Pasar Modal Syariah Belum Serius Digarap

Rabu, 10/12/2014

NERACA

Jakarta – Sejatinya Indonesia sebagai negara dengan penduduk mayoritas muslim terbesar di dunia sudah lebih dahulu mengenal dan mempraktikan ekonomi syariah, baik itu perbankan syariah, asuransi syariah dan termasuk pasar modal syariah. Namun faktanya, perkembangan ekonomi syariah saat ini tidak pernah maju dan begitu juga penetrasinya di lapangan.

Hal inipun diakui langsung Direktur Pemeriksaan dan Penyidikan Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Sardjito, bahwa ada yang salah dalam pengembangan pasar modal syariah dalam satu dekade yang belum tumbuh pesat. Hal ini dikarenakan, ketidakseriusan dalam mengamati dan meningkatkan pemahaman pasar modal syariah menjadi alasan tidak berkembangnya pasar modal syariah, ketimbang dengan negara Malaysia,”Kenapa syariah tidak maju, kita tidak pernah serius berlatih mengamati dan meningkatkan pasar modal syariah,”ujarnya di Jakarta, Selasa (9/12).

Menurut dia, pasar modal syariah tidak boleh hanya dibicarakan. Akan tetapi harus ada kriteria yang lebih kogkret seperti pasar modal syariah lebih aman dari pasar modal yang konvensional dan mampu bersaing,”Sudah saatnya, kita tidak bisa lagi hanya menjadi pasar,”tandasnya.

Sardjito mengatakan, perlu ada regulasi yang mendorong agar pasar modal syariah berkembang dengan bagus.Oleh karena itu, guna meningkatkan daya saing pasar modal syariah diperlukan roadmap atau panduan tentang pasar modal syariah ke depannya dan perlu adanya revitalisasi kebangkitan semangat untuk pengembangan pasar modal syariah.

Kemudian yang tidak kalah penting dalam pengembangan pasar modal syariah, bagaimana mengemas produk investasi menjadi lebih menarik dengan yield lebih tinggi, aman dan tidak ada lagi perbedaan soal mainstream,”Pada dasarnya investor lebih melihat produk investasi pada keuntungan yang didapat, keamanan dan risiko yang dihadapi,”ujarnya.

Sementara ekonom syariah Adiwarman A. Karim mengatakan, pasar modal syariah di Indonesia bakal berkembang pesat dan peluang itu ada. Selain itu, dia menyakini pada 2015, Indonesia akan menjadi trensenter atau kiblatnya pasar modal syariah di dunia,”Ini momentum tepat, Indonesia akan menjadi kiblat pasar modal syariah di dunia,” ujarnya.

Bahkan dia menegaskan, pertumbuhan keuangan konvensional yang direm pada 2015 jadi kesempatan yang harus diambil oleh keuangan syariah. Presiden Direktur Karim Business Consulting ini mengungkapkan, tahun 2015 adalah kesempatan bagi keuangan syariah dikala konvensional harus mengerem. Mengutip pernyataan OJK, perbankan konvensional boleh tumbuh sekitar 15%,”Konvesional nggakboleh tumbuh banyak-banyak tahun depan. Untuk syariah, boleh lebih dari 15% bahkan sampai 30%,'' kata dia.

Dari analisis yang dilakukan Karim Consulting, lanjutnya, pembiayaan bank syariah akan ikut booming di 2015 meski pembiayaan properti tapak masih lesu. Hunian susun ber-AJB bisa diekspansi oleh bank syariah secara selektif. Menurut dia, bank Syariah sebaiknya menghindari pembiayaan dengan menggunakan US$ dan pembiayaan korporasi karena harga minyak akan ditekan sehingga dolar AS menguat,”Pembiayaan sektor menengah bisa tetap ekspansi secara selektif. Dengan naiknya suku bunga The Fed tahun depan, BI Rate diprediksi akan naik jadi 8% dari saat ini 7,75%,”tuturnya.

Jika BI Rate naik ke 8%, maka suku bunga bank juga naik dan NPL/NPF pun akan ikut naik.Pembiayaan mikro tetap bisa ekspansi dengan tingkat risiko yang telah terstandardisasi. Untuk konsumer, dia menekankan hanya membiayai yang dalam mata uang rupiah saja,”Saya tidak menyarankan pembiayaan pengadaan kapal laut yang 2015 akan didorong, kecuali jika pembiayaannya rupiah,”tegasnya.

Kemudian menyinggung soal sukuk korporasi di pasar modal yang tidak berjalan, kata Adiwarman, hal ini disebabkan lantaran tidak adanya aturan jelas yang mengatur sukuk korporasi,”Sukuk korporasi berhenti. Salah satu sebabnya sukuk korporasi karena aturannya gak ada,"ungkapnya.

Dia menuturkan, saat ini sudah ada rancangan peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tentang korporasi dan diharapkan pada tahun 2015 banyak sukuk korporasi yang terbit dan tentunya tinggal menunggu waktu kedepannya. Indonesia, menurutnya, diklaim menjadi negara kedua untuk penerbitan sukuk negara di pasar modal syariah dengan nilai dollar AS. bani