RI Diperkirakan Jadi Importir Minyak Terbesar

NERACA

Jakarta - Saat ini terdapat lima negara pengimpor minyak terbesar diantaranya Amerika Serikat, Tiongkok, Jepang, India dan Korea, yang menyedot setengah dari minyak yang diperdagangkan. Namun begitu, Asosiasi Migas Indonesia (Indonesian Petroleum Association/IPA) memperkirakan bahwa nantinya Indonesia akan berada dijajaran negara-negara pengimpor minyak terbesar jika tidak melakukan tindakan di industri minyak.

Presiden IPA terpilih yaitu Craig Stewart berharap agar pemerintah Jokowi bisa melakukan terobosan-terobosan kebijakan yang akan meningkatkan investasi hulu minyak dan gas di Indonesia. Dalam situasi di mana cadangan terbukti dan produksi minyak semakin menurun, ditambah dengan fakta tingkat penemuan cadangan minyak baru yang lebih rendah dari jumlah produksi, Indonesia diprediksi menjadi importir minyak terbesar dunia di 2019.

Pihaknya pun akan mendorong anggota dari IPA untuk meningkatkan kegiatan eksplorasi. “IPA akan mendorong anggotanya untuk meningkatkan partisipasinya dalam kegiatan eksplorasi dan pengembangan lapangan,” kata Craig di Jakarta, Selasa (9/12). Ia juga meminta kepada pemerintah untuk memberikan insentif baru untuk memantapkan dan mempercepat kegiatan eksplorasi di Indonesia. Pasalnya, menyediakan investasi maha besar di sektor hulu migas untuk jangka lima tahun ke depan bukanlah tugas yang mudah.

Maka dari itu, kata dia, pemerintah wajib membuat daya tarik kepada investor yang baik dan kompeten di bidangnya dengan menciptakan iklim investasi yang baik, dan proses persetujuan proyek yang efisien. “Meningkatkan pasokan energi migas, melalui eksplorasi dan optimisasi produksi, juga emerlukan kejelasan, kepastian, dan konsistensi peraturan, serta skema fiskal yang menarik,” imbuhnya.

Senada dengan Craig, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Migas Nasional (Apermigas) Effendi Siradjuddin juga memperkirakan bila pemerintah tidak segera membenahi pengelolaan migas secara komprehensif, pada 2015 Indonesia diperkirakan menjadi negara pengimpor minyak terbesar di dunia. Data menyebutkan, produksi puncak minyak dunia dewasa ini berada di kisaran 95 juta barel per hari (bph). Dari jumlah itu, sekitar separuhnya (45 juta bph) dikonsumsi sendiri oleh negara-negara produsen. “Artinya, hanya sekitar 45-50 juta bph yang diperdagangkan di pasar dunia untuk diimpor oleh negara-negara termasuk Indonesia,” ujarnya.

Effendi menuturkan, pada 2014 Indonesia telah mengimpor BBM sebanyak 850 ribu bph, dan perkiraan impor minyak itu berlanjut ke 2015 yang akan mencapai 900 ribu bph hingga 1 juta bph. Artinya, Indonesia akan berada di urutan ke-14 dunia sebagai negara pengimpor minyak. Untuk menjamin keberlangsungan ekonomi di dalam negeri, Indonesia harus berkompetisi dengan 200-an negara pengimpor minyak untuk mendapatkan minyak mentah dan BBM. Menurut dia, supply and demand minyak dalam perdagangan internasional dipastikan sangat dipengaruhi oleh konflik tak berujung di kawasan Timur Tengah.

Selain itu, tutur Effendi, dengan asumsi terjadi peningkatan konsumsi BBM di dalam negeri, di mana 70 persennya untuk transportasi, subsidi BBM pada 2015 diperkirakan membengkak dari alokasi yang telah dipatok pemerintah dan DPR sebesar Rp 276 triliun. Menurut Effendi, kondisi di atas sangat kritis, bahkan bisa dikualifikasikan sebagai membahayakan keamanan dan kesatuan nasional. Sebab, tanpa mengimpor, ketersediaan pasokan BBM Indonesia praktis hanya untuk 2-3 minggu.

“Hal itu tidak terlepas dari fakta bahwa kemampuan produksi minyak Indonesia saat ini hanya di kisaran 800 ribu bph, yang notabene setengahnya diproduksi perusahaan asing,” ungkap Effendi.

Aspermigas mengharapkan, pemerintah membuat kebijakan-kebijakan bertahap yang akan memberikan peran lebih besar kepada perusahaan migas nasional, sehingga lebih banyak nilai tambah migas nasional dimanfaatkan untuk keperluan dalam negeri.

Sekertaris SKK Migas Gde Pradnyana menyatakan bahwa Indonesia diprediksi bisa mengimpor Bahan Bakar Minyak (BBM) hingga 1,5 juta barel per hari pada 2025. Hal itu terjadi bila jumlah konsumsi BBM tidak diimbangi dengan produksi. “Kalau tidak ada perubahan tahun 2025 impor 1,5 juta barel minyak,” katanya.

Dia menuturkan, per tahun konsumsi BBM naik 8 persen. Sementara produksinya justru menurun sampai 15%. Di sisi lain, jumlah subsidi juga terus membengkak. Lanjutnya, sektor transportasi merupakan pemakai BBM paling besar di mana memakan porsi 92% dan sisanya untuk lain-lain. “Angkutan umum hanya 3%. Yang menjadi target utama harusnya angkutan umum. Itu kendaraan pribadi roda 4 perhatikan betul,” lanjut dia.

Maka dari pengelolaan BBM mesti segera diperbaiki. Jika tidak, akan berdampak pertumbuhan ekonomi nasional. “Karena angka yang semakin lama semakin mengerikan, dalam waktu 4-5 tahun subsidi BBM akan meningkat 3 kali lipat. Berdampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi secara langsung,” tutup dia.

Related posts