EBA BTN Tawarkan Bunga Maksimal 10,25%

Rabu, 10/12/2014

NERACA

Jakarta - PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) bersama PT Bank Tabungan Negara (BTN) menerbitkan Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset (KIK EBA) PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) ketujuh dengan nilai total Rp 1,5 triliun. Hal ini dilakukan dalam rangka sekuritisasi asset perseroan.

Produk yang memiliki kode perdagangan KIK EBA DBTN05 ini memiliki underlying aset sebanyak 33.173 rekening tagihan kredit perumahan rakyat (KPR) dan diperdagangkan dalam dua seri, seri A1 senilai Rp 723,5 miliar dengan bunga 10% dan seri A2 senilai Rp 647,5 miliar senilai dengan bunga 10,25%,”Kedua seri ini mendapat peringkat AAA dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) karena pemilihan portofolio KPR dan pembentukan transaksi yang kuat," kata Direktur Utama PT Sarana Multigriya Finansial Raharjo Adisusanto di Jakarta, Selasa (9/12).

Raharjo mengatakan dengan semakin berkembangnya efek berbasis KPR, pembiayaan sekunder perumahan maupun sektor riil perumahan Indonesia dapat meningkat. "Dengan demikian maturity mismatch dalam pembiayaan KPR bisa teratasi," kata dia.

Selama ini, perbankan di Tanah Air memperoleh sumber pendanaan untuk pembiayana rumah dari dana jangka pendek. Padhal idealnya, KPR dibiayai dengan sumber pembiayaan jangka panjang. "Pihak perbankan akan memperoleh likuiditas dana jangka panjang dari pasar modal sebagai salah satu sumber pendanaan selain Dana Pihak Ketiga (DPK)," kata dia.

Dengan penerbitan EBA ini, total transaksi sekuritisasi yang telah difasilitasi SMF mencapai Rp 5,45 triliun. Dalam penerbitan kali ini, bertindak sebagai arranger dari pelaksanaan emisi ini adalah PT Sarana Multigriya Finansial, sementara bertindak sebagai manajer investasi PT Danareksa Investment Management‎ dan sebagai bank kustodian PT Bank Mandiri Tbk. Adapun Danareksa Sekuritas, BCA Sekuritas dan CIMB Securities ditunjuk sebagai agen penjualan.

Direktur Utama Bank BTN Maryono, menambahkan bahwa KIK EBA cukup digemari oleh investor karena produk investasi yang aman dan menguntungkan dengan agunan aset KPR yang nilainya terus naik."Berkembangnya efek berbasis KPR ini merupakan hal positif bagi perkembangan pembiayaan sekunder perumahan maupun sektor riil perumahan Indonesia, yang juga merupakan kontribusi kita dalam mendukung program pemerintah dalam penyediaan perumahan yang layak dan terjangkau bagi masyarakat," katanya.

Bagi bank BTN, menurut Maroyono, selain mitigasi risiko "maturity mismatch", sekuritisasi dilakukan sebagai bentuk nyata pendalaman bidang keuangan disamping mengantisipasi Basel III di Indonesia. Sementara itu, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Ito Warsito mengharapkan bahwa penerbitan produk KIK EBA dapat dilakukan oleh bank-bank lain sehingga dapat memancing perdagangan di pasar sekunder."Di pasar sekunder cukup sepi, namun di pasar perdananya cukup marak. Kenapa? Karena kebanyakan investor menahan di pasar sekunder, mereka membeli dan hanya disimpan. Harus semakin banyak KIK EBA yang diterbitkan sehingga memancing perdagangan,”ujarnya. (kam)