Diburu Aksi Beli, IHSG Kembali Rebound

Kamis, 11/12/2014

NERACA

Jakarta – Mengakhiri perdagangan Rabu sore, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) berhasil rebound dan ditutup menguat 43,095 poin (0,84%) ke level 5.165,407. Sementara Indeks LQ45 melonjak 9,161 poin (1,04%) ke level 890,073.

Kata analis Asjaya Indosurya Securities, William Suryawijaya, nilai tukar rupiah yang mengalami apresiasi terhadap dolar AS menjadi salah satu sentimen positif bagi pasar saham domestik. Di sisi lain, lanjut dia, bursa saham global yang mayoritas bergerak menguat juga menjadi salah satu pendorong investor di dalam negeri kembali mengambil posisi akumulasi dan membuat indeks BEI mengalami penguatan,”Minimnya sentimen di dalam negeri, membuat investor mencermati laju pergerakan bursa saham global," katanya di Jakarta, Rabu (10/12).

Secara teknikal, dia menambahkan bahwa pergerakan IHSG BEI pada Rabu ini menunjukkan potensi kenaikan lebih lanjut cukup terbuka ke depannya untuk mencapai target batas atas di level 5.229 poin. Sementara itu, analis HD Capital Yuganur Wijanarko mengatakan bahwa kenaikan IHSG BEI masih dibayangi oleh aksi jual pelaku pasar saham yang mulai antisipasi sentimen negatif dari potensi inflasi Desember diperkirakan di atas 2,2 persen akibat kenaikan BBM di pertengahan bulan November lalu,”Inflasi Desember masih akan membayangi pasar saham domestik,”ujarnya.

Berikutnya, indeks BEI atau IHSG pada perdagangan Kamis akan kembali melanjutkan penguatan. Pada perdagangan Kamis, aksi beli investor domestik memberi dorongan cukup kuat. Investor asing masih memilih untuk jual saham. Transaksi investor asing hingga sore tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 48,677 miliar di seluruh pasar.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 272.323 kali dengan volume 6,772 miliar lembar saham senilai Rp 5,183 triliun. Sebanyak 170 saham naik, 129 turun, dan 87 saham stagnan. Harga minyak dunia yang sedikit naik memberi sentime positif ke pergerakan bursa regional. Sore kemarin rata-rata menguat, hanya bursa saham Jepang yang masih merah.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Gudang Garam (GGRM) naik Rp 625 ke Rp 59.700, Blue Bird (BIRD) naik Rp 525 ke Rp 8.300, BRI (BBRI) naik Rp 325 ke Rp 11.550, dan Bank Mandiri (BMRI) naik Rp 250 ke Rp 10.775. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Merck (MERK) turun Rp 3.000 ke Rp 157.000, Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 1.000 ke Rp 16.700, Maskapai Reasuransi (MREI) turun Rp 400 ke Rp 5.000, dan HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 350 ke Rp 67.650

Perdagangan sesi pertama, IHSG ditutup menguat 14,607 poin (0,29%) ke level 5.136,919. Sementara Indeks LQ45 naik 2,926 poin (0,33%) ke level 883,838. Saham-saham pertambangan dan perdagangan masih terkena aksi jual. Indeks bisa menguat berkat penguatan saham bank dan infrastruktur.

Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 130.489 kali dengan volume 2,583 miliar lembar saham senilai Rp 2,063 triliun. Sebanyak 147 saham naik, 118 turun, dan 82 saham stagnan. Bursa-bursa regional masih bergerak variatif hingga siang. Bursa saham Jepang dan Hong Kong masih terjebak di zona merah.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Blue Bird (BIRD) naik Rp 425 ke Rp 8.200, Gudang Garam (GGRM) naik Rp 400 ke Rp 59.475, BRI (BBRI) naik Rp 200 ke Rp 11.425, dan Asuransi Dayin (ASDM) naik Rp 190 ke Rp 1.190. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Matahari (LPPF) turun Rp 425 ke Rp 15.050, Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 400 ke Rp 17.300, HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 350 ke Rp 67.650, dan Saratoga (SRTG) turun Rp 300 ke Rp 4.900.

Diawal perdagangan, IHSG dibuka melemah 0,73 poin atau 0,01% ke posisi 5.121,57 dan indeks 45 saham unggulan (LQ45) turun 0,18 poin atau 0,02% ke posisi 880,72,”Indeks BEI sedang dalam fase konsolidasi sehingga pergerakannya terbatas, sentimen eksternal cenderung negatif sementara dari dalam negeri masih ada faktor optimis terkait komitmen pemerintah untuk mendorong pembangunan infrastruktur," kata Kepala Riset Woori Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada.

Di tengah kondisi itu, dia menambahkan bahwa setelah indeks BEI mengalami pelemahan, potensi untuk bergerak naik kembali cukup terbuka. Beberapa saham sektor konstruksi dan properti serta saham-saham lapis ke dua diharapkan mampu menahan pelemahan.

Di sisi lain, lanjut dia, mata uang rupiah yang mulai bergerak di kisaran sempit cenderung stabil seiring dengan intervensi dari Bank Indonesia diharapkan juga menopang laju indeks BEI. Sementara itu, tim analis teknikal Mandiri Sekuritas dalam kajiannya mengemukakan bahwa pemerintah akan mengajukan revisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2015, diharapkan dapat mendorong laju ekonomi ke depan.

Dia memaparkan bahwa pemerintah mematok pertumbuhan ekonomi tahun depan sebesar 5,8%, dan akan mengandalkan proyek infrastruktur untuk mencapai targetnya itu. Proyek jalan tol laut dan infrastruktur dasar diharapkan menggerakan industri lokal sekaligus memicu investor asing masuk ke Indonesia,”Itu yang membuat anggaran proyek infrastruktur naik dua kali lebih besar menjadi Rp400 triliun di 2015," katanya.

Tercatat bursa regional, di antaranya indeks Bursa Hang Seng dibuka menguat 10,72 poin (0,05%) ke 23.496,55, indeks Nikkei turun 239,89 poin (1,35%) ke 17.573,49, dan Straits Times menguat 4,85 poin (0,15%) ke posisi 3.324,55. (bani)