Kendati Fokus Benahi Kelautan, Sektor Budidaya Jangan Diabaikan

Perikanan

Jumat, 12/12/2014

NERACA

Jakarta – Dalam beberapa bulan terakhir, pemerintah tengah fokus di sektor kelautan. Terbukti beberapa kapal asing yang mencuri ikan ditangkap lalu dibakar sehingga diharapkan memberikan efek jera. Di tengah keseriusan pemerintah memberikan efek jera di sektor kelautan, pemerintah diminta untuk tidak melupakan sektor budidaya perikanan. Pasalnya sektor tersebutlah yang membuat menyerap tenaga kerja banyak dan memberikan sumbangsih ekspor cukup besar di sektor pangan.

Ketua Dewan Pembina Kesatuan Nelayan Tradisional (KNTI) Riza Damanik menyatakan bahwa ada setidaknya 4 juta petambak yang seolah-olah ditelantarkan oleh pemerintah. Pasalnya dalam beberapa hari terakhir, pemerintah tengah fokus menenggelamkan pencuri ikan di perairan Indonesia. “4 juta petambak itu juga meminta perhatian dari pemerintah,” ungkap Reza dalam Diksusi Cerdas Lawan Pencuri Ikan di Jakarta, Kamis (11/12).

Riza menyampaikan bahwa sektor budidaya perikanan memiliki peran ekspor cukup besar di sektor perdagangan. Sementara itu, sektor perikanan tangkap cenderung mengalami penurunan karena semakin sedikitnya jumlah ikan di laut dan faktor cuaca. “Budidaya itu telah menyelamatkan performa perikanan Indonesia. Ekspor ikan kita lebih banyak adalah ikan budidaya bukan dari perikanan tangkap,” jelasnya.

Namun disisi lain, budidaya perikanan juga menimbulkan masalah tersendiri karena semakin berkembangnya budidaya akan tetapi tidak diimbangi dengan pasokan pakan sehingga alhasil masih mengandalkan impor. “Ini seharusnya menjadi tugas dari pemerintah agar tidak mengandalkan impor. Padahal kita mampu untuk membuat pakan sendiri. Artinya budidaya harus tetap diperhatikan oleh pemerintah,” ujarnya.

Tetap Diperhatikan

Akan tetapi, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan, Slamet Soebjakto mengaku bahwa Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) akan tetap memperhatikan kegiatan perikanan budidaya sehingga terus menjadi fokus utama dalam mengembangkan sektor perikanan di Indonesia pada masa yang akan datang.

“Ibu Menteri (Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti ) tetap fokus dalam mengembangkan perikanan budidaya meskipun fokus utamanya saat ini untuk menanggulangi illegal fishing. Apalagi produksi perikanan tetap menjadi perhatian utama pemerintahan Pak Jokowi seperti dalam janji kampanyenya dengan meningkatkan produksi perikanan dua kali lipat lebih banyak,” katanya.

Slamet juga mengatakan produksi total perikanan budidaya selama semester tiga pada tahun ini baru mencapai 75% dengan target produksi 13,7 juta ton pada tahun ini. Kemudian diharapkan pada lima tahun yang akan datang atau tahun 2019, produksi total perikanan budidaya bisa mencapai target 33 juta ton. "Perlu kerja ekstra keras untuk mencapai target produksi pada tahun ini, tapi saya optimis bisa tercapai target produksi yang masih 25% belum terpenuhi," ujar dia.

Menurut dia, total produksi perikanan budidaya yang masih 75 persen ini dikarenakan pada awal tahun ini terjadi bencana banjir yang mengakibatkan produksi tidak optimal. Namun, target produksi akan tetap tercapai dikarenakan pada akhir tahun ini akan terjadi panen yang cukup siginifikan sehingga tingkat produksi akan meningkat. "Saya sarankan untuk tahun depan, untuk mengantisipasi menghadapi resiko banjir pada awal tahun maka para pembudidaya harus menahan untuk tidak menebar benih pada awal tahun depan, pada bulan Januari dan Februari," tambah dia.

Dia menjelaskan produksi perikanan budidaya terbesar masih didominasi oleh budidaya ikan air tawar dengan komoditas ikan nila, mas dan lele memainkan peran penting bagi peningkatan produksi jenis ikan air tawar. Kontribusinya saling melengkapi dengan komoditas lainnya seperti rumput laut dan udang. “Peningkatan produksi budidaya air tawar yang signifikan ini tidak terlepas dari pelbagai aspek yakni dari hasil penggunaan induk dan benih unggul, pakan yang sesuai dan efisien, penerapan teknologi yang aplikatif dan inovatif,” jelas Slamet.

Slamet menambahkan, total akuakultur melalui intensifikasi usaha perikanan budidaya perlu dilaksanakan dengan tetap memperhatikan daya dukung lingkungan budidaya. Hal ini diperlukan agar produksi ikan melalui sistem ini dapat diperoleh secara berkelanjutan. “Disamping intensifikasi, usaha budidaya air tawar juga berpeluang untuk mempercepat pemasukan pendapatan melalui segmentasi usaha, mulai dari usaha pembenihan, pendederan I bahkan sampai III tahap dan juga pembesaran. Setiap lini dari usaha budidaya air tawar itu menjajinkan tambahan pendapatan bagi masyarakat,” kata dia.

Dia menambahkan untuk meningkatkan kegiatan perikanan budidaya maka diperlukan kebijakan atau peraturan yang diatur untuk diaplikasikan kepada masyarakat dan tidak membebani pembudidaya. Peraturan-peraturan harus dikaji atau direvisi sehingga bisa diarahkan kepada budidaya berkelanjutan. “Peraturan-peraturan ini juga memperhatikan masyarakat budidaya dalam suatu sistem usaha,” lanjut Slamet.