Minyak Dunia Anjlok, Harga Elpiji Belum Turun

Jumat, 12/12/2014

NERACA

Jakarta – Harga gas elpiji dengan ukuran 12 kilogram telah mengikuti harga pasar yaitu dari berdasarkan harga rata-rata di CP aramco (acuan harga minyak dunia) dan nilai tukar rupiah. Hal itu pula yang mendasari Pertamina menaikkan harga gas elpiji 12 kg pada September menjadi Rp18 ribu per kilogram. Akan tetapi di tengah harga minyak dunia tengah anjlok dan juga menyeret turunnya harga kontrak gas Aramco yang dijadikan acuan harga jual elpiji, pemerintah belum juga akan menurunkan harga gas.

Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Teguh Pamuji menyatakan bahwa penurunan harga gas elpiji tidak bisa dilakukan secara cepat karena membutuhkan proses. “Saat ini memang harga gas dunia sebagai bahan baku elpiji tengah menurun, akan tetapi sampai saat ini belum ada rencana untuk menurunkan harga gas elpiji khususnya 3 kg dari Dirjen Migas,” ungkap Teguh di Jakarta, Kamis (11/12).

Ia menjelaskan bahwa untuk menurunkan harga gas perlu proses yang panjang sementara penurunan harga gas saat ini bersifat sementara. Harga gas masih terus berubah-ubah. “Proses menaikkan atau menurunkan harga gas awalnya diusulkan oleh Dirjen Migas kepada Menteri ESDM. Kemudian Menteri ESDM akan mengkaji dan mereview ulang harga sekarang. Lalu jika setuju baru diusulkan ke Presiden dan kementerian lain,” terangnya.

Dilain pihak, Pengamat Energi Umar Said meminta kepada pemerintah untuk tidak menurunkan harga LPG 3 kilogram (Kg). Pasalnya, penurunan harga gas dunia yang terjadi beberapa bulan terakhir hanya bersifat sementara. “Harga gas itu berkolerasi dengan harga minyak. Harga gas dan minyak turun karena faktor politik bukan ekonomi. Jadi hanya bersifat sementara saja dan nanti akan naik lagi,” ujar Umar.

Umar tak menyarankan adanya penurunan harga karena dikhawatirkan akan sulit untuk menaikkan kembali harga dikemudian hari. “Coba sekarang pemerintah menghitung dulu dengan harga gas yang turun, berapa besaran subsidinya. Kalau bedanya sedikit dengan harga keekonomian, jangan turunkan harga LPG 3 Kg. Soalnya kalau sudah turun, susah lagi menaikkan harga LPG,” tuturnya.

Menurutnya, penghematan biaya yang terjadi karena penurunan harga gas dunia sebaiknya disimpan dan digunakan untuk membangun infrastruktur dan program kesejahteraan rakyat. “Kalau harga turun, kelebihannya dimasukkan ke APBN saja. Untuk bangun infrastruktur seperti bangun asrama mahasiswa dan beasiswa pendidikan,” tukasnya.

Berdasarkan riset, harga kontrak gas Aramco yang menjadi acuan harga gas internasional saat ini turun rata-rata 30% ke level US$ 550 per metrik ton, dari harga Juni 2014. Awal Desember 2014, gas jenis propana turun 34% dari harga kontrak Juni, sedangkan harga gas butana turun sekitar 32% di periode yang sama. Kedua jenis gas ini adalah unsur pembentuk elpiji.

Kendati begitu, Wakil Presiden Jusuf Kalla menegaskan pemerintah tidak akan menurunkan harga jual gas elpiji 3Kg. Pemerintah lebih memilih untuk menghemat subsidi. Sebagai gambaran, tahun ini dan tahun depan, pemerintah mengalokasikan anggaran subsidi gas tabung isi 3Kg sebesar Rp 55 triliun. Lantaran harga gas turun, “Otomatis subsidi subsidi akan berkurang,” ucapnya.

Kalla menuturkan, selama tujuh tahun terakhir, subsidi elpiji 3 kilogram mencapai Rp 450 triliun. Dalam APBN 2015 subsidi elpiji 3 kg dipatok Rp 55,1 triliun. “Kalau bisa hemat Rp 40 triliun. Jadi sekarang subsidinya Rp 10 triliun-Rp 15 triliun saja,” katanya.

Sebelumnya, Wapres akan mengevaluasi subsidi elpiji 3 Kg seiring nilainya yang terus membumbung dari tahun ke tahun dan distribusi yang kurang tepat sasaran. JK menuturkan membengkaknya nilai subsidi elpiji 3 Kg antara lain didorong oleh kenaikan harga elpiji di Arab Saudi. Namun, Kalla meyakini, subsidi elpiji yang saat ini bergulir, lebih hemat dibandingkan dengan subsidi minyak tanah.

Pengamat energi John Karamoy berharap, penghematan subsidi energi akibat penurunan harga minyak dan gas elpiji ini bisa dialokasikan untuk program lain yang lebih bermanfaat. Namun, bila harga elpiji dunia turunnya banyak. “Saat ini ada alasan buat pemerintah untuk menurunkan harga elpiji di dalam negeri,” kata John.

Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro mengungkapkan subsidi elpiji 3 Kg secara perlahan telah menjadi subsidi terbesar ketiga setelah listrik dan BBM. Pagu subsidi elpiji 3 Kg melambung dalam kurun 8 tahun terakhir. Dari semula hanya Rp564 miliar menjadi Rp55,12 triliun dalam APBN 2014.

Pembengkakan subsidi elpiji 3 Kg didorong oleh mekanisme subsidi harga yang membuat pemeirntah harus menyubsidi harga ritel yang hanya Rp4.000 per Kg, sedangkan harga elpiji di pasar internasional ditaksir sekitar Rp12.000 per Kg.