Perlunya Badan Cyber Nasional

Hadapi Era 4G

Sabtu, 13/12/2014

Kejahatan memang tidak hanya terjadi didunia saja, kejahatan juga mengincar dan terjadi pada dunia maya, biasanya disebut dengan kejahatan cyber. Semakin tumbuhnya industri di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) membuat para pegiat dunia siber mendesak dibentuknya Badan Cyber Nasional untuk menjaga kedaulatan negara dari serangan virtual.

Kejahatan dalam dunia cyber ini biasanya dikenal dengan istilah serangan virtual. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) pun menyebut butuh perlindungan yang mumpuni untuk menjaga pertumbuhan TIK dan menjaga pengguna cloud sebagai solusi penyimpanan di masa depan dari dampak dunia cyber yang terus berkembang.

Layanan Cloud semakin marak dan murah, semakin tumbuhnya industri-industri Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), adanya globalisasi data dan informasi yang berujung pada era big data, ucap Dirjen Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo Bambang Heru Tjahyono.

Menurutnya, adanya aspek perlindungan data di instansi-instansi strategis, sangat penting. Misalnya di industri telekomunikasi, energi, penerbangan udara dan perbankan. Harus dimulai dari pola pikir kita bahwa kita perlu keamanan atau security. Dengan berkembangnya teknologi akses, network, aplikasi dan konten, terbentuklah cyber space. Dengan demikian kita juga harus melaksanakan Security di ranah cyber, ujarnya seraya menambahkan kepedulian terhadap perlindungan privacy pun tidak kalah pentingnya.

Bahkan, dijelaskan Bambang, saat ini sangat sulit membedakan, untuk siapa, oleh siapa, berpusat di mana, dan dikelola dengan cara bagaimana, suatu layanan internet disediakan. Semua konten yang berada di dunia maya dengan bebas bisa diakses melalui gadget pengguna. Tren menunjukkan bahwa layanan-layanan tersebut dapat diakses dengan murah. Dan tentu saja, motor penggerak utama globalisasi dunia siber ini adalah internet menurutnya.

Perlindungan terhadap serangan virtual ini memang sangat penting dan sangat dibutuhkan setiap pengguna internet khususnya. Apalagi Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara mengatakan, mulai 2015 rakyat Indonesia akan merasakan jaringan internet dengan teknologi 4G yang merupakan generasi keempat jaringan nirkabel pada mobile network, dengan begitu kejahatan cyber atau serangan virtual akan kerab terjadi

Kementerian Kominfo bersama operator selular di Indonesia telah melakukan persiapan untuk merealisasikan kehadiran jaringan internet 4G pada 2015, ucap Rudiantara. Menurutnya, komersialisasi penyelenggaraan jaringan internet mobile generasi keempat Long Term Evolution (4G-LTE) itu sendiri diharapkan bisa direalisasikan mulai pertengahan 2015 pada frekuensi 900 Mhz.

4G-LTE ini ada di 900 Mhz, 1.800 Mhz, dan 2,3 Mhz. Kita akan coba dengan 900 Mhz karena yang paling siap. Memang akhir 2014 ini kita akan coba launch tapi tidak akan bisa cepat untuk kemudian langsung dikomersialisasi, lihat dulu ekspektasi masyarakat, ujarnya.

Dia memperkirakan sampai pertengahan 2015, teknologi 4G-LTE sudah mulai ramai dan populer dimana operator telekomunikasi juga mulai membangun infrastrukturnya. Kementerian Kominfo akan memberikan izin operator seluler untuk memanfaatkan teknologi netral yang memungkinkan para operator menggelar dua teknologi jaringan dalam satu rentang frekuensi yang dimiliki oleh operator misalnya 3G dan 4G sekaligus, katanya.

Sebelumnya, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) memperkirakan butuh anggaran sekitar Rp270 triliun untuk membangun jaringan internet cepat secara bertahap hingga tahun 2019. Dana tersebut akan dipergunakan dalam pembangunan infrastruktur penunjang seperti pemasangan kabel serat optik, kabel bawah laut, radio akses, dan satelit.

Kalau misalkan kita bicara sekarang internet lelet, mudah-mudahan sampai dengan 2019 secara bertahap akan ditingkatkan kapasitas (cakupannya). Total dibutuhkan biaya atau dana kurang lebih Rp270 triliun, tambah Rudiantara.