Ajarkan Eco Driving, TNT Ingin Kurangi CO2

Kamis, 11/12/2014

NERACA

Jakarta - Perusahaan penyedia layanan pengiriman ekspress antar korporat TNT Indonesia melakukan pelatihan terhadap pengemudi-pengemudinya untuk berkendara dengan benar dan ramah lingkungan (eco driving dan smart driver). Managing Director TNT Indonesia Tomy Sofhian menyatakan bahwa kegiatan ini dilakukan sebagai upaya kami untuk mengurangi emisi gas karbondioksida (CO2).

"Sebagai perusahaan transportasi, kami bertanggungjawab terhadap emisi gas karbondioksida. Karena kami juga menyumbang emisi tersebut meskipun jumlahnya tidak terlalu besar. Maka dari itu, kegiatan ini perlu dilakukan paling tidak dari mulai yang kecil yaitu pengemudi-pengemudi kami dan nantinya bisa ikut menular terhadap lingkungannya," ungkap Tomy saat ditemui dalam pelatihan eco driving for smart driver di Jakarta, Rabu (10/12).

Tomy menjelaskan bahwa pelatihan ini akan memberikan penekanan kepada teknik-teknik berkendara dengan menggunakan prinsip-prinsip dasar defensive driving dan safety driving yang bertujuan agar dapat berkendara dengan lebih hemat, ramah lingkungan dan mengurangi angka kecelakaan.

"Kegiatan edukasi ini akan melibatkan 50 orang. Kami juga bekerjasama dengan Ditlantas Polda Metro Jaya dan Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI). Ini adalah bentuk upaya edukasi kepada pengendara sehingga mampu berpikir secara lebih pintar dan bijaksana sehingga dapat mengurangi polusi udara sekaligus menekan angka kecelakaan lalu lintas di tanah air," ujar Tomy Sofhian.

Ia menambahkan emisi gas buang kendaraan secara jangka panjang akan berkontribusi terhadap perubahan iklim yang nantinya akan semakin dirasakan. "Oleh karena itu kegiatan ini diharapkan dapat menjawab permasalahan tersebut dengan cara menjalankan kegiatan bisnis ramah lingkungan," ucapnya.

Bentuk konkret pelatihan eco driving, tambahnya, seperti penerapan pengoperasian kendaraan yakni kemudi kendaraan, sistem kopling, sistem pengereman, dan sistem suspensi. “Kami akan terus berkomitmen untuk mengedukasi dan mempromosikan perilaku berkendara dengan baik dan hemat bahan bakar,” kata Tommy.

TNT Indonesia telah berkerjasama dengan United Nations Environment Programme (UNEP) di awal 2006 dengan mencanangkan strategi dan aktifitas secara global untuk bekerjasama mengurangi C02 dan semakin dekat dengan target TNT untuk zero emision pada proses Pick Up Delivery (PUD). Pada 2010, UNEP juga mengadakan pelatihan manajemen dengan objektif clean fleet management dimana perwakilan TNT dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam dan Singapura diperkenalkan praktik sistem dengan mudah sehingga dapat memberikan manfaat maksimal dalam mengelola operasional armada dan meminimalkan konsumsi CO2.

Sementara itu, Praktisi Safety Driving Sony Susmana menyatakan bahwa setiap kendaraan mengeluarkan gas emisi karbondioksida tergantung dengan jenis mobilnya. "Semakin kesini, kendaraan yang mengeluarkan gas emisi karbondioksida semakin sedikit. Namun gas emisi tersebut tidak bisa dihilangkan karena masih adanya kandungan timbel dalam bahan bakar kendaraan," ungkap Sony.

Sony memaparkan bahwa pada umumnya kendaraan mengeluarkan gas emisi karbondioksida sampai 30%. Namun, kata dia, dengan memanfaatkan eco driving maka pengeluaran gas karbondioksida bisa semakin ditekan. "Kalau dia menerapkan eco driving maka bisa ditekan bahkan sampai ke angka 5%. Namun gas emisi tersebut tidak bisa dihilangkan," ujarnya.

Selain itu, Sony juga mengatakan eco driving juga bisa dilakukan oleh setiap pengemudi dengan menerapkan akselerasi yang halus, misalnya dalam hal pengereman jangan sampai hard brake lalu dalam menginjak pedal gas jangan tiba-tiba. “Jadi semua itu tergantung dari si pengemudi sehingga atitude yang akan menjadi peran utama dalam eco driving selain dari kondisi kendaraan mulai dari oli hingga bahan bakar yang digunakan,” ucapnya.

Hadir dalam acara, Wakil Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya, AKBP Bakharuddin menjelaskan bahwa setiap tahunnya ada 40.000 jiwa yang meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Hal ini tentunya menjadi perhatian agar masyarakat lebih hati-hati dalam mengendarakan kendaraan. “Setiap tahun itu ada korban meninggal karena kecelakaan sampai 40 ribu jiwa. Belum lagi yang kecelakaan berat sampai ringan dan kerugian-kerugian material lainnya. Selain itu, pengusaha juga harus memperhatikan pengemudi dan kendaraanya. Jangan sampai mobil yang tidak layak jalan akan tetapi tetap dipaksakan,” ucapnya.