Kenaikan BBM dan TDL Beratkan Masyarakat

NERACA

Jakarta - Presiden Asosiasi Serikat Pekerja atau Aspek Indonesia, Mirah Sumirat menolak rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) dan tarif dasar listrik (TDL) berdampak memberatkan masyarakat.

Dalam aksinya Aspek Indonesia menuntut pemerintah untuk menurunkan kembali harga BBM sesuai harga minyak dunia dan tidak menaikkan TDL, karena akan memberatkan biaya hidup masyarakat," kata Mirah Sumirat dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (10/12)

Untuk menjaga daya beli rakyat dari penurunan akibat kenaikan harga BBM dan TDL, Aspek juga meminta pemerintah untuk menaikan upah minimum 2015 melalui mekanisme penghitungan di dewan pengupahan masing-masing daerah.

Aspek Indonesia juga menuntut penghitungan ulang upah minimum selain disesuaikan dengan kenaikan harga BBM dan TDL juga menggunakan kebutuhan hidup layak (KHL) yang diperbaiki dari 60 komponen menjadi 84 komponen.

"Kami juga menuntut pemerintah untuk segera mengesahkan rancangan peraturan pemerintah tentang jaminan pensiun wajib sehingga bisa segera dilaksanakan paling lambat Januari 2015," tuturnya.

Selain itu, sama dengan tuntutan elemen buruh yang lain, Aspek Indonesia juga menuntut penghapusan sistem kerja alih daya atau "outsourcing" khususnya di badan usaha milik negara (BUMN) dan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan.

Aspek Indonesia mendesak BUMN dan BPJS Kesehatan segera mengangkat pekerja alih daya menjadi pekerja tetap seiring dengan penghapusan sistem alih daya. Selain itu, Aspek Indonesia juga menuntut pengangkatan guru dan pegawai honorer di pemerintahan menjadi pegawai negeri sipil.

"Pekerja bersama rakyat akan terus menuntut keadilan dan kesejahteraan karena negara telah menjamin hal tersebut dalam UUD 1945. Pemerintah selaku pengemban amanah konstitusi wajib menjamin dipenuhinya keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia," pungkasnya.

Aspek Indonesia sebagai federasi serikat pekerja sektor jasa, antara lain telekomunikasi, perbankan, asuransi, perdagangan, pos, logistik, grafika, properti, security dan kesehatan, bersama seluruh elemen pekerja dan rakyat, pada Rabu dan Kamis akan turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasi rakyat.

Jauh sebelumnya, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menilai kenaikan BBM subsdi dan TDL akan memberatkan masyarakat.

Anggota Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi menilai serempaknya kenaikan BBM dan TDL secara psikologis sangat memberatkan beban masyarakat. Apalagi, waktu yang diambil pemerintah antara kenaikkan harga BBM subsidi dan TDL berdekatan. "Secara psikologis, berbarengan dengan kenaikan harga BBM dan TDL itu berat bagi masyarakat," ungkapnya.

Atas hal itu, menurut Tulus, paling tidak baiknya selang kenaikan BBM dengan TDL tiga bulan. Tidak berdekatan hanya berselang satu bulan. [agus]

BERITA TERKAIT

Asda I Pemkot Sukabumi Apresiasi Masyarakat Atas Tingginya Pemahaman Produk Hukum - Bagian Hukum Setda Kota Sukabumi Gencar Penyuluhan Hukum

Asda I Pemkot Sukabumi Apresiasi Masyarakat Atas Tingginya Pemahaman Produk Hukum Bagian Hukum Setda Kota Sukabumi Gencar Penyuluhan Hukum NERACA…

Pertamina EP dan Chemindo Inti Usaha Jalin Kerjasama - Pemanfaatan CO2

        NERACA   Jakarta - PT Pertamina EP dan PT Chemindo Inti Usaha bersepakat menjalin kerja sama…

Sinarmas MSIG dan Bank Jatim Syariah Luncurkan Bancassurance

  NERACA   Surabaya - PT Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG (Sinarmas MSIG Life) bersama PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Mengganti Terigu Impor dengan Produk Buatan Lokal - Teknologi Pangan

        NERACA   Bogor - Mie memang menjadi santapan favorit masyarakat Indonesia, tanpa pandang usia. Sayangnya mie…

Mewaspadai Inflasi Di Akhir Tahun

      NERACA   Jakarta - Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai ancaman…

LPEI Mendorong BUMN Ekspor ke Pasar Prospektif

    NERACA   Jakarta – Pasar prospektif menjadi salah satu alternatif negara tujuan untuk memperluas ekspor di samping Cina…