Asosiasi Konsumen Indonesia

Oleh: Fauzi Aziz

Pemerhati Industri dan Perdagangan

Para produsen di Indonesia memiliki Asosiasi Produsen. Para gubernur/bupati/walikota juga berhimpun dalam asosiasi. Himpunan-himpunan profesi, paguyuban dan bahkan relawanpun saat ini tumbuh subur dan berkembang di Indonesia untuk menunjukkan bahwa mereka mempunyai tanggung jawab untuk membangun negeri ini sebagai bukti rasa cinta tanah air mereka.

Kekuatan mereka tidak boleh dinafikkan, bahkan harus diberikan ruang dan akses untuk memberikan kontribusi yang positif bagi kemajuan bangsanya. Melalui tulisan ini, penulis mengajak kepada seluruh masyarakat Indonesia tanpa kecuali untuk membuat "Asosiasi Konsumen Indonesia".

Misi utamanya adalah membangkitkan kesadaran 240 juta penduduk Indonesia yang notabene adalah para konsumen potensial yang akan mampu menjadi katalis berputarnya mesin produksi di dalam negeri. Asosiasi Konsumen Indonesia adalah mitra strategis para Asosiasi Produsen Indonesia.

Hubungan mereka bersifat "take and give" dalam rangka membangun kekuatan ekkonomi nasional di era gobalisasi dan perdagangan bebas. Pemerintah sebaiknya dapat memberikan dukungan untuk lahirnya asosiasi Konsumen ini karena peran mereka sangat penting dan sepenting adanya Asosiasi Produsen. Keduanya adalah penggerak perekonomian, dan keduanya harus ditempatkan di garda paling depan untuk menggerakkan ekonomi nasional, dan menghidupkan pasar dalam negeri agar tidak dibanjiri oleh barang impor.

Progam P3DN (Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri) yang dijalankan oleh pemerintah selama ini hanya berjalan dengan baik jika Asosiasi Konsumen dapat bekerjasama dengan pemerintah dan dunia usaha karena memang progam tersebut harus digerakkan oleh tiga poros penggerak ekonomi domestik tersebut. Asosiasi ini sifatnya voluntir, dimulai dari model-model semacam komunitas yang mampu membangun komunitasnya sendiri untuk menggunakan produk dalam negeri.

Kegiatan mereka harus diberikan akses oleh para produsen melihat pusat-pusat produksi, inovasi yang sedang tumbuh agar antara produsen dan konsumen saling bisa memahami kulturnya masing-masing. Intensitas hubungan mereka harus sedemikian rupa, dan pemerintah harus memberikan dukungannya secara seimbang.

Mewujudkan perekonomian domestik yang berdaya saing dan berkelanjutan selalu memerlukan hadirnya produsen dan konsumen yang loyal. Harmonisasi hubungan di antara keduanya nyaris sulit digugat oleh WTO karena mereka dinilai melakukan proteksi pasar dalam negeri. Paling tidak mereka akan sulit mendapatkan bukti material karena apa yang mereka lakukan adalah merupakan bagian dari membangun kedaulatan, ketahanan dan kemandirian ekonomi bangsanya.

WTO tidak bisa serta merta menuduh bahwa apa yang produsen dan konsumen lakukan bersama adalah sebuah praktek oligarki ekonomi untuk mengamankan pasar dalam negerinya karena kerjasama yang dibangun tidak bersifat mandatory. Mereka hanya membangun sebuah kesadaran nasional bersama bahwa ekonomi Indonesia hanya akan bisa maju dan tumbuh sebagai kekuatan ekonomi yang besar di kawasan jika para produsen dan konsumennya terbentuk semangat mutual benefit, dan mutual recognaize yang bersifat alami.

BERITA TERKAIT

Indomilk Bantu Sarana Inspirasi di 50 Sekolah - Ajak Anak Indonesia Berprestasi

Menggali potensi yang dimiliki para siswa berprestasi di Indonesia agar bisa unjuk gigi di mata dunia, PT Indolakto, anak perusahaan…

Aksi Nyata Indonesia Mendukung Palestina

  Oleh: Agung Widjayanto, Mahasiswa Jurusan Ilmu Sosial dan Politik Universitas Hasanuddin Konflik Israel – Palestina atau bagian dari konflik Arab -…

Sinergi Indonesia-Korea Tingkatkan Inovasi UKM

Sinergi Indonesia-Korea Tingkatkan Inovasi UKM NERACA Jakarta - Staf Ahli Menteri Koperasi dan UKM Bidang Ekonomi Makro Hasan Jauhari mengungkapkan…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Harbolnas Tembus Rp4 T, Daya Beli Kuat?

  Oleh: Bhima Yudhistira Adhinegara Peneliti INDEF               Data dari Panitia Harbolnas alias Hari Belanja Online Nasional mencatatkan transaksi…

Pemerintah Tidak Terbuka Dengan Utang - Oleh : Edy Mulyadi Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Ngutang lagi. Kali ini berjumlah US$4 miliar dalam bentuk penerbitan global bond. Ada tiga seri global bond yang diterbitkan, masing-masing bertenor…

Finansial BUMN Konstruksi Jebol

  Oleh: Bhima Yudhistira Adhinegara Peneliti INDEF   Ambisi membangun infrastruktur ternyata membutuhkan pengorbanan yang cukup besar. BUMN di sektor…