Kebijakan The Fed Bakal Hambat Ekonomi

NERACA

Jakarta – Bank Central Amerika Serikat (The Fed) berencana menaikan suku bunga acuan pada tahun 2015 nanti, kebijakan itu diproyeksikan dapat mempengaruhi ekonomi Indonesia dalam mencapai target pertumbuhan.

Pengamat ekonomi Fauzi Ihsan menilai, langkah the Fed diprediksi bakal mempersulit Pemerintah dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,8 persen. Selain itu, memasuki semester II dampak BBM sudah mulai menghilang, dikarenakan adanya pembangunan infrastruktur dari dana penghematan subsidi.

"Melihat pertumbuhan ekonomi 2014 pada angka 5,1 persen, maka 2015 di proyeksi 5,2 persen. Kita juga harus ingat karena pertumbuhan ekonomi sulit 5,5 persen karena adanya prediksi Bank Central Amerika akan menaikan suku bunganya, di semester kedua 2015," katannya di Jakarta, Senin (8/12).

Akibat kenaikan suku bunga tersebut, lanjut dia, bisa membuat Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuannya. Hal ini harus dilakukan, agar tidak ada pelarian modal dari dalam ke luar. Pada hal saat ini dengan suku bunga acuan (BI Rate) di angka 7,75 persen saja sudah sangat memberatkan ekonomi nasional terutama tidak ada ruang sektor riil dalam mendapatkan pembiayaan kredit. "Itu akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi Indonesia. Tapi, target pertumbuhan ekonomi pemerintah bisa tercapai kalau bank sentral Amerika tidak menaikkan suku bunganya," tandasnya.

Pada kesempayan berbeda, ekonom yang juga guru besar ekonomi UGM Sri Adiningsih, kenaikan suku bunga bank menjadi beban terhadap laju pertumbuhan ekonomi Indonesia. BI Rate sekarang sudah dilevel 7,75 persen jika the fed menaikan suku bunga otomatis akan menaikan kembali BI Rate. ”Rezim BI Rate tinggi bisa mengancam pertumbuhan ekonomi nasional,” katanya.

Dia menuturkan, BI Rate di level 7,75% menjadi khawatiran bagi pertumbuhan ekonomi nasional tidak berjalan baik, mengingat suku bunga acuan yang tinggi menjadikan sektor riil akan terasa sulit untuk ekspansi terhadap produksinya karena suku bunga tinggi tidak mengambil kredit maupun pinjaman dari bank. “Kalau kondisi rupiah terus menguat dan inflasi yang menurun, diharapkan pada bulan selanjutnya dapat menurunkan BI Rate,” imbuhnya.

Karena harapan utama dari pertumbuhan ekonomi nasional tidak lepas dari sektor rill untuk peningkatan produksi, jadi jika produksinya bisa berjalan maksimal pertumbuhan ekonomi nasional lambat laun dapat membaik. “Jika suku bunga acuannya rendah kan sektor riil berani meminjam untuk ekspansi atau peningkatan produksi, jika masih tinggi biasanya wait and see sampai dengan kondisi stabil dan aman,” paparnya.

Namun begitu, Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonegoro menyebut bahwa pertumbuhan ekonomi yang dipatok 5,8 persen dalam APBN 2015 akan tercapai.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomiini dapat dicapai atas kebijakan menaikkan harga BBM subsidi yang dilakukan pada tahun ini. Pasalnya, dengan naiknya harga BBM subsidi akan menghemat anggaran mencapai Rp100-Rp140 triliun yang akan digunakan untuk pembangunan infrastruktur.

"Kenaikan fuel subsidi akan bisa digunakan untuk infrastruktur dan sektor produktif lainnya, sehingga angka pertumbuhan ekonomi di tahun depan bisa 5,8 persen dengan melihat formulasi dari kasus ini. Kita akan lihatanggaranyang baru," kata Bambang.

Bambang menegaskan, pada prinsipnya pemerintah akan gunakan anggaran untuk penuhi visi dan misi yang sudah dicanangkan dan mulai dilakukan pada tahun depan. "Kita juga selalu berpikir positif dengan makin banyaknyaforeign direct investment.Kita tetap optimistis pertumbuhan ekonomi tumbuh secara sustainble," sebutnya

Sebagaimana diketahui,akibat melemahnya pertumbuhan investasi dan ekspor. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2015.Diperkirakan hanya mencapai 5,2 persen,sedikit di bawah proyeksi Bank Dunia sebesar 5,6 persen.

Sementara pertumbuhan ekonomi tahun 2014,diperkirakan mencapai 5,1 persen,lebih rendah dari 5,2 persen. Tidak sesuai dari yang sebelumnya diperkirakan. Prospek ini mencerminkan kinerja investasi tetap dan laporan data perdagangan yang tidak menggembirakan,dan berlanjutnya perlambatan kredit. [agus]

BERITA TERKAIT

CEPA Jangan Batasi Kebijakan Pemerintah Kelola Ekonomi

    NERACA   Jakarta - Perjanjian Kemitraan Komprehensif yang sedang dibahas antara Republik Indonesia dan Uni Eropa, yang kerap…

KEBIJAKAN VALIDASI IMEI

Sejumlah telepon selular dengan berbagai merek dipasarkan di Bandung Electronic Centre, Bandung, Jawa Barat, Selasa (20/2). Kementerian Perindustrian bersama Kementerian…

Matahari Bakal Rights Issue di Kuartal Pertama - Danai Pengembangan Bisnis

NERACA Jakarta – Dalam rangka mendanai ekspansi bisnisnya, PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) mendapat persetujuan dari pemegang saham untuk…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Utang Luar Negeri Indonesia Naik 10,1%

      NERACA   Jakarta - Jumlah utang luar negeri Indonesia di akhir 2017 meningkat 10,1 persen (tahun ke…

Muliaman Hadad Ditunjuk jadi Dubes RI untuk Swiss

    NERACA   Jakarta-Mantan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman Darmansyah Hadad resmi ditunjuk menjadi Duta Besar…

Tiga Tahun Jokowi Diklaim Berhasil Turunkan Inflasi

      NERACA   Padang - Pejabat Kantor Staf Presiden (KSP) memaparkan dalam tiga tahun perjalanan pemerintahan Presiden Jokowi…