Realisasi Investasi Capai Rp400 Triliun

Jumat, 12/12/2014

NERACA

Jakarta - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, Franky Sibarani menyebutkan, realisasi investasi hingga akhir 2014 masih berada di kisaran angka Rp 400 triliun. Angka ini mendekati target investasi yakni sebesar Rp 456 triliun atau meningkat sekitar 15 persen dari tahun sebelumnya.

Sementara, target investasi pada 2015 sebesar Rp 524 triliun, atau naik 15 persen dari tahun ini. "Masih diangka Rp 400 an (triliun). Tunggu nih laporan Desember. Mungkin minggu ketiga Januari baru bisa kita update totalnya," kata Franky di Jakarta. Kamis (11/12).

Nilai investasi tersebut diperoleh dari beberapa perusahaan yang bergerak di berbagai bidang, utamanya minyak dan gas. "Ada banyak yah, ada gas. Kemudian ada energi," imbuh Franky.

Franky mengatakan, pemerintah terus berupaya menarik calon investor, salah satunya dengan mempermudah proses birokrasi yang selama ini menjadi keluhan utama calon investor.

Sebelumnya, untuk tahun 2015 mantan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Mahendra Siregar optimis iklim investasi bakal naik, bahkan dirinya menargetkan investasi 2015 akan tumbuh sebesar 18 persen. Pasalnya, realisasi investasi periode Januari-September 2014 mencapai Rp342,7 triliun atau naik 16,8 persen dibanding periode sama tahun lalu sebesar Rp293,9 triliun.

"Kinerja semacam ini memberikan optimisme kami. Kami berharap tahun depan menjadi momentum ekstra positif, karena keberadaan pemerintah baru akan menumbuhkan ekspektasi dan harapan baru dengan program yang kuat. Sehingga 2015 ditargetkan 15 persen-18 persen akan tercapai," ujar Mahendra.

Dia menjelaskan, selama periode Januari-September 2014, untuk Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) telah mencapai Rp114,4 triliun atau naik 21,6 persen.

Sementara, Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp228,3 triliun atau meningkat 14,6 persen dibanding periode sama tahun lalu. Untuk realisasi PMDN, sektor usaha listirk, gas dan air menjadi penyumbang investasi terbesar yaitu Rp34 triliun.

Kemudian diikuti industri makanan Rp14 triliun, transportasi, gudang dan telekomunikasi Rp 9,8 triliun, perumahan, kawasan industri dan perkantoran Rp9,6 triliun, serta industri kimia dasar, barang kimia, dan farmasi Rp9 triliun.

Realisasi PMDN ini tersebar dibeberapa lokasi utama seperti di Jawa Timur (Rp29,7 triliun), Jawa Barat (Rp13,8 triliun), Kalimantan Timur (Rp10,9 triliun), DKI Jakarta (Rp10,5 triliun) dan Jawa Tengah (Rp10,2 triliun).

Realisasi PMA, sektor pertambangan menjadi penyumbang investasi terbesar yaitu USD3,8 miliar, transportasi, gudang dan telekomunikasi USD2,8 miliar, industri makanan USD2,5 miliar.

Selain itu, industri kimia dasar, barang kimia, dan farmasi USD2 miliar, serta tanaman pangan dan perkebunan USD1,6 miliar.Realisasi PMA ini tersebar di beberapa wilayah, antara lain Jawa Barat USD4,7 miliar, DKI Jakarta USD3,6 miliar, Kalimantan Timur USD1,9 miliar, Banten USD1,5 miliar dan Jawa Timur USD1,5 miliar.

"Secara total, realisasi investasi periode Januari-September 2014 di Pulau Jawa sebesar Rp193,3 triliun atau sebesar 56,4 persen. Sedangkan di luar Pulau Jawa sebesar Rp149,4 triliun atau 43,6 persen," katanya.

Untuk lima besar asal negara investor, khususnya pada PMA, Singapura masih menjadi penyumbang utama investasi yaitu USD4,9 miliar, disusul Jepang USD2 miliar, Belanda USD1,5 miliar, Inggris USD1,4 miliar, dan Malaysia USD1 miliar. "Sebenarnya banyak investor asal Amerika Serikat, tetapi kita perlu hati-hati dalam menghitungnya," katanya.

Menurut Mahendra, banyak perusahaan sebagai pemilik utama milik Amerika. Tetapi aliran dananya masuk melalui Singapura. "Maka yang kita catat itu dari aliran dananya, bukan pemilik sahamnya," tandas dia. [agus]