Mengukur Kehebatan Lembaga Pendidikan

Oleh: Prof. Dr. H. Imam Suprayogo, Dosen UIN Malang

Jumat, 12/12/2014
Ada saja orang bertanya tentang ukuran kehebatan sebuah lembaga pendidikan. Dulu, lembaga pendidikan belum sebanyak seperti sekarang ini. Jumlahnya masih terbatas, sehingga orang tidak memiliki pilihan. Berbeda dengan dulu, sekarang ini jumlah lembaga pendidikan sudah sedemikian banyak. Dengan demikian, orang secara leluasa bisa memilih yang dianggap terbaik.

Jika diteliti secara saksama, sebenarnya kegiatan belajar itu hanya menjadi urusan dua orang, yaitu guru dan murid. Manakala keduanya berkualitas maka hasilnya akan berkualitas pula. Guru yang berkualitas akan bisa menghasilkan lulusan yang hebat, apalagi kualitas guru itu disempurnakan dengan kualitas muridnya.

Sejak zaman dahulu, ketika seseorang berkeinginan menjadi hebat maka akan memilih guru yang hebat. Oleh karena itu, seorang cantrik yang akan belajar ke padepokan, dan memiliki peluang memilih, maka ia akan memilih padepokan yang memiliki resi yang hebat. Mereka berpikir bahwa dari para resi yang hebat, maka cantrik itu akan memperoleh ilmu dan berhasil membangun pribadi yang unggul.

Demikian pula di kalangan pesantren. Seorang santri akan memilih kyai yang dianggap alim atau memiliki kelebihan dalam ilmu tertentu. Para santri juga mengetahui bahwa di masing-masing pesantren terdapat kyai yang memiliki kealiman terhadap ilmu tertentu secara berbeda-beda. Ada kyai yang alim di bidang Bahasa Arab, ada kyai yang alim di bidang ilmu fiqh, atau ilmu tafsir, ilmu tasawwuf, ilmu hadits, dan lain-lain.

Para santri yang berkeinginan menjadi aliem di bidang ilmu tasawwuf, maka mereka akan datang ke pesantren yang diasuh oleh kyai yang memiliki kelebihan di bidang ilmu yang dimaksudkan itu. Kyai yang alim di bidang ilmu fiqh akan didatangi oleh para santri yang ingin mendalami ilmu fiqh, atau tafsir, hadits, dan lain-lain.

Atas dasar pemahaman seperti tersebut itu, maka para cantrik dan atau santri di dalam melihat kehebatan institusi pendidikan, seperti misalnya padepokan atau pesantren, maka yang diperhatikan terlebih dahulu adalah ketenaran resi atau kyai pengasuh lembaga pendidikan itu. Mereka tidak peduli dengan letak lembaga pendidikan itu, keindahannya, maupun kecukupan sarana dan prasarana pembelajaran yang disediakannya. Bagi mereka yang terpenting adalah tingkat kealiman guru yang akan diserap ilmunya.

Namun sekarang ini tatkala mengukur kehebatan lembaga pendidikan modern, seperti sekolah, madrasah, atau perguruan tinggi, justru lebih banyak melihat variabel di luar guru atau dosen. Mereka melihat kurikulumnya, biaya penyelenggaraan, sistem evaluasi, keindahan gedungnya, dan sejenisnya. Kiranya hal itu boleh-boleh saja, variabel lain dilihat dan menjadi ukuran, tetapi sebenarnya guru atau dosen adalah yang seharusnya dijadikan ukuran utama.

Seperti yang disebutkan di muka, bahwa proses pembelajaran, sebenarnya adalah urusan dua orang, yaitu guru dan murid. Manakala gurunya berkualitas, maka hasil pendidikan itu akan bagus, dan begitu pula sebaliknya. Kurikulum yang hebat, sarana dan prasarana yang berlebihan, dan lain-lainnya juga tercukupi, tetapi jika lembaga pendidikan itu tidak mampu menyediakan guru yang hebat, maka semua itu tidak banyak artinya.

Namun sayangnya, tatkala orang berusaha meningkatkan kualitas lembaga pendidikan, yang dipikirkan bukan guru atau dosen, melainkan hal lain di luar itu. Mereka disibukkan dengan urusan di luar guru dan murid, bahkan hingga menyangkut manajemen, kepemimpinan, gedung, peralatan sekolah, laporan kepala sekolah dan masing-masing guru, dan lain-lain. Hal itu sebenarnya tidak mengapa, asalkan tidak mengganggu upaya peningkatan kualitas guru dalam pengertian seluas-luasnya.

Demikian juga terkait perguruan tinggi. Untuk mengukur kehebatannya, seharusnya meniru orang tatkala melihat kualitas padepokan dan atau pesantren. Padepokan disebut hebat manakala terdapat resinya yang hebat, demikian pula pesantren disebut hebat manakala diasuh oleh kyai yang hebat. Maka seharusnya, perguruan tinggi juga berpandangan bahwa kampus yang hebat adalah manakala pada instiutusi itu terdapat guru besar atau profesor yang hebat.

Ukuran kehebatan guru besar atau profesornya bukan semata-mata karena umurnya, tetapi seharusnya dilihat dari karya-karya akademiknya. Misalnya, berapa banyak buku yang diterbitkan, hasil penelitian yang menjadi bahan perbincangan kalangan luas, dan berapa jumlah artikel yang pernah ditulis, dan semacamnya. Manakala suatu kampus perguruan tinggi tidak memiliki profesor atau guru besar, maka sebenarnya sama halnya dengan padepokan tidak memiliki resi atau pesantren tidak diasuh oleh kyai hebat. Wallahu a'lam. (uin-malang.ac.id)