Menjauh dari Konsep Ki Hajar Dewantara

UN Di Evaluasi

Sabtu, 13/12/2014

UN dengan segala persoalannya dinilai banyak pengamat telah mencoreng wajah pendidikan nasional. Alih-alih sebagai parameter penilaian dan evaluasi untuk peningkatan kualitas pendidikan, UN justru telah membuat posisi pendidikan di negeri ini jauh mundur kebelakang

NERACA

Jika berbicara tentang lulus dan tidak lulus, Ujian Nasional (UN) jadi momok ketakutan siswa yang sangat tragis. Bagaimana tidak? alih-alih sebagai pompa yang menolong dan memberdayakan siswa sejak dini, UN justru hanyalah sekadar penyaring yang menghakimi dan menghukumi siswa di ujung. Lambat laun hakikat pendidikan menjadi sirna, jati diri bangsa pun kian terkikis perlahan.

Ya, diakui atau tidak, konsep UN dalam membawa bangsa go international sangat berlebihan. Acap kali konsep yang dinilai melupakan jati diri bangsa ini, jauh dari visi misi ala Ki Hajar Dewantara. UN lebih mengarah pada pencapaian angka kuantitatif, bukan pada pembentukan sikap dan perilaku.

Menyikapi kenyataan tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tengah mengevaluasi pelaksanaan ujian nasional untuk mencari mekanisme yang lebih baik dan memadai dalam menentukan kelulusan siswa.

"Saat ini sedang dicari cara agar siswa memiliki standar yang baik dan memadai, tapi pada sisi lain pelaksanaan ujian tersebut bukan proses yang menakutkan, membebani dan mengubah orientasi belajar," kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan di Jakarta belum lama ini

Anies mengatakan selama ini ketika siswa SMP dan SMA memasuki kelas tiga semua berubah karena semua aktivitas belajar hanya difokuskan pada persiapan ujian. Kalau hanya sekadar mendorong anak menjadi seorang yang belajar, maka cukup melatihnya bisa menyelesaikan soal ujian nasional dengan baik.

"Pertanyannya, kita ingin anak hanya terpaku pada pelajaran yang akan diuji pada ujian nasional atau menjadi pembelajar sejati? Padahal di masa depan kalau sudah memasuki dunia kerja tidak pernah ada yang bertanya berapa nilai yang diperoleh ketika ujian nasional,” tutur dia

Menurut dia, memang dalam pelaksanaan ujian nasional, nilai amat menentukan, tapi dalam perjalanan hidup dan kesuksesan karier banyak faktor lain yang jadi penentu. Karena itu, lanjut Anies, ini akan dievaluasi sebab yang paling penting adalah bagaimana mengubah orientasi belajar siswa tidak hanya terfokus untuk menjawab soal pada ujian nasional semata.

"Jadi aturan yang akan dibuat bertujuan untuk membentuk prilaku belajar yang baik dan tidak fokus hanya kepada ujian nasional," kata dia.

Sistem Pendidikan Finlandia

Dalam satu dekade terakhir, Finlandia, Eropa Utara tengah menjadi kiblat pendidikan dunia karena dinilai memiliki kualitas pendidikan terbaik di dunia. Banyak pihak menyebut sistem pendidikan di Finlandia mempesona dan hebat. Dan ternyata, Finlandia tidaklah memborbardir siswa dengan berbagai tes. Salah satu konsep yang dianutnya adalah menempatkan standardisasi pendidikan secara proporsional.

Nah, sistem pendidikan Finlandia ini ternyata sudah digagas dan ditulis oleh bapak pendidikan, Ki Hajar Dewantara, sejak tahun 1930. Konsep tersebut berbunyi, “Jangan menyeragamkan hal-hal yang tidak perlu atau tidak bisa diseragamkan. Perbedaan bakat dan keadaan hidup anak dan masyarakat yang satu dengan yang lain harus menjadi perhatian dan diakomodasi”. [Pusara, Januari 1940]

"Mereka sudah mempraktekannya sejak tahun 80-an dan kini sistem Pendidikan di Finlandia menjadi acuan semua negara di dunia. Ironis ketika negara lain menerapkan prinsip-prinsip pendidikan Ki Hadjar Dewantara yang ditulis puluhan tahun lalu dan sukses meningkatkan kinerja pendidikan mereka. Sementara kita sendiri semakin terasing dari pemikiran-pemikirannya,” ujar Anies

Dalam konsep yang diusung Ki Hajar Dewantara tersebut, pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai. Ada tujuan lebih besar dari sekadar memperoleh angka-angka dalam lembaran ijazah. Tidak sekadar melahirkan individu-individu manusia yang cerdas dan cakap secara intelektual, pendidikan jelas harus melahirkan individu-individu manusia yang mengedepankan nilai-nilai adiluhung. Pendidikan adalah jalan menuju kearifan.

"Namanya belajar tidak berorientasi pada UN. Kita tunggu saja hasil evaluasinya," kata dia.