Praktek GCG Menjadi Jaminan Bagi Investor

Wujudkan Perlindungan Investor

Kamis, 11/12/2014

NERACA

Jakarta – Penerapan Good Corporate Governance dalam industri pasar modal menjadi keharusan bagi setiap pelaku usaha, emiten atau anggota bursa. Hal ini dilakukan guna menciptakan keamanan berinvestasi dan menumbuhkan daya saing.

Kata Direktur Bursa Efek Indonesia (BEI), Hosein penerapan tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance/GCG) telah menjadi jaminan perlindungan penting bagi investor,”GCG ini merupakan 'gatekeeper' perlindungan investor di pasar modal. Jadi perlindungan investor ini dimensinya tak terbatas," katanya di Jakarta, kemarin

Mengingat besarnya manfaat dari penerapan tata kelola perusahaan yang baik, Hoesin meminta

emiten berlomba untuk menerapkan GCG dengan standar yang tinggi dan bahkan dapat menjadi jajaran atas di tingkat ASEAN.

Dirinya mengakui, penerapan GCG sebagai tradisi korporasi masih kurang melekat di Indonesia. Beberapa negara, terutama negara maju, implementasi GCG telah diwajibkan bagi seluruh perusahaan, termasuk perusahaan yang belum "go public". Padahal GCG sangat berperan dalam mempengaruhi persepsi investor,”Maka itu landasan filosofis semua regulator pasar modal di dunia pasti termasuk penerapan GCG," ujarnya.

Salah satu inisiatif BEI, kata dia, adalah mendukung kebijakan pengawas pasar modal, dalam hal ini Otoritas Jasa Keuangan (OJK), agar segala kebijakan OJK yang terutama terkait GCG itu dapat diadaptasi emiten. Salah satu kebijakan OJK mengenai penerapan GCG adalah peraturan pengawasn terintegrasi bagi konglomerasi keuangan.

Menurutnya, kebijakan ini dibuat untuk membuat induk usaha perusahaan yang memimpin konglomerasi menerapkan standar tata kelola dan manajemen risiko yang sama terhadap anak usahanya. Sementara Deputi Komisioner Bidang Pengawasan Pasar Modal OJK, Noor Rachman mengatakan, pada 2015 beberapa peraturan OJK juga akan terbit, terutama yang mengatur mengenai keterbukaan informasi bagi publik, dan juga struktur pelaporan keuangan,”Beberapa peraturan ini seharusnya mendorong emiten-emiten Indonesia masuk jajaran atas di ASEAN dalam pengelolaan GCG,”ungkapnya.

Sebelumnya, Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman Hadad pernah bilang, penerapan tata kelola perusahaan yang baik bukan lagi menjadi keharusan, melainkan kebutuhan perusahaan-perusahaan dalam menjalankan bisnis. Pasalnya, berdasarkan hasil penelitian, perbaikan governance sangat menentukan minat investasi.

Muliaman menjelaskan, penerapan GCG mampu menarik minat investor untuk menanamkan investasinya maupun perbankan untuk memberikan pinjaman pada perusahaan-perusahaan di Indonesia. “Untuk itu, penerapan GCG pun sepatutnya bukan lagi dianggap sebagai keharusan, melainkan kebutuhan bagi perusahaan dalam menjalankan bisnis,”tandasnya.

Menurut dia, di Amerika Serikat, perusahaan emiten yang governance-nya lemah terlihat pada harga sahamnya. Karena itu, sebenarnya GCG bukan hanya menjadi motivasi tetapi sesuatu yang bisa dijual. “Tidak mungkin banyak investor yang akan datang ke Indonesia jika governance-nya tidak jalan," tambah dia. (bani)