Impack Tawarkan Saham IPO Rp 3.800

Rencanakan Go Public

Rabu, 10/12/2014

NERACA

Jakarta - Manajemen PT Impack Pratama Industri Tbk, produsen dan distributor bahan bangunan dan barang plastik menetapkan harga saham perdana sebesar Rp 3.800 per saham dari harga saham perdana yang ditawarkan Rp 3.200-Rp 3.900 per saham.

Perseroan juga menurunkan jumlah saham yang dilepas ke publik dalam rangka penawaran saham perdana/initial public offering (IPO) dari Rp 193,35 juta saham menjadi Rp 150,05 juta saham. Jadi total dana yang akan diraup dari hasil IPO sekitar Rp 570,19 miliar,”Jumlahnya 150,05 juta saham. Harga saham yang ditawarkan Rp 3.800 per saham,”kata Direktur Utama PT Ciptadana Securities, Ferry Budiman Tanja di Jakarta, kemarin.

Perseroan akan menggunakan dana hasil IPO antara lain untuk pembayaran sebagian pembelian tanah berstatus hak guna bangunan seluas enam hektar di Delta Silicon VIII, Lippo Cikarang dan sisanya modal kerja perseroan.

Untuk melakukan IPO, perseroan telah menunjuk PT Ciptadana Securities sebagai penjamin pelaksana emisi efek. Sebelum IPO ini, pemegang saham perseroan antara lain PT Harimas Tunggal Perkasa sebesar 48,85 persen, PT Tunggal Investama Jaya sebesar 48,85 persen, dan Haryanto Tjiptodiharjo sebesar 2,3 persen. Jadwal IPO antara lain masa penawaran awal pada 21 November-1 Desember 2014, pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 8 Desember 2014, dan masa penawaran umum pada 10-11 Desember 2014.

Sedangkan masa penjatahan pada 15 Desember 2014, pengembalian uang pemesanan dan distribusi saham secara elektronik pada 16 Desember 2014, dan pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 17 Desember 2014.

Tahun ini target 30 calon emiten BEI dipastikan tidak tercapai dan hal ini menjadi tantangan bagi industri pasar modal kedepan. Pasalnya, besarnya potensi pasar modal dalam negeri belum didukung dengan peningkatan jumlah investor lokal, produk investasi dan termasuk jumlah perusahaan yang listing di pasar modal.

Bila di bandingkan di China dengan bursa Shanghainya, jumlah emiten Indonesia yang saat ini terdapat 500-an emiten, masin tertinggal jauh dibandingkan dengan jumlah emiten di bursa Shanghai telah mencapai 900-an. Bahkan disana, perusahaan BUMN harus ngantri untuk bisa mencatatkan saham di bursa Shanghai. Bahkan, tahun depan ada sebanyak 300 BUMN yang waiting list atau masuk daftar tunggu untuk masuk bursa. “Di 2015 ada 500 perusahaan yang waiting list masuk bursa Shanghai. 300 di antaranya merupakan BUMN,”kata Ketua Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Haryajid Ramelan.

Diketahui, sudah ada 20 perusahaan yang berhasil mencatatkan saham perdana tahun ini di antaranya, PT Bank Panin Syariah Tbk (PNBS), PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA), PT Asuransi Mitra Maparya Tbk (ASMI), PT Capitol Nusantara Indonesia Tbk (CANI), PT Bali Towerindo Sentra Tbk (BALI), PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON), PT Graha Layar Prima Tbk (BLTZ), PT Intermedia Capital Tbk (MDIA), dan PT Eka Sari Lorena Transport Tbk (LRNA). (bani)