Meraup Cuan di Bisnis Pengiriman dan Logistik

Perbaikan Infrastruktur Jadi Kuncinya

Kamis, 11/12/2014

NERACA

Jakarta – Berkembang pesatnya kemajuan teknologi saat ini, membawa kehidupan masyarakat berubah sangat dinamis dan termasuk pada pola kehidupan yang modern, praktis dan efisien. Hal ini juga membawa pada pergeseran perubahan transaksi dari konvensional ke online yang semakin terlihat nyata. Indikasinya pertumbuhan pengguna smartphone dan internet semakin tinggi. “e-Money sangat dibutuhkan di Indonesia dengan sebaran penduduk di berbagai pulau. Ke depannya model transaksi seperti iPaymu akan menjadi pilihan para konsumen,”kata pengamat e-money dari ITB, Agung Harsoyo.

Saat ini tren pertumbuhan bisnis belanja e-commerce mulai digarap berbagai industri perbankan dan termasuk operator seluler mengingat potensi pasarnya yang sangat menjanjikan. Hal ini ditopang dengan daya beli masyarakat, pertumbuhan ekonomi yang positif dan tingginya pengguna smartphone di Indonesia. Data Kementerian Komunikasi dan Informatika menyebutkan, total nilai transaksi e-commerce Indonesia pada 2013 mencapai US$ 8 miliar atau sekitar Rp 94 triliun dan diprediksi terus meningkat hingga mencapai US$ 24 miliar atau sekitar Rp 283 triliun pada 2016.

Berkembang pesatnya bisnis e-commerce, rupanya menjadi berkah bagi industri logistik di dalam negeri yang menjadi turunannya untuk pengiriman barang. Apalagi, Indonesia sebagai negara kepulauan yang memiliki 17.508 pulau dengan jumlah populasi yang besar sebanyak 242 juta penduduk, menyimpan potensi pasar yang menjanjikan di sektor logistik. Tiap tahunnya pertumbuhan pasar logistik terus meningkat tajam. Jika di tahun 2011, potensi bisnis logistik mencapai Rp 1.400 triliun, berikutnya tahun 2013 nilai bisnis logistik menembus angka US$ 150 miliar atau Rp 1.722 triliun. Maka di tahun 2015 nanti diprediksikan akan tumbuh 14,7% dengan estimasi mencapai Rp 1.849 triliun hingga Rp1.951 triliun.

Besarnya potensi pasar logistik di Indonesia, diakui langsung Freddy Chang, Vice President Singapore Post. Dirinya menuturkan, industri logistik Indonesia punya potensi sangat besar untuk berkembang. Hal iu tercermin dari pertumbuhan pesat perdagangan online seiring dengan meningkatnya penggunaan internet dan penggunaan gadget,”Indonesia punya peluang bagus karena daya beli kelas menengahnya tumbuh terutama untuk e-commerce," katanya.

Dukungan pemerintah dinilai penting oleh Freddy, terutama dalam mempercepat pembangunan infrastruktur logistik. Arah kebijakan pemerintahan Joko Widodo dinilai sudah mengarah pada hal itu."Lalu pemerintah juga punya atensi terhadap pengembangan industri kreatif dan e-commerce, misalnya dengan mendorong pembayaran secara elektronik dan digitalisasi ekonomi,”ujarnya.

Hal senada juga disampaikan Supphakit Roopsuwankun, Assitent General Manager Nippon Express yang mengatakan, liberalisasi perdagangan global saat ini terfokus pada kawasan Asean. Kawasan ekonomi Asia Tenggara ini punya potensi pasar logistik yang cukup besar seiring dengan pertumbuhan produksi dan konsumsi,”Indonesia adalah negara terbaik untuk investasi dalam waktu satu sampai tiga tahun ke depan dari sekarang,”paparnya.

Maka tidak heran, pasar bebas MEA nanti akan menjadi peluang potensi pasar yang menjanjikan dan juga jadi ancaman, bila daya saing masih lemah dan Indonesia hanya akan menjadi pasar. Oleh karena itu, kalau tidak ingin Indonesia hanya menjadi pasar, maka para pengusaha dan pemerintah harus segera membenahi sistem logistik Indonesia. Terutama menyangkut kendala infrastruktur dan regulasi.

Bangun Konektivitas

Selain itu, masalah konektivitas domestik juga menjadi menghambat perkembangan bisnis ini. Contoh, minimnya sarana transportasi yang bisa menghubungkan berbagai daerah dengan bandara internasional. Johari Zein, Managing Director PT JNE mengatakan, konektivitas antara satu kabupaten dengan kabupaten lainnya menjadi sebuah potensi. Namun, banyak pihak yang tidak melihat sebagai potensi justru malah menimbulkan cost yang tinggi.

Diakui Johari, meski potensi yang ada melimpah ruah, namun pembangunan dan keadaan infrastruktur yang tidak merata menyebabkan terhambatnya distribusi barang dan ini menjadi tantangan serta hambatan industri logistik,”Ketersediaan infrastruktur yang bottle neck di Indonesia misalnya antara antara Jawa dengan Sumatera," kata Johari.

Selain itu, regulasi juga menjadi hambatan karena industri logistik yang luas segmennya itu perlu pemahaman bagi regulator bahwa untuk melayani logistik jenis produk tertentu butuh knowlegde yang tepat,”Kalau regulator tidak tepat teknologi, berapa banyak kerugian kita kalau nggak bisa mengelola,”tandasnya.

Namun yang pasti, Johari menegaskan, industri logistik Indonesia memiliki potensi pasar yang menanjikan, di antaranya adalah kekuatan atau daya beli kelas menengah yang semakin besar,”Tumbuhnya investasi juga membuat industri di bidang logistik berpotensi untuk maju ke depannya," kata Johari.

Selanjutnya, pertumbuhan ekonomi domestik pun tidak kalah penting menjadi sebuah potensi. Dengan ekonomi yang tumbuh, maka masyarakat bisa melakukan pembelian terhadap consumer goods dan barang lainnya.Pasar di Indonesia, kata Johari, akan banyak mengalir ketika mulai banyak barang yang diperdagangkan, dan itu menjadi potensi untuk di-delivery,”ujarnya.(bani)