BTN Nilai Properti di Depok Terancam "Bubble"

Terlalu Mahal

Selasa, 09/12/2014

NERACA

Jakarta - Saat ini harga rumah di Depok terlalu tinggi. Karena semuanya termasuk kategori properti komersial yang harganya berada di kisaran Rp300 juta sampai miliaran rupiah. "Rumah yang dibeli denganFLPP tidak sampai 10 unit. Itu pun berada di kawasan Bogor,” kata Bambang Prasetyo, Kepala Cabang PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk WilayahDepok, di Jakarta, Jumat (5/12), pekan lalu.

Menurut dia, tingginya harga harga rumah di Depok mengancam adanya bubble property lantaranharga rumah yang ada sudah tidak wajar. "Bayangkan rumah tipe 36 dengan luas tanah kecil harganya bisa sampai Rp500 juta. Saya tidak yakin bisa laku. Tapi ternyata ada pembelinya,” jelas Bambang.

Dia menilai, meski ada ancaman bubble, namun potensi bisnis properti di Depok sangat prospektif. Terlebih jika pembangunan Jalan Tol Depok-Antasari direalisasikan. "Bisnis properti di Tangerang juga ikut terkerek karena konsumen yang gagal dapat properti di Depok akhirnya mengalihkan pilihannya ke Tangerang,” paparnya.

Melihat kondisi tersebut, BTN Cabang Depok pun menaikkan target bisnis penyaluran KPR. Di tahun depan, perseroan menargetkan penyaluran KPR minimal sebesar Rp300 miliar. Sementara untuk tahun ini, BTN Cabang Depok sudah mengucurkan KPR lebih dari Rp100 miliar.

Bambang telah mengutarakan sudah ada beberapa proyek perumahan yang bekerjasama dengan BTN Cabang Depok untuk transaksi jual beli rumah pada 2015. "Perumahan itu antara lain Grand Depok City tahap III,” paparnya.

BTN Cabang Depok, lanjut Bambang, juga melakukan ekspansi bisnis dengan melelang unit rumah yang mengalami kredit macet. "Lelang tersebut rencananya dilakukan pada tanggal 16 Desember 2014 mendatang,” ujar Bambang.Sementara Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch, Ali Tranghanda menambahkan, melihat besarnya potensi bisnis properti di Depok harus disikapi Bank Indonesia dengan sedikit melonggarkan aturan loan to value atau LTV. [kam]