga. Oleh karenanya, saat…

Booming Industri Rokok Elektrik - Pemerintah Targetkan Cukai Rp 2 Triliun

NERACA Jakarta – Seiring dengan hadirnya regulasi dan payung hukum bagi industri rokok elektrik, kini pelaku industri lebih leluasa dalam…

Dunia Usaha - Industri Hasil Tembakau Tercatat Serap 5,98 Juta Tenaga Kerja

NERACA Jakarta – Industri Hasil Tembakau (IHT) menjadi salah satu sektor manufaktur nasional yang strategis dan memiliki keterkaitan luas mulai…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Sektor Pangan - Kebijakan Impor Bawang Putih Diharapkan Adil Bagi Sektor Swasta

NERACA Jakarta – Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Sugiyono Madelan mengingatkan rencana pemerintah mengimpor bawang putih…

Ekspor Kentang 5.000 Ton Dilepas ke Singapura

NERACA Jakarta – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman secara resmi melepas ekspor kentang hasil produksi petani Kabupaten Garut, Jawa…

GAPKI Dukung Pemerintah Lawan Kebijakan Diskriminatif Uni Eropa

NERACA Jakarta – Wakil Ketua Umum II Pengurus Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Pusat, Susanto Yang mengatakan, pihaknya mendukung…