BEI Siapkan Sanksi Berat Berupa Delisting - Aturan Free Float Saham

NERACA

Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mendesak 40 emiten untuk segera meningkatkan jumlah saham yang beredar di publik (free float) pada 2015. BEI akan memberikan sanksi kepada emiten yang tidak memenuhi free float minimal 7,5% pada Januari 2016.

Direktur Utama BEI Ito Warsito mengatakan, emiten-emiten yang belum memenuhi persyaratan free float diharapkan dapat melakukan aksi penambahan saham sepanjang tahun depan. Hal ini untuk meningkatkan likuiditas saham maupun kualitas perusahaan yang tercatat di bursa,”Akan ada sanksi tegas dari bursa, jika peraturan ini belum dipenuhi terhitung 30 Januari 2016. Sanksi yang diberikan bisa berupa denda, suspensi, bahkan delisting,” kata Ito di Bali belum lama ini.

Otoritas bursa merilis keputusan direksi BEI Nomor Kep-00001/BEI/01-2014 pada 20 Januari 2014 perihal perubahan peraturan Nomor I-A tentang pencatatan saham dan efek bersifat ekuitas selain saham yang diterbitkan oleh perusahaan tercatat. Peraturan tersebut wajib dipenuhi dalam jangka waktu 24 bulan sejak ditetapkan pada 30 Januari 2014.

Kebijakan ini mengharuskan jumlah saham perusahaan yang beredar di publik minimal 7,5 persen, tergantung pada nilai ekuitas perseroan. Adapun kebijakan berlaku bagi perusahaan yang akan melakukan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham maupun emiten yang sudah go public.

Tercatat sejumlah emiten besar belum memenuhi ketentuan jumlah saham beredar minimal sebesar 7,5%. Misalnya, PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) yang memiliki free float 1,82% dan PT Holcim Indonesia Tbk (SMCB) sebesar 4,32%. Baru-baru ini, BEI meminta J Trust Co Ltd menambah jumlah free float PT Bank Mutiara Tbk (BCIC), jika ingin tetap mempertahankan status perusahaan terbuka. Salah satu cara yang direkomendasikan untuk menambah kepemilikan saham publik di antaranya melalui mekanisme penawaran umum terbatas saham (rights issue).

Hal itu menyusul pelepasan 99,99% saham Bank Mutiara ke perusahaan investasi asal Jepang tersebut. Direktur Penilaian Perusahaan BEI Hoesen pernah mengatakan, pelepasan saham ke J Trust diapresiasi sebagai upaya memperbaiki kinerja perusahaan. Namun, J Trust harus mengikuti ketentuan bursa agar bisa terus menjadi perusahaan tercatat,”Kami menunggu kelanjutan Bank Mutiara di BEI. Jika mau terus tercatat, mereka harus mengikuti peraturan free float,” kata Hoesen.

Selain ketentuan free float, bursa juga mengeluarkan aturan baru terkait jumlah minimal pemegang saham, struktur komisaris dan direktur independen, serta kewajiban memiliki komite audit, sekretaris perusahaan, dan unit internal audit. Pada 2015, BEI juga akan menaikkan biaya pencatatan tahunan atau annual listing fee serta biaya pencatatan perdana (listing fee). Biaya pencatatan tahunan dinaikkan menjadi Rp 50 – 250 juta dari sebelumnya Rp 5 – 100 juta, sedangkan pencatatan perdana menjadi maksimal Rp 250 juta dari sebelumnya Rp 150 juta. (bani)

BERITA TERKAIT

BEI Serius Bidik IPO Perusahaan Kecil - Siapkan Papan Akselesari

NERACA Solo – Pacu pertumbuhan likuiditas di pasar modal dan juga memperkuat basis investor ritel, kedepan PT Bursa Efek Indonesia…

BEI "Surati" Asuransi Tugu Pratama - Jual Saham Rp 573,9 Miliar

NERACA Jakarta – Di balik penjualan saham PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU) oleh salah satu pemegang sahamnya, merupakan…

BI Siapkan Rekening Simpanan untuk Devisa Ekspor

    NERACA Jakarta - Bank Indonesia (BI) menyiapkan rekening simpanan khusus untuk memudahkan pengelolaan devisa hasil ekspor menyusul kebijakan memperkuat…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Pefindo Beri Peringkat AA- Chandra Asri

NERACA Jakarta - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menegaskan rating untuk PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) pada AA-. Prospek…

Bakrieland Raup Untung Rp 3,1 Triliun

NERACA Jakarta – Emiten properti, PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) mencatat laba bersih sebesar Rp 3,1 triliun hingga kuartal III-2018…

Pefindo Beri Peringkat A Semen Baturaja

PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menegaskan peringkat idA PT Semen Baturaja Tbk (SMBR), serta surat utang jangka menengah atau Medium…