Berusaha Menjadi Kaya Agar Bisa Memberi

Oleh: Prof Dr H Imam Suprayogo, Dosen UIN Malang

Rabu, 10/12/2014
Ada saja orang berpandangan bahwa hidup ini tidak perlu memiliki kekayaan yang melimpah agar di akherat nanti tidak menjadi beban untuk mempertanggung jawabkannya. Ia ingin hidup sederhana, agar hidupnya menjadi tenang. Kekayaan dianggapnya akan menggoda dan atau menggangu ibadah dalam kehidupannya sehari-hari.

Pandangan tersebut boleh-boleh saja sebagai pilihan hidupnya. Akan tetapi sebenarnya Islam tidak melarang seseorang menjadi kaya. Asalkan kekayaannya itu diperoleh dengan cara yang dibenarkan oleh Islam. Selain itu, dari hasil kekayaannya sebagian diberikan kepada orang lain sebagai haknya, misalnya melalui zakat, infaq, shadaqoh, dan seterusnya.

Beberapa hari yang lalu, saya diundang oleh STAIN Bangka Belitung untuk memberi ceramah kepada para dosen terkait dengan pengembangan perguruan tinggi itu ke depan. Dalam kesempatan datang ke Babel itu, saya ketemu dengan seorang pengusaha tambak. Umurnya sudah cukup tua, sekitar 75 tahun. Akan tetapi penampilannya masih tegar dan sehat, kemana-mana masih sanggup mengemudikan mobilnya sendiri.

Sekarang ini, ia mengaku telah menikmati hidupnya. Semua anaknya sudah mandiri, bekerja di Jakartas. Sejak muda dia memiliki cita-cita, bahwa agar kelak hidupnya menjadi orang kaya dan bisa memberi pertolongan kepada orang lain. Ternyata cita-citanya itu sekarang ini berhasil. Dia memiliki sekitar 500 (lima ratus) hektar tambak. Sehari-hari, ia mempekerjakan tidak kurang dari 150 orang. Ia merasa bangga, oleh karena dengan usahanya itu bisa memberi upah di atas UMR. Para pekerjanya dianggap cukup sejahtera.

Lewat pertemuan itu, ada beberapa hal yang saya tanyakan. Di antaranya misalnya, sudah berusia lanjut itu, dan hidup hanya dengan isterinya, keuntungan dari usahanya itu dibelanjakan untuk apa. Ternyata, jawabannya cukup- mengagetkan. Dia mengatakan bahwa, sejak usia muda, ia berusaha bekerja keras agar menjadi orang kaya. Dan, dengan kekayaannya itu, ia berkeinginan memenuhi kesenangannya, ialah agar bisa menolong orang lain.

Ia mengaku merasa bahagia tatkala bisa memberi atau melapangkan beban orang lain yang mengalami kesulitan. Keinginannya itu sekarang ini, ternyata dirasakan berhasil. Ia mengelola sekitar 500 hektar tambak. Lebih dari itu, sekarang ini sekalipun sudah tua, berumur 75 tahun, masih mampu mengemudikan mobilnya sendiri, dan banyak organisasi sosial kemasyarakatan yang mempercayakan kepada dirinya menjadi ketuanya.

Selain itu, saya juga menanyakan kemana hasil usaha tambaknya dijual. Jawabannya juga mengagetkan lagi, bahwa udang, hasil panennya itu dieksport ke Jepang dan atau ke Amerika Serikat. Dalam pikiran saya, orang tua ini benar-benar hebat. Sudah seumur itu masih bersemangat bekerja dan memiliki jaringan usaha yang sedemikian luas. Dia juga menerangkan bahwa, bibit udang yang ditanam di tambaknya juga didatangkan dari Amerika Serikat.

Agar lebih praktis dan murah, untuk memenuhi kebutuhan bibit udang, pengusaha tambak ini membeli induk, beberapa ekor udang yang siap bertelur. Jika dikurskan dengan rupiah, harga seekor induk udang sebesar Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta) rupiah. Menurut keterangannya, seekor udang bisa menghasilkan bibit, sekali bertelor, sekitar 20 juta ekor. Hanya saja menurut pengakuannya, biasanya sekali bertelor, induk udang sudah tidak bisa lagi diharapkan menghasilkan bibit kembali dengan kualitas yang sama. Oleh karena itu, pada periode berikutnya, ia harus mengimpor lagi induk yang baru.

Dalam kesempatan itu, saya juga menanyakan tentang penilaiannya terhadap generasi mendatang. Ia menjawab dengan tegas bahwa sebenarnya Indonesia ini adalah negeri yang kaya raya. Namun sayangnya, belum berhasil mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang diperlukan oleh masyarakat sekarang ini. Sebagai contoh sederhana, bahwa untuk memenuhi kebutuhan bibit udang saja masih harus mengimpoir ke Amerika Serikat. Para ilmuwan Indonesia, menurut penilaiannya, sekedar menciptakan induk udang yang berkualitas sebagaimana yang didatangkan dari Amerika Serikat ternyata belum mampu.

Menurut penilaiannya, bahwa bangsa ini tertinggal, oleh karena belum mampu pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Maka, untuk mengejarnya tidak ada jalan lain, kecuali berusaha keras untuk melahirkan para peneliti yang mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi itu. Sampai kapan pun manakala bangsa ini tertinggal di bidang ilmu dan teknologinya, maka akan terus menerus ketinggalan dari bangsa maju lainnhya. Namun, tatkala melihat bangsa ini merasa sedih, oleh karena sekedar mendapatkan induk udang saja harus import, tetapi ia juga bersyukur, bahwa dalam hidupnya telah berhasil meraih cita-citanya, yaitu menjadi orang yang berkecukupan hingga bisa memberi kepada orang lain. Cita-citanya menjadi kaya dan berhasil bisa memberi. Wallahu a'lam. (uin-malang.ac.id)