Aksi Ambil Untung Hantui Laju IHSG

Selasa, 09/12/2014

NERACA

Jakarta – Mengakhiri perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) Senin awal pekan ini, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup terkoreksi 43,980 poin (0,85%) ke level 5.144,014. Sementara Indeks LQ45 terkoreksi 9,499 poin (1,06%) ke level 884,278. Menguat indeks BEI yang sudah terjadi sepekan lalu, rupanya dimanfaatkan investor untuk melakukan aksi ambil untung.

Analis HD Capital, Yuganur Wijanarko mengatakan bahwa kondisi harga saham di BEI yang sudah masuk dalam area jenuh beli atau "overbought" mendorong pelaku pasar melakukan aksi jual sehingga IHSG mengalami koreksi.

Di sisi lain, lanjut dia, kurs rupiah yang bergerak melemah cukup dalam terhadap dolar AS membuat sebagian pelaku pasar saham khawatir terhadap kondisi ekonomi domestik,”Melemahnya rupiah merupakan salah satu faktor yang patut diwaspadai, karena bisa memicu kelanjutan koreksi bagi IHSG," katanya di Jakarta, Senin (8/12).

Sementara itu, analis Asjaya Indosurya Securities William Suryawijaya mengatakan bahwa keluarnya sebagian dana asing dari pasar saham domestik menjadi salah satu sentimen negatif bagi laju indeks BEI. Namun, keluarnya dana asing yang terjadi masih dalam batasan normal di tengah tekanan nilai tukar rupiah serta berkurangnya cadangan devisa Indonesia,”Koreksi yang terjadi pada IHSG BEI juga masih dalam kondisi normal, potensi kenaikan masih terlihat dalam jangka menengah," katanya.

Berikutnya, indeks BEI Selasa masih dalam tren negatif seiring berlanjutnya aksi ambil untung investor. Awal pekan ini, indeks BEI terus meluncur sampai ke titik terendahnya di 5.124. Sudah masuk zona merah, IHSG kesulitan balik arah. Aksi jual juga dilakukan investor asing. Transaksi investor asing hingga sore tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 391,63 miliar di seluruh pasar.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 224.400 kali dengan volume 7,118 miliar lembar saham senilai Rp 5,237 triliun. Sebanyak 81 saham naik, 226 turun, dan 74 saham stagnan. Bursa-bursa regional masih bergerak variatif dengan kecenderungan menguat. Hanya pasar saham Singapura yang melemah tipis.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Indo Kordsa (BRAM) naik Rp 1.100 ke Rp 6.700, Mayora (MYOR) naik Rp 725 ke Rp 23.400, Elang Mahkota (ETMK) naik Rp 500 ke Rp 7.200, dan Gudang Garam (GGRM) naik Rp 300 ke Rp 59.875. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 1.325 ke Rp 68.575, Lionmesh (LMSH) turun Rp 1.000 ke Rp 6.000, Merck (MERK) turun Rp 1.000 ke Rp 160.000, dan Apexindo (APEX) turun Rp 550 ke Rp 2.

Perdagangan sesi pertama, IHSG ditutup anjlok 41,482 poin (0,80%) ke level 5.146,512. Sementara Indeks LQ45 jatuh 8,104 poin (0,91%) ke level 885,673. Saham-saham unggulan jadi sasaran aksi ambil untung. Saham-saham ini memang sudah naik tinggi sejak perdagangan pekan lalu.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 120.978 kali dengan volume 4,148 miliar lembar saham senilai Rp 2,584 triliun. Sebanyak 66 saham naik, 216 turun, dan 59 saham stagnan. Bursa-bursa regional siang masih bergerak variatif dengan kecenderungan menguat. Hanya pasar saham Singapura yang melemah tipis.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Mayora (MYOR) naik Rp 525 ke Rp 23.200, Gudang Garam (GGRM) naik Rp 225 ke Rp 59.800, Blue Bird (BIRD) naik Rp 200 ke Rp 7.750, dan Indosat (ISAT) naik Rp 105 ke Rp 4.125. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 1.150 ke Rp 68.750, Apexindo (APEX) turun Rp 550 ke Rp 2.850, Unilever (UNVR) turun Rp 500 ke Rp 31.175, dan Astra Agro (AALI) turun Rp 400 ke Rp 24.000.

Diawal perdagangan, IHSG dibuka menguat sebesar 9,89 poin atau 0,19% menjadi 5.197,89 sementara indeks 45 saham unggulan (LQ45) menguat sebesar 2,49 poin (0,28%) ke level 896,27,”Munculnya optimisme dari pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi tahun depan menjadi salah satu katalis bagi IHSG BEI menguat. Pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi, tahun depan dapat tumbuh pada kisaran 5,8%,” kata Head of Research Valbury Asia Securities, Alfiansyah.

Pertumbuhan ekonomi pada 2015 itu, lanjut dia, didorong oleh dampak positif yang akan timbul dari kebijakan realokasi anggaran subsidi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi ke jenis pengeluaran yang lebih produktif,”Realokasi subsidi BBM itu nantinya akan menjadi stimulus fiskal tahun 2015. Selain itu, pemerintah juga akan merevisi asumsi harga minyak dunia dalam APBN 2015. Sebelumnya pemerintah mematok minyak dunia di level US$ 105, maka dalam revisi APBN yang baru harga asumsinya akan diubah menjadi US$ 90 per barel," paparnya.

Analis Samuel Sekuritas, Tiesha Narandha Putri menambahkan, penguatan indeks BEI seiring dengan laju bursa saham Asia pagi ini yang bergerak menguat meski tipis di tengah harga minyak dan logam yang kembali menurun,”Harga minyak jenis brent kembali melemah sebesar 0,8% setelah Amerika Serikat dikabarkan menambah jumlah 'drill rigs'. Sementara harga nikel melemah 1,9% dan timah sebesar 1%," katanya.

Dirinya memproyeksikan bahwa IHSG BEI akan bergerak terbatas mengikuti pergerakan bursa saham di kawasan Asia dengan saham-saham komoditas berpotensi melemah seiring pelemahan harga minyak dan logam. Tercatat bursa regional di antaranya indeks Bursa Hang Seng dibuka menguat 76,57 poin (0,32%) ke 24.079,21, indeks Nikkei naik 10,58 poin (0,06%) ke 17.931,03, dan Straits Times menguat 2,83 poin (0,09%) ke posisi 3.327,27. (bani)