Wapres Anggap MEA 2015 Tidak Ada Bedanya dengan Sekarang - Pasar Bebas ASEAN Sebentar Lagi

NERACA

Jakarta - Pelaksanaan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 tinggal menghitung hari, paling tidak pas tanggal 1 Januari 2016 pintu gerbang negara-negara ASEAN akan terbuka baik produk maupun sumber daya manusianya. Disaat beberapa kalangan melihat MEA 2015 akan menjadi ancaman karena kesiapan Indonesia belum kuat, namun Wakil Presiden Jusuf Kalla melihat bahwa penerapan MEA 2015 tidak ada bedanya dengan sekarang.

JK yang memberikan sambutan di Hotel Shangrila, Jakarta, Rabu (10/12) menegaskan bahwa MEA tidak ada bedanya dengan sekarang. "Tidak ada bedanya dengan sekarang karena saat MEA mungkin akan banyak produk yang masuk ke Indonesia. Namun, apa bedanya dengan sekarang. Toh sekarang juga banyak produk dari luar yang masuk ke Indonesia," ucap JK.

Soal sumber daya manusia (SDM) dari negara-negara ASEAN yang akan dikhawatirkan masuk ke Indonesia ditengah ketidaksiapan SDM dari Indonesia, JK merasa bahwa orang-orang dari Malaysia ataupun Singapura tidak akan menyerbu Indonesia karena pendapatan di Indonesia jauh lebih kecil dibandingkan ke kedua negara tersebut. Sehingga, menurut dia, hal itu tidak akan terjadi.

"Tenaga-tenaga ahli seperti dokter, insinyur atau jenis pekerjaan apapun itu yang ada di negara-negara ASEAN akan sulit mengambil keuntungan di Indonesia. Karena pendapatan masyarakat di Indonesia jauh lebih rendah dibandingkan dengan Singapura dan Malaysia. Misalnya dokter di Singapura tidak akan mendapatkan keuntungan besar karena sekali praktek hanya mendapatkan Rp200 ribu, lain halnya jika mereka praktek di negaranya yang nilainya jauh lebih tinggi," jelasnya.

Namun begitu, JK mengatakan bahwa pemerintah tetap menyiapkan agar Indonesia bisa bersaing di regional. Maka dari itu, pemerintah tengah konsentrasi untuk mengembangkan potensi-potensi untuk meningkatkan pendapatan, salah satunya sektor kelautan. Karena selama ini potensi kelautan Indonesia kurang tergarap dengan baik padahal potensinya bisa mencapai rubuan triliun.

Belum Optimal

Sementara itu, Direktur Eksekutif Core Indonesia Hendri Saparini menilai bahwa persiapan Indonesia menghadapi MEA memang masih jauh dari optimal. Menurut dia, sejauh ini pemerintah baru melakukan sosialisasi tentang apa itu MEA belum pada sosialisasi apa yang harus dilakukan untuk memenangi MEA.

Sosialisasi tentang MEA pun ternyata masih belum 100% karena baru dilaksanakan di 205 kabupaten dari jumlah 410 kabupaten yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Padahal sejumlah negara ASEAN lainnya sudah lebih maju. Thailand misalnya. Melalui National Economic and Social Development Council, pemerintah Thailandtelah melakukan persiapan secara komprehensif dan menyusun delapan strategi khusus untuk menghadapi MEA untuk waktu 3 tahun (2012-2015) karena MEA ditetapkan sebagai prioritas utama yang melibatkan berbagai institusi pemerintah dan kalangan pengusaha.

Dia mengatakan salah satu strategi yang dilakukan Thailand untuk memenangi MEA adalah memprioritaskan sektor peternakan. Pemerintah Thailand melakukan peningkatan kualitas manajemen budidaya ternak dan melakukan ekspansi investasi ke negara tetangga seperti Myanmar.

Hendri menjelaskan dari segi persiapan, Indonesia masih jauh ketinggalan terutama dari aspek perencanaan strategi dan kebijakan, jika di Thailand MEA dijadikan prioritas utama serta pemerintahnya membuat program khusus dengan melibatkan pejabat tinggi pemerintah, BUMN dan masyarakat sipil sedangkan di Indonesia, pemerintah belum ada strategi konkret dan penetapan sektor yang menjadi prioritas.

MEA merupakan sebuah upaya integrasi ekonomi melalui pembukaan dan pembentukan pasar yang lebih besar, mendorong peningkatan efisiensi dan daya saing, serta membuka peluang penyerapan tenaga kerja di kawasan ASEAN. Pembentukan MEA diyakini akan meningkatkan kesejahteran seluruh negara di kawasan ASEAN.

Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Nur Azizah mengungkapkan, pentingnya kesiapan masyarakat menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015. “Upaya bersama meningkatkan kesiapan Indonesia dalam menghadapi MEA 2015 harus dilakukan dengan serius. Karena MEA pada dasarnya bukanlah pilihan, melainkan sebuah keharusan,” ujar Nur.

Karena itu, kata dia, keberhasilan menghadapi AEC nanti tergantung bagaimana kesiapan dari negara dan perusahaan masing-masing. Nur memaparkan, kesiapan yang perlu dilakukan negara, antara lain menyiapkan infrastruktur, menyiapkan kebijakan-kebijakan yang memudahkan berinvestasi, memberikan servis yang baik pada investor asing dan mempermudah informasi.

Sementara tugas perusahaan, di antaranya bagaimana dapat meningkatkan kinerja, seperti manajemen yang baik, sehingga mampu bersaing dengan perusahaan dari negara di wilayah ASEAN lain. Menurut Nur, untuk membawa ASEAN berjaya di tingkat dunia, terdapat tiga pilar utama. Selain ASEAN Economy Community (AEC) atau MEA, juga ASEAN Social Culture Community (ASCC) dan ASEAN Political Security Community (APSC). “Ketiga pilar ini harus berjalan beriringan. Tidak boleh ada yang lebih unggul atau sebaliknya,” tandas Nur.

Related posts