Minim IPO, OJK Minta Dukungan Kadin

Rabu, 10/12/2014

NERACA

Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia sebagai lembaga yang menaungi pengusaha ikut mendorong anggotanya untuk melakukan pencatatan saham atau melantai di PT Bursa Efek Indonesia (BEI).

Deputi Komisioner Bidang Pengawasan Pasar Modal OJK, Noor Rachman mengatakan bahwa dari 1.000 perusahaan yang menjadi anggota Kadin, baru setengahnya yang listing,”Perusahaan yang masuk pasar modal hanya 500-an, hingga akhir November 2014 hanya ada 502 perusahaan yang tercatat di BEI atau jauh lebih rendah dibandingkan dengan Malaysia yang mencapai 910 emiten," kata dia di Jakarta, kemarin.

Dia menyebutkan, rasio kapitalisasi pasar Indonesia hanya 41% dari produk domestik bruto (PDB), padahal negara tetangga seperti Malaysia sudah mencapai 162% dan Filipina sudah 92%,”Rata-rata pertumbuhan IHSG sebesar 16 persen dalam delapan tahun terakhir, Kami sedang melakukan beberapa hal terkait pengembangan pasar modal,di antaranya market deepening,”paparnya.

Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Haryajid Ramelan pernah bilang, OJK bersama BEI harus duduk bareng untuk memecahkan permasalahan pelaksanaan Penawaran Umum Perdana Saham (Initial Public Offring/IPO),”Mereka harus duduk bersama, memetakan apa yang membuat kesulitan perusahaan untuk IPO,”tegasnya.

Menurut Haryajid, di negeri Tirai Bambu jumlah perusahaan yang IPO dalam setahunnya bisa mencapai ratusan. Hal ini berbeda jauh dengan Indonesia, yang hanya mampu puluhan perusahaan. Saat ini saja, baru 20 perusahaan yang berhasil IPO,”Di Cina itu bisa 100 lebih yang IPO, perizinannya enggak rumit," ucapnya.

Mengenai permasalahannya, Hariyajid, enggan menyebutkannya. Sebab, OJK dan BEI lebih mengetahuinya persoalan yang ada, apakah dari proses akuntan publik atau dari persyaratan lainnya. Sementara itu, mengenai penurunan target BEI untuk menjaring 35 perusahaan agar bisa IPO pada tahun depan. Hariyajid menilai, semua itu sudah mempertimbangkan kondisi makro ekonomi ke depan dan berkaca pada tahun ini yang hanya mampu membawa 20 perusahaan IPO dari target 30 perusahaan. (bani)