Apexindo Batal Terbitkan Global Bonds

Kantungi Pinjaman dari Ocean Tune

Kamis, 11/12/2014

NERACA

Jakarta - Perusahaan sektor jasa minyak dan gas (migas), PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) akhirnya menunda menerbitkan surat utang dalam bentuk mata uang dollar AS tahun ini, lantaran tingginya suku bunga.

Wakil Direktur Utama PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) Erwin Sutanto membenarkan, perseroan tidak menerbitkan surat utang dalam bentuk mata uang AS (Global Bonds) karena tingginya suku bunga dan selanjutnya perseroan mencari opsi lain,”Dengan tingginya tingkat suku bunga di tahun ini membuat perseroan tidak jadi menerbitkan surat utang. Untuk itu perseroan mencari pendanaan dari opsi lain agar bisa mencukupi kebutuhan uang," ujarnya di Jakarta, Rabu (10/12).

Menurutnya, perseroan sudah mendapatkan sumber pendanaan dari yang lain dengan tingkat suku bunga yang lebih baik,”Kami telah mendapatkan pembiayaan untuk melakukan pembelian satu unit offshore rig dari lembaga pembiayaan asal Tiongkok, Ocean Tune sebesar US$ 175 juta. Suku bunga pembiayaan yang didapatkan kami sebesar Libor+5,75%," katanya.

Dia menerangkan, rencana penerbitan global bonds perseroan memiliki tingkat suku bunga maksimal 10%. Asal tahu saja, perseroan berniat menerbitkan global bonds sebesar US$ 200 juta melalui anak usahanya, Ocean Peak Holding B.V untuk pembelian offshore rig senilai US$ 250 juta.

Hingga Desember tahun ini, perseroa berhasil meraih kontrak sebesar US$ 614 juta. Sebagian besar kontrak perusahaan pengeboran ini berasal dari pengeboran lepas pantai (offshore), yaitu 80% dari total nilai kontrak.

Kata Direktur Utama Apexindo Pratama Duta, Zainal Abidinsyah Siregar, sebagian besar kontrak yang didapat perseroan berjangka panjang. Kontrak-kontrak pengeboran juga sebagian besar dilakukan di dalam negeri. “Kontrak yang akan selesai tahun depan sebesar US$ 150 juta – US$ 200 juta,” ungkap Zainal.

Hingga saat ini, perseroan memiliki tujuh rig offshore, delapan rig darat (onshore) dan satu floating production storage offloading (FPSO). Dari seluruh aset peralatan yang dimiliki perseroan, terdapat dua rig onshore yang belum memiliki kontrak. Zainal mengungkapkan, perseroan masih mencari kontrak pengeboran untuk kedua rig tersebut. “Tetapi nilai kontrak dari masing-masing rig itu tidak besar, sekitar US$ 5 juta,” ucapnya.

Sebelumnya, pada kuartal III tahun ini perseroan baru menuntaskan pembelian satu rig offshore terbaru senilai US$ 225 juta. Perseroan mendapatkan pembiayaan dari perusahaan pembiayaan (leasing) asal Tiongkok untuk pembelian rig tersebut.

Awalnya perseroan berencana membeli rig dengan menggunakan dana obligasi global (global bond) senilai US$ 200 juta. Namun, rencana tersebut urung terlaksana karena tawaran bunga dari leasing Tiongkok lebih menarik.“Leasing Tiongkok menawarkan bunga yang lebih rendah dan posesnya juga lebih cepat,” ungkap Zainal.

Perseroan telah menggunakan rig baru tersebut untuk melakukan pengeboran di site milik perusahaan minyak asal Malaysia, Petronas. Nilai kontrak pengeboran tersebut sebesar US$ 52 juta per tahun, dengan jangka waktu kontrak selama empat tahun. (bani)